Hafiz Fatah
Hafiz Fatah Wiraswasta

Mahasiswa Geografi dan Pelapak Buku Online di Geopustaka

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menumbuhkan Sikap Sadar Bencana

12 Oktober 2018   11:29 Diperbarui: 12 Oktober 2018   11:48 600 0 0
Menumbuhkan Sikap Sadar Bencana
Peta Gempa oleh PUSGEN (c) 2017

Beredarnya artikel dan peta mengenai potensi gempa di Sulawesi tengah yang telah ada sejak 2012 menimbulkan tanda tanya setelah gempa dan tsunami di Palu dan Donggala (28/9/2018) menelan ribuan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan amat masif. Bagian mana yang hilang dari koneksi antara pengetahuan ilmiah kita dengan kesiapsiagaan bencana?

"Sekalipun bencana adalah peristiwa alam, namun menghadapinya adalah proses kebudayaan." Demikian tulis Ahmad Arif di Harian Kompas (10-10-2018)

Pemahaman tentang hal ini akan membantu kita lebih mengerti mengapa hasil kajian tentang potensi bencana di suatu tempat saja belumlah cukup untuk membuat kita menjadi tangguh bencana. Untuk mencapai manfaat optimal, pengetahuan tersebut perlu bertemu dengan ketegasan regulasi dan kesadaran masyarakat.

Rekomendasi dari ahli bencana menjadi dasar dalam penyusunan peraturan dan pembangunan sarana pra sarana oleh pemerintah. Contohnya, standardisasi bangunan tahan gempa dan pembuatan tata ruang wilayah yang sadar risiko bencana. Berikutnya dalam mengimplementasikan peraturan tersebut, kesadaran dari berbagai golongan masyarakat memegang peranan penting.

Dengan ketegasan aturan yang diikuti kesadaran, tidak akan lagi ada misalnya, pembangunan permukiman atau pusat pertumbuhan ekonomi baru di zona risiko tinggi. Pusat kegiatan penting seperti bandara yang dibangun di kawasan rawan tsunami dan gempa bumi akan memiliki mekanisme keamanan yang dapat diandalkan untuk situasi darurat.

Kesadaran akan risiko bencana pada level individu akan membuat orang rela meninggalkan hunian lama yang rentan bencana seperti penduduk di sekitar Gunung Merapi atau Gunung Sinabung. Mekanisme pasar akan membuat calon konsumen perumahan teliti mengulik aspek keamananan rumah, bukan hanya dari pencuri tapi juga dari gempa dan likuefaksi. Pengembang tak taat aturan dengan begitu dipersilakan merugi jika produknya tidak tahan bencana.

Dan tidak ada lagi yang mengambil komponen alat peringatan dini seharga sampai ribuan nyawa untuk ditukar beberapa puluh ribu rupiah.

Sinergi antara ahli, pemerintah, dan masyarakat memungkinkan kita merasakan urgensi melatih kesiapsiagaan. Dengan demikian orang dapat merespon dengan tepat situasi darurat dan lihai dalam evakuasi mandiri. Setelah mengungsi kita tidak takut kelaparan dan mengalami kekacauan karena telah mempunyai skenario penyediaan cadangan logistik serta bahan bakar yang dapat diakses dengan cepat.

Posisi geologis Indonesia tidak dapat diubah sehingga kedatangan gempa berikutnya adalah sebuah keniscayaan. Pekerjaan rumah bagi seluruh komponen bangsa untuk terus memperbaiki ekosistem penanggulangan bencana dalam upaya meminimalkan kerugian. Kita perlu menaikkan level secara kontinyu setelah mengubah paradigma dari "merehabilitasi" menjadi "memitigasi" pasca bencana besar berturut di pertengahan dekade yang lalu.

Mengingat sifatnya sebagai sebuah evolusi sosial, perubahan perilaku menghadapi bencana akan membutuhkan waktu dan bahkan pengalaman. Daerah-daerah yang pernah mengalami bencana biasanya memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik. Namun berkembangnya teknologi menyediakan peluang untuk berkembang semakin baik lagi.

Selain itu, pengurangan risiko bencana membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Bencana yang tidak setiap tahun terjadi seperti gempa dan erupsi gunung api rentan melengahkan kesiapsiagaan. Barangkali inilah faktor utama penyebab mengapa gempa di Indonesia nyaris selalu menelan banyak korban jiwa padahal kita cukup sering mengalaminya. Karena bencana ini cenderung bersifat lokal.

Kontrol tertinggi manajemen bencana ada di pemerintah lokal yang berbeda. Kesiapsiagaan yang terbentuk dari studi banding belum sekuat jika ia lahir dari pengalaman. Memori kolektif akan sebuah petaka, ratusan kali lebih menggerakkan jiwa daripada kumpulan data dan informasi yang disodorkan pengkaji ilmu bencana.

Jalan kita masih panjang untuk dapat setangguh Jepang yang mayoritas bangunannya masih berdiri diguncang Gempa Tohoku M 9,0 2011 , dan menekan jumlah korban hingga 'hanya' menelan empat jiwa saat gempa M 6,1 mengguncang Osaka Juni 2018. Kehilangan empat korban tetaplah sebuah kesedihan bagi orang-orang terdekat, namun saat ini kita masih dalam tahap berharap Indonesia bisa setangguh itu karena waktu gempa M 6,2 melanda Bantul dan sekitarnya pada 2006, lebih dari 6.000 jiwa melayang.

Masih banyak aspek dalam mitigasi bencana yang perlu kita tambal, salah satunya yang terpenting adalah memulai untuk menumbuhkan sikap sadar bencana dalam diri. Kita perlu mencatat dalam benak kita bahwa di tahun 2018 ini telah terjadi gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah yang menelan ribuan jiwa saudara kita.

Agar diri dan lingkungan kita tak menambah panjang daftar nestapa, kita setidaknya harus mengenali potensi bahaya di tempat tinggal dan lingkungan sekitar. Misalnya dengan lebih proaktif dalam mempelajari peta potensi bencana yang pada hakikatnya dibuat agar diperhatikan masyarakat, alih-alih sekadar untuk dokumen administrasi.

Upaya memupuk kesadaran ini kita tumbuhkan selagi terus mendorong pemerintah agar tegas dan berwawasan sadar bencana dalam membuat peraturan dan membangun infrastruktur. Juga sembari menuntut ahli ilmu bencana agar terus memperbarui produk pengetahuan demi semakin efektifnya usaha mitigasi.

Download Buku Peta Gempa 2017