Mohon tunggu...
hamdhani prasetyo
hamdhani prasetyo Mohon Tunggu... Seorang yang peduli akan kisah

Sarjana Komunikasi Universitas Bung Karno Jakarta dan Desain Komunikasi Visual - Akademi Teknologi Grafika Trisakti, pernah menjadi Aktivis AMANAD UBK - Jarkot (2003), pernah bekerja sebagai Staff Shooting TVC di DRTV Innovation Store (2008), pernah bekerja di Indopos dan Tangerangonline (2009), Ketua Harian FRPBA (Forum Penanggulangan Bencana Alam), pernah menjadi aktivis Greenpeace Indonesia - 1st Action Boat Team (2007), Koordinator Nasional Posraya Indonesia, pernah bekerja sebagai web content Kepresidenan RI (Joko Widodo), kini berkecimpung di dunia asuransi sebagai Agency Development PT Asuransi Sinarmas (2011-2014) dan PT Sompo Insurance Indonesia (2015-sekarang), serta pemerhati sejarah Islam dan Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan

Dua Fatimah dalam Kehidupan Rasulullah

24 Juni 2019   23:04 Diperbarui: 24 Juni 2019   23:05 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ada dua sosok Fatimah dalam masa hidup Rasulullah Muhammad SAW yang kedua amat dicintainya. Dialah Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib paman Rasulullah yang turut memeluk islam dan ikut menderita dalam tiga tahun pengucilan bani Hasim di Makkah. Kedua ialah Fatimah Az Zahra, putri bungsu Rasulullah SAW yang lahir 5 tahun setelah masa kenabian dari rahim Ummul Mukminin Khadijah.

Dalam mengasuh Rasulullah sejak sepeninggal Kakeknya Abdul Muthallib, Fatimah binti Asad telah menganggap Rasulullah seperti anaknya sendiri. Riwayat mengatakan usia Rasulullah SAW diasuh pada usia 8 tahun hingga jelang menikah dengan Ummmul Mukminin Khadijah pada usia 25 tahun. Rentang 17 tahun mengasuh, banyak keberkahan bagi Fatimah binti Asad, dia amat mengetahui kala Rasulullah berupaya mandiri menggembala kambing orang Makkah, berjualan di seputaran Kakbah hingga dijuluki Al Amin, ikut kafilah dagang Quraisy ke negeri Syam bersama Abu Thalib, hingga mengetahui detail Rasulullah beranjak dewasa dan menikah.

Fatimah binti Asad bahkan memberikan makan dan baju lebih baik dari apa yang dipakainya sendiri. Setiap makan bersama Rasulullah, makanan yang dihidangkan rasanya tidak cepat habis dan selalu cukup untuk sekeluarga. Dialah juga ibu kandung sepupu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib yang kelak akan menikah dengan Fatimah Az Zahra, nama yang sama dengan ibunya.

Ketika tahun 10 kenabian, Rasulullah SAW mengalami Amul Huzn yang berarti tahun kesedihan -- setelah meninggalnya Abu Thalib dan Khadijah RA -- Fatimah binti Asad tampil menjadi sosok pengganti keduanya. Ia begitu mendukung dan membantu setiap perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Fatimah binti Asad membela Rasulullah SAW dari tekanan kaum Kafir Quraisy, hingga akhirnya berhasil hijrah ke Madinah.  Ia pun turut berhijrah ke kota suci kedua bagi umat Muslim itu bersama kaum Muslimin lainnya.

Dedikasi dan pengorbanan Fatimah dalam membela agama Allah SWT sungguh sangat ternilai. Ia sungguh wanita yang agung. Rasulullah SAW begitu menghormati sosok Fatimah, bibi, sekaligus besannya. Dalam sebuah hadis yang dikeluarkan Ibnu Abi Ashim dari dari Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abu Thalib dikisahkan bawah ketika Fathimah wafat, Rasulullah SAW mengkafaninya dengan bajunya.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, ''Sepeninggal Abu Thalib, saya belum pernah menemukan orang yang lebih baik padaku selain Fathimah bin Asad.''  Bahkan, Rasulullah SAW juga sampai turun ke liang lahat untuk kemudian membaringkan jasad wanita yang suci itu. Sehingga, terpancarlah cahaya Illahi dalam kuburannya dengan semerbak harum roh sucinya dan curahan rahmat Sang Pencipta.

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Wahai Rasulullah, kami belum pernah melihat engkau berbuat kepada seseorang seperti yang engkau lakukan kepada wanita ini (Fatimah binti Asad).'' Lalu Rasulullah menjawab, ''Sesungguhnya, tidak ada orang yang lebih baik padaku setelah wafatnya Abu Thalib, selain dia.''

Rasul pun berdoa di sebelah jenazahnya, "Wahai ibu yang kusayangi, semoga Allah menjagamu. Engkau sering kali lapar untuk dapat memberiku makan dengan baik.

Engkau memberi ku makan dan baju yang bagus yang engkau menolak untuk memberikannya kepada diri mu sendiri. Allah pasti sangat mencintai apa yang engkau lakukan. Niat mu pasti ditujukan untuk mendapatkan keridhaan Allah dan menyenangkan Allah. Engkau pasti bahagia di hari akhir". Jazakumullah khairan katsiran.