Halimi Zuhdy
Halimi Zuhdy

Penulis puisi berbahasa Indonesia dan Arab (sudah 7 Antologi yang ditulis), Penulis buku Pembelajaran Bahasa Arab, Pendidikan Bahasa Arab, Lingkungan Bahasa, dan lain sebagainya. serta terpanggil untuk menjadi Da'i dan mengaji diberbagai pondok di Malang. sekarang menjadi Dosen Tetap UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan pembina mata kuliah Sastra Arab Modern, Folklor Arab, Teori Sastra, dan Al-Arabiyah Li Aghrad Khassoh. serta mengajar Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Arab di Pascasarjana UIN Malang menjadi Ketua Redaksi Jurnal LiNGUA Humaniora UIN Malang, dan menjadi Khodim Pondok Pesantren Darun Nun Malang. Pernah belajar di King Saud University dan Menyelesaikan Doktoralnya di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Menjadi Motivator Menulis, Pembelajaran Bahasa dan Sastra.

Selanjutnya

Tutup

Media

Tahukan Anda, Mengapa Hari Ahad Diganti dengan Hari Minggu?

14 Juni 2016   16:07 Diperbarui: 14 Juni 2016   16:12 1428 2 3

Beberapa puluh tahun terakhir ini, hari Ahad mulai lenyap, dan bahkan ketika kita bertanya kepada siswa atau mahasiswa atau halayak umum, mereka sudah tidak lagi tahu asal-muasal Minggu yang berasal dari hari Ahad. Dan mereka dengan entengnya menyebut hari Ahad dengan hari Minggu. Dan yang lucu lagi, banyak yang tidak mengenal bahwa hari hari yang ada di Indonesia berasal dari bahasa Arab, Senin (isnain), Selasa (sulasa’), Rabu (arbia’), Kamis (khamis). Jumat (Jumuah), Sabtu (Sabt).

Setelah penulis telisik dari berbagai leteratur bahwa hari Minggu adalah nama yang diambil daribahasa Portugis, Domingo  yang berarti “hari Tuhan  kita”, dan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, kemudian kata ini dieja sebagai Minggu. Hari tersebut, Bagi salah satu umat yang ada di dunia, yaitu umat Kristen, nama hari Minggu selain diidentikkan dengan Hari Tuhan, juga sebagai hari kebangkitan, hari peristirahatan dan hari untuk beribadahdan pada hari Minggu ini umat gereja memperingati hari Minggu sebagai hari perhentian bagi orang Kristen sekaligus hari peringatan akan kebangkitan Yesus. 

Dan menjadi lucu, ketika lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga lainnya memulai aktifitasnya dengan hari kedua, yang seharusnya (kalau mengikuti arti bahasanya) aktifitas atau kegiatan apapun dimulai dari hari Ahad, bukan hari Senin. Mengapa? Karena hari Senin berarti hari kedua, dari satu pekan. Dari perubahan hari inipun, berupa seluruh budaya yang terkait dengan permulaan hari, banyak lembaga yang memulai dari hari Senin, karena pada hari Ahadnya aktifitasnya diliburkan mengikuti makna dari hari Minggu (hari Istirahat), yang “kalau mengikuti maknnya” seharusnya memulai aktifitasnya adalah hari Ahad (hari pertama dalam satu pekan).

Minggu menurut wekipidia pada tanggal 7 Maret 321, Kaisar Konstatinus I, menetapkan hari Minggu sebagai hari peristirahatan bangsa Romawi. Para reformator gereja, Luther dan Calvi memandang hari Minggu sebagai institusi sipil yang dibuat oleh manusia, yang menyediakan waktu bagi manusia untuk beristirahat dan beribadah. 

Dan saya masih salut pada beberapa pondok pesantren, madrasah dan lembaga-lembaga lainnya yang masih menerapkan hari libur, pada hari Jumat. Karena hari Jumat (bagi umat Islam) adalah sayyidul Ayyam, hari penuh berkah dan hari untuk banyak melakukan peribdatan kepada Allah. Ternyata berubahnya nama hari sangat berpengaruh bagi berubahkan sebuah kebudayaan. bagi umat Islam sendiri, hari Ahad sudah banyak dilupakan, karena maraknya kalender dan media yang menggunakan hari Ahad dengan hari Minggu. Dan juga, banyak yang tidak mengetahui bahwa hari Ahad adalah hari pertama dalam satu pekan.

Perubahan hari Ahad menjadi hari Minggu ternyata sudah berjalan lama, sekitar tahun 1988. Apakah kita tetap menggunakan hari Ahad atau hari Minggu, itu terserah pembaca, tetapi kalau konsisten dengan hari dalam satu pekan di Indonesia, maka menggunakan hari Ahad lebih tepat dari pada hari Minggu.

Tulisan ini hanya sebuah refleksi sederhana saja, yang penulis sudah lama bertanya-tanya kenapa hari Ahad berganti hari Minggu, dan kebetulan penulis belum biasa menggunakan hari Minggu ketika di Pondok Pesantren, dan sampai hari inipun, penulis selalu menjawab hari Ahad ketika ditanya anak-anak mau berlibur kapan?he. 

Mudah-mudahan hari lain tidak tergantikan dengan nama yang lain lagi. cukup hari Ahad saja, dan penulis tetap menggunakan hari Ahad, walau pun hari Minggu selalu hadir di akhir pekan. karena hari Minggu adalah hari dipekan terakhir, bukan hari pertama sebagaimana dibeberapa kalender yang meletakkan hari Sabtu diakhir, dan hari Minggu di Awal. 

Mudah-mudahan menjadi refleksi bersama. bukan untuk diperdebatkan, tetapi hanya untuk direnungkan. karena perubahan seperti di atas sering terjadi, jika suatu Kaum latah, atau kalah dalam memasarkan keilmuannya, atau kalau dalam perpolitikan dunia, atau latah pada sebuah kemajuan dari sebuah peradaban tertentu.

selamat berakhir pekan, dan mari kita mulai dengan hari Ahad.

 Halimi Zuhdy