Mohon tunggu...
John Laba
John Laba Mohon Tunggu...

Saya seorang pendidik yang memiliki keprihatinan istimewa dalam dunia pendidikan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hati Penuh Syukur

27 April 2019   15:24 Diperbarui: 27 April 2019   15:26 0 3 1 Mohon Tunggu...


Ada seorang sahabat barusan mengirim pesan singkat kepada saya. Setelah beberapa saat bercakap-cakap, ia bertanya kepadaku: "Romo John, apakah anda sudah bersyukur kepada Tuhan pada hari ini?" Saya menjawabnya: "Ya, tentu saya bersyukur sejak saat membuka mata saya di pagi hari yang indah, dan menaikan doa dan pujian dalam ibadat pagi serta merayakan Ekaristi kudus bersama orang-orang muda di komunitas". "Wah, semuanya lengkap ya Romo", jawabnya, singkat. Ini adalah sebagian dialog kami.

Kadang-kadang Tuhan selalu menghadirkan orang-orang tertentu untuk menyadarkan kita tentang pentingnya kita mengucap syukur di dalam hidup ini. Saya mengingat Khalil Gibran, beliau pernah berkata: "Bangunlah pada pagi hari dengan sayap hati mengepak, dan bersyukurlah atas datangnya satu lembar hari yang penuh kasih." Bersyukur haruslah menjadi kultur kita.

Hidup adalah sebuah syukur yang berkelanjutan. Hidup tanpa rasa syukur bukanlah hidup yang sebenarnya. Kita bersyukur karena memiliki orang tua. Orang tua itu kita tidak pernah memilihnya. Tuhanlah yang memberikannya kepada kita.

Kalau boleh memilih, pasti banyak anak yang tidak akan memilih ayah dan ibunya saat ini menjadi orang tuanya. Kita harus bersyukur memiliki ayah dan ibu saat ini. Para orang tua, bersyukurlah memiliki anak-anak seperti sekarang ini. Anak-anak adalah pemberian Tuhan yang diterima apa adanya dan dikasihi dengan sepenuh hati.

Kita bersyukur karena memiliki para pendidik yang memanusiakan kita dengan caranya masing-masing. Kita bersyukur karena memiliki teman, kawan, sahabat dan siapapun yang ada di sekitar kita. Apakah mereka baik atau tidak baik dengan kita selalu ada kata syukur dalam hati kita. Sebuah taman bunga dikatakan indah bukan karena memiliki sejenis bunga tetapi memiliki aneka bunga dengan warna dan warni tersendiri.

Tuhan Yesus adalah Anak Allah. Ia menyatakan rasa syukur sebagai Anak kepada Bapa di surga: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu." (Mt 11:25-26).

Yesus bersyukur karena para pilihan-Nya itu adalah orang-orang kecil yang mengikuti-Nya dari dekat. Mereka inilah yang berkenan  di hati Bapa, yang membawa misi Gereja hingga saat ini. Merekalah para rasul sebagai soko guru Gereja Katolik. Raja Daud, bapa leluhur Yesus juga menyatakan rasa syukurnya kepada Yahwe: "Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya." (Mzm 118:1).

Kita perlu dan harus membangun kultur rasa syukur di dalam hidup kita. Mengapa? Pada saat ini rasanya sangat sulit untuk mengatakan 'Terima kasih' atau 'Thank You' atau 'Grazie' atau 'Gracias' atau 'Obrigado'. Kata-kata ungkapan rasa syukur ini hanya tersimpan aman dalam hati dan pikiran saja, dan sulit untuk diungkapkan. Apakah ada yang salah dengan pembinaan manusiawi di dalam keluarga dan lingkungan sekolah? Apakah para orang tua dan pendidik sudah lalai dalam memberi informasi pendidikan nilai kepada anak-anak saat ini?

Saya mengakhiri pemikiran ini dengan mengutip Leo Tolstoy (1828-1910), seorang Novelis dari Rusia. Ia pernah berkata: "Bila kamu berbuat kebaikan, bersyukurlah karena kamu memiliki kesempatan untuk melakukannya." Pada hari ini kita belajar untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan sesama di sekitar kita.

PJ-SDB