Haendy Busman
Haendy Busman pegawai

mengamati dan menulis walau bukan seorang yang "ahli" | Twitter @haendy_busman | Footballism

Selanjutnya

Tutup

Jakarta

Dari Pak Ahok untuk Pak Anis dan Pak Sandi: Penataan Sistem Parkir di Taman Ismail Marzuki

13 Maret 2018   12:10 Diperbarui: 13 Maret 2018   12:32 609 0 0
Dari Pak Ahok untuk Pak Anis dan Pak Sandi: Penataan Sistem Parkir di Taman Ismail Marzuki
kondisi parkir Taman Ismail Marzuki (kompas.com)

Kendaraan yang melimpah memang membuat Jakarta macet, namun tak semua kendaraan yang ada hanya mendatangkan kesengsaraan melalui macet. Karena ada potensi apabila dikelola malah menjadikan pendapatn yang menggiurkan. Bisa ditengok bagaimana rumah-rumah yang berada dekat dengan stasiun kereta api di wilayah pinggiran ibukota yang berubah menjadi lahan parkir. Dengan tarif 6.000 dari pagi hingga pukul 10 malam ditambah jumlahnya ada ratusan motor maka pendapatan hingga setengah juta perhari bukanlah hal yang mustahil didapat. Untuk itu banyak rumah didekat stasiun didaerah pinggiran Jakarta yang merubah fungsi menjadi tempat penitipan motor yang tentunya sebuah cara mendulang rupiah dari melonjaknya jumlah kendaraan di ibukota.

Bagaimana di Jakarta, Dipusat kotanya, dengan jumlah kendaraan yang menurut data pemrov DKI yang mencapai 13 juta untuk motor dan 3 juta untuk mobil di siang hari maka bisa dibayangkan jika untuk motor yang parkir berjumlah 3 juta dikalikan Rp 2000 maka pendapatan parkir yang didapat berkisar Rp 6 Milyar perhari itu hanya dari motor belum lagi mobil jika mobil yang terparkir ada 1 juta dikalikan Rp 5000 maka akan ada Rp 5 Milyar perhari yang didapat dan jika dijumlahkan maka pendapatan parkir yang didapat 11 Milyar perhari , jika sebulan akan berjumlah 330 M dan setahun akan mencapai sekitar 4 Triliun per tahun. Hal yang akan mendongkrak APBD DKI dan memberi ruang fiskal yang lebar bagi gubernur untuk melaksanakan berbagai program kerakyatan.

Namun apalah daya, ladang parkir memang tiada duanya, jauh sebelum dinas parkir mengelola dengan seirus melalui sistem gateway yaitu di pintu masuk, fungsi  petugas tiket digantikan mesin. Sementara itu, di pintu keluar, ada  penjagaan oleh pegawai Dishub DKI Jakarta, baik di loket motor maupun  mobil sehingga jumlah tiket yang dikeluarkan akan selaras dengan jumlah pendapatan yang diterima. Ada banyak perusahan parkir swasta yang mengelola parkir off street di gedung-gedung perkantoran, tempat pembelanjaan dan universitas dengan sistem tersebut. Nama seperti Secure Park bisa menjadi contoh sebagai perusahaan jasa parkir yang  muncul diberbagai macam gedung di Jakarta. Pesaing Pemda DKI juga muncul dari ormas-ormas yang menguasai lahan parkir on street dan tempat lainnya.

Jauh sebelumnya, pak Ahok sudah mencoba mereformasi praktek ilegal pemanfaatan lahan parkir, salah satu dari Taman Ismail Marzuki dimana dahulunya ada perusahaan swasta yang menguasai parkir Taman Ismail Marzuki. Pak Ahok yang tak terima mencoba berseteru karena lahan parkir di TIM yang dikuasai pihak swasta tersebut ternyata berafiliasi dengan salah satu anggota DPRD DKI. Setelah perusahaan swasta tersbut angkat kaki barulah dinas perparkiran pemrov DKI mengelola dengan sistem yang mirip perusahaan parkir swasta.

Sistem dengan mengambil tiket untuk masuk melalui mesin tiket dan membayarnya saat keluar adalah pola dimana setiap kendaraan yang masuk akan terdata sehingga mengurangi kebocoran dana parkir yang disetor, hal ini tentu berbeda dengan parkir on street yang dimiliki oleh pemda DKI yang kebocoran dananya tidak dapat diketahui karena pengambilan tiket masih secara manual. Bisa dibayangkan jika sistem parkir menggunakan pengambilan tiket secara otomatis hingga mampu terdata sehingga dana parkir yang dibayar benar-benar masuk ke kas pemda. Hal ini belum ditambah dengan lahan parkir yang dikusai ormas, yang menjadi pekerjaan rumah untuk pemda DKI dalam rangka menggenjot pendapatan asli daerahnya.

Sistem Parkir GOR

Ada yang unik saat gelanggang olahraga yang seharusnya milik pemrov DKI namun pengelolaan parkir masih dikelola oleh ormas yang berada disekitar gedung, seharusnya apabila dikelola secara serius dinas parkir dapat menerapkan sistem parkir gateway dengan di pintu masuk, fungsi  petugas tiket digantikan mesin. Sementara itu, di pintu keluar, ada  penjagaan oleh pegawai Dishub DKI Jakarta, baik di loket motor maupun  mobil.
Bisa juga pengelolaan oarkir tersebut dengan bekerja sama dengan ormas yang menjadi pekerjanya. Sehingga selain membuka lapangan kerja pendapatan asli daerah akan meningkat dari keseriusan pemrov DKI mengelola lahan parkir di gelanggang olahraga dan pasar dibawah PD pas

ar jaya. Ini menjadi tantangan bagi pemerintahan baru untuk mengubah sistem parkir yang ada di DKI jakarta karena pengelolaan yang baik akan membuat peningkatan pendapatan asli daerah, berarti bukan tidak mungkin nantinya bahwa maju kotanya, bahagia jakarta dan cangih sistem parkirnya.