Mohon tunggu...
Hajizah Azzahra
Hajizah Azzahra Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

"Peran Aqidah terhadap Wabah Covid-19"

14 Agustus 2020   12:44 Diperbarui: 14 Agustus 2020   13:55 12 0 0 Mohon Tunggu...

"Peran Aqidah Terhadap Wabah Covid-19"

Hadirnya pandemi Covid-19 di tengah umat Islam dapat menjadi musibah di satu sisi dan ujian disisi yang lain. Namun, semua sangat bergantung pada cara pandang dan kondisi keimanan seseorang melihat masalah pada saat ini. Bagaimana tidak, dalam hal menyikapi pelaksanaan ibadah saja umat Islam sudah punya pandangan yang berbeda, dengan demikian halnya mereka pun memiliki pandangan sendiri tentang wabah covid ini.

Akan tetapi, semua sudut pandang itu pada akhirnya akan terlihat dari sudutnya masing-masing. Mereka yang melihat dari perspektif akidah akan menganggap bahwa tak ada yang harus ditakuti dan dikhawatirkan oleh siapa pun terkait virus corona ini.  

Di tengah merebaknya virus corona di dunia saat ini, selalu saja ada dua golongan yang ekstrem dalam bersikap. Salah satu pihak berlebihan dalam dalam mengantisipasi sehingga menimbulkan kepanikan, pihak lainnya berlebihan dalam meremehkannya hingga menimbulkan bahaya bagi yang lain. Terkait kepanikan, ini akan menimbulkan kerugian besar sehingga layak dihindari.

Tapi terkait tindakan meremehkan, maka bukan hanya potensi kerugian yang datang melainkan potensi kematian, bagi diri sendiri atau orang lain. Karena itulah maka seharusnya kewaspadaan perlu diutamakan.Namun demikian, beberapa orang menunjukkan keberanian di muka publik bahwa mereka tak takut virus apa pun sebab yang ditakuti hanyalah Allah.

Dari segi aqidah, pernyataan itu benar sebab tak ada yang dapat menyebabkan orang menjadi sakit kecuali Allah. Dari sudut pandang aqidah inilah Rasulullah bersabda:
      "
"Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tidak ada 'adwa (meyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada shafar (menjadikan bulan Shafar sebagai bulan haram atau keramat) dan tidak pula hammah (rengkarnasi atau ruh seseorang yang sudah meninggal menitis pada hewan).'

Lalu seorang Arab Badui berkata; "Wahai Rasulullah, lalu bagaimana dengan unta yang ada di pasir, seakan-akan (bersih) bagaikan gerombolan kijang kemudian datang padanya unta berkudis dan bercampur baur dengannya sehingga ia menularinya?" Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Siapakah yang menulari yang pertama'." (HR. al-Bukhari).

Secara aqidah, memang harus diyakini bahwa hanya Allah yang menentukan sakit tidaknya seseorang, seperti di hadits di atas. Pengamalan hadits itu adalah jangan sampai diyakini ada suatu penyakit atau wabah yang muncul di luar kehendak dan kontrol Allah.

Bahwa dalam keadaan wabah seperti ini, upaya yang harus dilakukan adalah tetap merawat sikap yang benar. Ketika datang ancaman kesehatan, orang perlu perhatian serius dengan sikap yang tepat seperti melakukan protocol kesehatan apa yang telah di perintahkan oleh pemerintah kepada masyarakatnya. Dalam hali ini kita harus mengingat apa yang dipesan oleh Rasul Saw menegaskan bahwa kesehatan harus dijaga dengan baik.

Hadis Nabi tentang lima hal sebelum datang lima hal yang lain, salah satunya ialah menjaga kesehatan sebelum datang sakit. Karena menjaga kesehatan sebagai perintah yang disampaikan Rasul, maka kita harus senantiasa merawatnya dengan baik. Itu bagian dari ibadah.

Kesehatan mungkin bukan segala-galanya, tapi menurut saya tanpa sehat yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya, segalanya tak dapat dinikmati dengan baik. Sabda Nabi yang menyatakan bahwa ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x