Analisis

Pendekatan Komparatif dan Multidisiplin "International Communication"

9 Oktober 2018   18:12 Diperbarui: 9 Oktober 2018   19:04 356 0 0

Komunikasi internasional, kata Stevenson (1994:543): "It's hard to define, but you know it when you see it". Selain sulit didefinisikan, para ahli komunikasi pun memberi istilah yang saling berbeda tentang komunikasi internasional ini. Ada yang menyebutnya dengan istilah "global communication" (Maulana), "world communication" (Hamelink, 1994), atau "transnational communication" (volkmer). Sementara Kamalipour (2002:xii-xiii) selain menerima istilah di atas, ia menambahkan pula istilah "transborder communication, intercultural communication, cross-cultural communication dan international relations" sebagai padanan lain dari istilah komunikasi internasional". Bagi Kamalipour, semua istilah itu mengandung konsep yang multidimensional dan sangat kompleks. Karena itu, setiap usaha merumuskan definisi yang sederhana pasti hasilnya tidak lengkap dan akan mengundang perdebatan.

Pandangan komunikasi internasional yang berfokus pada interaksi antarnegara, sekarang ini sudah dianggap klasik atau konvensional(). Ditemukannya teknologi informasi dan komunikasi yang baru, interaksi antarindividu dan antarbangsa yang sudah berubah, terutama dalam bisnis dan budaya, telah melahirkan banyak aspek dalam komunikasi internasional. Aktor negara dalam hubungan antarbangsa sekarang ini bukan lagi satu-satunya aktor penting. 

Dalam era globalisasi dewasa ini, aktor bukan negara (non-state actors) cukup memberi peran yang strategis dan penting. Bahkan ada kalanya lebih penting daripada faktor negara sendiri. Kasus runtuhnya Uni Soviet, runtuhnya tembok Berlin atau jatuhnya Tunisia, Mesir dan Lybia, terjadi hanya gara-gara kegaduhan politik lewat internet. Ada empat pendekatan terhadap komunikasi internasional, kata Hamied Maulana (1997:6) dalam Global Information and World Order.

Pertama, pendekatan idealistic-humanistic approach yang menggambarkan komunikasi internasional sebagai sebuah cara membawa bangsa dan negara berdaulat, untuk membantu organisasiorganisasi internasional dalam melaksanakan pelayanannya kepada komunitas dunia lainnya. Bagaimana setiap negara-bangsa mampu menjalin hubungan komunikasi yang harmonis demi mencapai dunia yang damai (world peace). Proses komunikasi seperti ini disebut dengan pndekatan idealistichumanistic.

Kedua, pendekatan yang memandang komunikasi internasional sebagai propaganda, konfrontasi, periklanan, mitos dan klik. Ini disebut juga sebagai "political proselytization". Komunikasi internasional jenis ini lebih bersifat satu arah (one way) yang biasanya dilaksanakan antarinstitusi negara.

 Ketiga, berkembangnya pendekatan komunikasi internasional sebagai kekuatan ekonomi (economic power). Hubungan antarnegara ditengarai oleh pertukaran barang dan jasa antarnegara. Mereka sanggup melakukan transfer of technology adalah Negara-negara yang akan berkembang kearah modernisasi atau kemajauan ekonomi "pasar bebas" model neo-liberal.

Keempat, pendekatan komunikasi internasional yang memandang informasi sebagai "kekuasaan politik"(political power). Dominasi informasi: ekonomi, politik, budaya dan teknologi yang datang dari Barat Negaranegara Selatan "terpinggirkan" sehingga terjadi ketergantungan "segala sektor" terhadap Barat.

Dengan adanya berbagai pendekatan sedemikian itu, maka bidang studi komunikasi internasional membuka cakrawala atas bentuk-bentuk interaksi global yang beragam, termasuk komunikasi global melalui media massa, komunikasi antarbudaya dan kebijakan telekomunikasi.

 Karena sifatnya yang demikian beragam, komunikasi internasional merupakan bidang studi yang interdisipliner, dengan memanfaatkan konsep, metoda penelitian dan data dari disiplin seperti ilmu politik, sosiologi, ekonomi, budaya, dan sejarah. Isi pesan dalam komunikasi internasional, bukan saja mengandung pesan politik melalui propaganda, diplomasi publik (public diplomacy) dalam konteks hubungan internasional, tapi juga mengandung pesan ekonomi, yang dirancang IMF dan Bank Dunia misalnya, untuk menerapkan ekonomi neo-liberal ke seluruh dunia, atau peran perusahaan-perusahaan MNC untuk menguasai bisnis global.