Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Bekerja Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Dinasti Politik di Pilkada, Jangan "Digebyah Uyah"

23 Juli 2020   16:13 Diperbarui: 28 Juli 2020   09:39 404 20 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dinasti Politik di Pilkada, Jangan "Digebyah Uyah"
Beberapa calon yang akan tampil di Pilkada Serentak 2020 di beberapa kabupaten/kota, diketahui memiliki hubungan keluarga dengan pejabat petahana. Tidak mengherankan, para pejabat itu dituding tengah membangun dinasti politik/Foto: www.teropongsenayan.com

Hitung mundur beberapa bulan jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020, beberapa partai politik sudah 'buka kartu' alias mengumumkan siapa calon yang mereka usung.

Masyarakat yang sebelumnya dibuat penasaran, akhirnya tahu siapa saja 'jagoan' yang diusung partai politik tertentu di Pilkada nanti. Dari pengumuman tersebut, ada beberapa calon yang merupakan keluarga dan kerabat pejabat petahana.

Melansir dari Kompas.com, sejumlah keluarga kepala daerah dan pejabat telah mendeklarasikan dirinya maju di pilkada 2020. Ada istri Wali Kota Batam, Marlin. yang telah mendeklarasikan diri maju di Pilkada Kepulauan Riau sebagai calon wakil gubernur.

Di Jawa Timur, ada Ikhfina Fahmawati yang merupakan istri dari mantan Bupati Mojokerto, Musthofa Kamal Pasha, yang juga mendeklarasikan diri maju di Pilkada Mojokerto 2020. 

Di Tangerang Selatan, ada Putri Wakil Presiden Maruf Amin, Siti Nur Azizah yang juga mencalonkan diri sebagai wali kota seperti dikutip dari Bawaslu Cermati Potensi Dinasti Politik di Pilkada 2020

Deretan nama-nama itu masih bertambah panjang dengan kabar istri Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Ipuk Fiestiandani mendapatkan rekomendasi dari DPP PDIP untuk maju sebagai calon Bupati Banyuwangi pada Pilkada Kabupaten Banyuwangi 2020-2025.

Termasuk di Sidoarjo, putra dari bupati non aktif Saiful Illah, Achmad Amir Aslichin juga berniat maju di Pilkada Kabupaten Sidoarjo. Poster wajahnya bertebaran di berbagai titik di Kota Delta. Politisi PKB ini masih menunggu pengumuman resmi siapa calon yang akan direkomendasikan oleh DPP PKB. 

Namun, dari semua nama itu, yang paling ramai dibicarakan adalah majunya putra sulung Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming Raka. PDI-P mengusung Gibran bersama Teguh Prakosa untuk maju di Pemilihan Wali Kota Solo.

Dinasti politik, kenapa menarik diulik

Dari kemunculan nama-nama itu, baik yang sudah mendeklarasikan diri hingga yang masih menunggu rekomendasi parpol, kita mengenalnya dengan dinasti di politik. Karena anggota keluarga dan kerabatnya ada yang maju di Pilkada, para pejabat yang tengah menjabat itupun dituding tengah membangun dinasti politik.

Sebenarnya, dinasti politik ini bukan istilah baru, juga bukan hanya 'milik' kalangan atas yang melek politik. Masyarakat di akar rumput pun sejak dulu telah mengenal praktik dinasti politik ini. Hanya mungkin mereka belum mengetahui apa namanya.

Saya ingat, di desa saya dulu, sewaktu saya masih bocah, dari beberapa kali pemilihan kepala desa (pilkades), sering yang 'bertarung' di pilkades adalah keluarga atau kerabat dari kades yang sedang atau pernah berkuasa. Dari istrinya, hingga anaknya.

Memang ada calon yang tidak punya riwayat keturunan kades yang berani maju. Tapi lebih sering kalah. Karena memang, faktor dinasti membuat calon lebih mudah untuk mengenalkan dirinya dan lebih gampang dikenal oleh orang desa.

Sebenarnya, apa yang salah dengan dinasti politik?

Tentu saja, akan ada komentar yang berlawanan bila mengulik masalah ini. Ada yang setuju. Ada yang tidak setuju. Bahkan ada yang menuduh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN