Mohon tunggu...
hamdhani prasetyo
hamdhani prasetyo Mohon Tunggu... Seorang yang peduli akan kisah

Sarjana Komunikasi Universitas Bung Karno Jakarta dan Desain Komunikasi Visual - Akademi Teknologi Grafika Trisakti, pernah menjadi Aktivis AMANAD UBK - Jarkot (2003), pernah bekerja sebagai Staff Shooting TVC di DRTV Innovation Store (2008), pernah bekerja di Indopos dan Tangerangonline (2009), Ketua Harian FRPBA (Forum Penanggulangan Bencana Alam), pernah menjadi aktivis Greenpeace Indonesia - 1st Action Boat Team (2007), Koordinator Nasional Posraya Indonesia, pernah bekerja sebagai web content Kepresidenan RI (Joko Widodo), kini berkecimpung di dunia asuransi sebagai Agency Development PT Asuransi Sinarmas (2011-2014) dan PT Sompo Insurance Indonesia (2015-sekarang), serta pemerhati sejarah Islam dan Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Saat Persija "Benar" Mengaum

12 Desember 2018   10:21 Diperbarui: 12 Desember 2018   10:34 344 0 0 Mohon Tunggu...

Setelah penantian 17 tahun, akhirnya gelar juara itu tiba. Walaupun saya tidak terlalu intens mengikuti perkembangan, namun ada rasa bahagia. Banyak tangis, keringat hingga darah guna memajukan Sepakbola Indonesia. Persoalan antar Supporter Klub, kisruh PSSI, persoalan pendanaan hingga janji-janji stadion sebagai markas begitu mewarnai.

Generasi supporter silih berganti, tak tergerus jaman bahkan semakin masif terlebih didukung perkembangan teknologi. Masih teringat, 7 Oktober 2001 silam, berstatus pelajar, saya bersama puluhan ribu supporter memadati Stadion Senayan. Persija vs PSM dalam laga final, panas dan keras. Saya berada di salah satu tribun yang "panas", karena persis di sebelahnya, hanya dibatasi teralis besi, supporter PSM berada.

Dari pemberitaan, Juku Eja supporter PSM bak air bah memasuki Jakarta menaiki kapal Fery langsung dari Makassar Kota asalnya. Tanjung Priok riuh ramai para supporter.

Pertandingan ini begitu menyedot perhatian. PSM skuad yang kuat kala itu sekaligus Juara tahun sebelumnya, bertabur pemain bintang seperti Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Miro Baldo Bento dan Hendro Kartiko sang penjaga gawang legendaris. 

Bagaimana Persija, kala itu bahkan tidak diprediksi menang dan bukan skuad penuh bintang. Hanya Bambang Pamungkas harapan kami. Melihat hal tersebut, wajib rasanya bagi PSM mempertahankan gelar juara.

Pertandingan nyata membuktikan kualitas, bekal tuan rumah dan yel-yel The Jakmania membakar semangat pemain Persija. Tak butuh waktu lama, Persija membuka dengan goal Imran Nahumamury pada 3 menit awal, tidak cukup dengan itu, Bambang Pamungkas menambahkan kembali 2 gol tambahan. 

Babak pertama memang diatas angin, babak kedua PSM langsung menggempur, 2 gol disumbangkan Bento dan Kurniawan. Persija main aman sepertinya, hingga akhir kedudukan 3-2. Persija menang!!!

Pada hari itu, gelar juara Liga 1 pun diraih Persija. Sontak euforia kebahagiaan memuncak. The Jakmania merayakan dengan gempita, sadar ini adalah momentum yang perlu diingat, direkam, dirasa sendiri. Wajar, tahun itu tiada smartphone, berita sepakbola hanya didapat dari koran-koran dan televisi. 

Tabloid Bola, Ole, GO begitu mengena. Apalagi bonus poster para pemain. Namun tabloid itu sudah gugur. Saya sendiri kala itu tak punya foto, twitter, fb, ig bahkan sms pun tak bisa, hahaha....

Tahun kompetisi 2018 ini dan tahun-tahun belakangan saya sudah tidak menonton, sudah lupa sepertinya....hehe. Tulisan ini terjadi spontan, kala melihat Bambang Pamungkas aka BePe ikut mengangkat piala. Saya pikir Liga 1 2001 ternyata oalah... sebegitu kupernya saya di Sepakbola Indonesia kini. 

Seperti de Javu, pada masa awal ikut Jakmania Ketum Ferry dengan BePe ikon Persija. Kini 2018 sama pula Ketumnya dengan BePe sebagai pemain sekaligus legenda disamping Simic.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN