Mohon tunggu...
Hamdali Anton
Hamdali Anton Mohon Tunggu... English Teacher

Saya adalah seorang guru bahasa Inggris biasa di kota Samarinda, Kalimantan Timur. | Blog : http://bisnis-online-sukses.com/ || http://english-itu-fun.blogspot.com/ || Instagram Custom Case : https://www.instagram.com/salisagadget/ || http://fingerstyleguitar1.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Obat yang Sebenarnya adalah...

15 November 2019   14:59 Diperbarui: 15 November 2019   15:07 136 6 1 Mohon Tunggu...
Obat yang Sebenarnya adalah...
Sumber Gambar : hellosehat.com

Obat, satu kata yang sangat akrab dengan saya waktu kecil. Kenapa sangat akrab? Karena saat usia belia, saya sering sakit dan sangat kurus.

Ayah membawa saya ke dokter. Selain 'suntik dulu sebelum pulang' (yang bikin saya jengkel), juga di-'sangu'-in obat plus vitamin. 

"Supaya jadi gemuk," kata sang dokter yang saya sudah lupa siapa namanya. 

Sayangnya, saya tak juga gemuk-gemuk. 

Orangtua menyangka saya cacingan. Beberapa obat cacing sudah saya minum. Tak mempan juga. Saya tetap kurus karing ('karing', kata dalam bahasa banjar; dalam bahasa Indonesia, artinya 'kering').

"Sepertinya anak bapak nurun dari bapak atau ibu. Kurus saat muda, nanti kalau sudah dewasa, baru badannya berkembang," kata sang dokter pada akhir diagnosa, setelah berkali-kali bolak-balik saya diperiksa beliau. 

Pengalaman waktu kecil yang akrab dengan obat-obatan membuat saya sedapat mungkin menjaga kesehatan diri sewaktu dewasa dan hidup mandiri. Sedapat mungkin jangan sampai sakit, apalagi sampai menderita sakit parah atau kecelakaan, sehingga harus dirawat inap di rumah sakit. 

Puji Tuhan, sampai sekarang, saya belum pernah sakit parah. Paling sebatas flu, batuk, pusing kepala (kalau pusing karena tongpes alias kantong kempes, itu termasuk penyakit atau bukan ya ^_^?).

Saya bersikeras tidak minum obat, kecuali kalau sudah berhari-hari, lebih dari tiga hari, baru terpaksa saya minum obat. Kalau bisa saya tahan, ya tidak minum obat. 

"Pencerahan" dari Seorang "Murid" 

Kalau mempunyai murid les dari tingkat SD, SMP, atau SMA, itu sih sudah biasa. Namun kalau mendapat murid dari kalangan profesional, tentu saja sangat langka, apalagi "murid" yang berprofesi sebagai dokter, wah, bisa dihitung jari. Selama hidup, saya pernah mengajar dua dokter beberapa tahun yang lalu. 

Yang pertama, sebut saja Pak Dokter Handoko, dokter spesialis anak di Samarinda. Saya mengajar beliau tentang pengoperasian komputer, karena beliau harus mengajar soal kesehatan anak dan yang berkaitan dengan itu di akademi keperawatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x