Mohon tunggu...
hamdhani prasetyo
hamdhani prasetyo Mohon Tunggu... Seorang yang peduli akan kisah

Sarjana Komunikasi Universitas Bung Karno Jakarta dan Desain Komunikasi Visual - Akademi Teknologi Grafika Trisakti, pernah menjadi Aktivis AMANAD UBK - Jarkot (2003), pernah bekerja sebagai Staff Shooting TVC di DRTV Innovation Store (2008), pernah bekerja di Indopos dan Tangerangonline (2009), Ketua Harian FRPBA (Forum Penanggulangan Bencana Alam), pernah menjadi aktivis Greenpeace Indonesia - 1st Action Boat Team (2007), Koordinator Nasional Posraya Indonesia, pernah bekerja sebagai web content Kepresidenan RI (Joko Widodo), kini berkecimpung di dunia asuransi sebagai Agency Development PT Asuransi Sinarmas (2011-2014) dan PT Sompo Insurance Indonesia (2015-sekarang), serta pemerhati sejarah Islam dan Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Corona, Berdiam dan Bersabarlah

15 Maret 2020   01:35 Diperbarui: 15 Maret 2020   01:41 65 1 0 Mohon Tunggu...

Ketika suatu wabah muncul di Wuhan 31 Desember 2019 dunia gempar, ini bukanlah MERS atau SARS, hingga akhirnya bernama Corona dengan nama awal 2019-nCoV hingga nama resmi menjadi Covid-19. Indonesia, medio Januari - Februari 2020, masyarakat kita diawal menarasikan bahwa "kesalahan" rakyat China selama inilah yang menyebabkan wabah tersebut. 

Berbondong-bondong melalui jagad maya mengalir pemberitaan yang mendeskreditkan China dengan beragam argumen, baik ilmiah, opini hingga guyonan. Ditengah tatapan, cemoohan, tertawanya warga dunia apa yang kita lihat, China hanya diam dan sibuk bekerja. Mengisolasi dan menutup akses, mensterilkan kota hingga membangun rumah sakit darurat dalam tempo cepat bekejaran dengan waktu seiring semakin banyaknya korban berjatuhan. Dunia menonton, ada memuji dan ada sebagian yang membuat candaan sebagus apakah "made in China" kali ini. 

Dari sini ada banyak rakyat berbagai negara yang "ngarep" terhadap China, mulai hancurnya ekonomi China sehingga dominasi berkurang sampai argumen soal politik pemerintahan China yang akan hancur. Dari narasi politik sosial budaya dan beragam teori konspirasi sampai akhirnya narasi agama pun terbawa.

Kini, dalam sekejap tatapan itu berubah, seakan mengejar balik. Titik balik 31 Januari 2020, AS menyatakan Covid-19 masuk wilayahnya. Tak lama berselang 2 Februari 2020, Filipina menyatakan 1 orang meninggal terjangkit wabah tersebut di negaranya. Sehari selepasnya Jepang mengkarantina kapal pesiar Diamond Princess yang masuk wilayahnya, ada indikasi wabah tersebut terjangkit diantara 3.700 penumpangnya. 

Bagai air bah, kejadian demi kejadian berlanjut, menjangkiti Korea Selatan, Malaysia, Singapura hingga Eropa. Indonesia sepertinya tenang, namun puncaknya saat jemaah umroh kita dipulangkan secara tiba-tiba. Kerajaan Saudi menyatakan negara menutup sementara kegiatan Umroh, sangat berat rasanya bagi umat muslim. 

Kakbah disterilisasi, thawaf hanya dilakukan segelintir mukimin jauh dari kata ramai seperti halnya biasanya nyaris kosong. Sisi lain, Vatikan dan Roma pun menyatakan hal yang sama terkait ziarah, bahkan Italia mengalami kejadian luar biasa dimana jumlah korban terbanyak menyusul Korea Selatan.

Hati kecil berkata, ini bukan persoalan sederhana karena makan Sup Kelelawar lalu terjangkit. Jauh lebih luas, sampai-sampai tidak memilih dia makan apa, pekerjaannya apa, orang baik atau jahatkah, beragama apa, rakyat biasakah atau menteri presidenkah. Covid-19 menembus semua lini, sungguh ciptaan Allah yang luar biasa. 

Bagaimana tidak, tentara dan senjata manusia paling canggih belum bisa mengendalikannya. Sisi utama, para pakar kedokteran dan Ilmuwan seluruh dunia bekerja keras mencari tandingannya. Pemerintah masing-masing negara kini sibuk mencegah, memgisolir diri, menutup perbatasannya hingga menghentikan seluruh aktivitas kemasyarakatan, lockdown.

Berkaca dari kejadian demi kejadian, terbaru Pemerintah Indonesia menyatakan sebagai bencana nasional tak lama setelah Menteri Kabinet dinyatakan Positif Corona, muncul pemgumuman bahwa sekolah diliburkan selama dua pekan, kantor swasta dan pemerintahan memberlakukan work from home. 

Kita yang sedang atau masih bermalam minggu ria kala mendengar kabar seakan berhenti sejenak, menelaah, merenungi dan berdoa. Ini bukan sekedar cobaan bagi satu dua bangsa, ini ujian umat manusia, bumi kita rasanya menjadi asing dan seakan memusuhi manusia sang khalifah. Perlahan menyadari bahwa silaturahmi itu menyenangkan daripada terisolasi. 

Hal baru pun muncul, bersalaman terhenti, batuk dan bersin di tempat umum banyak yang menatap, sepakbola, F1, MotoGP berhenti tayang. Tidak ada yang menjamin tidak terjangkit, tidak ada pula yang menjamin kita tetap sehat selain Allah.

Rasullah Muhammad memberitahu kita melalui Aisyah RA, bersabarlah, "Kematian karena wabah adalah surga bagi tiap muslim (yang meninggal karenanya)" (HR Bukhari). Dan jangan pula bepergian, tetaplah di negerinya, "Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya" (HR Muslim) yang kini Alhamdulillah diterapkan dalam kedokteran modern melalui proses karantina. 

Menghadapi hal tersebut, Rasulullah SAW meminta umatnya untuk sabar sambil berharap pertolongan dari Allah SWT. Wabah sejatinya tidak pernah diharapkan muncul hingga mengkibatkan kekhawatiran secara global. Para pencari dan penikmat dunia yang banyak orang mengejar dan mencintainya kini dipaksa diam. 

Namun, selalu ada alasan dan hikmah yang terkandung dari setiap peristiwa yang terjadi. Semoga kita lebih memaknai untuk siapa diamnya hidup kita.

Gunung Sindur, 15/03

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x