Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Kala Hendra-Ahsan Memperlihatkan "Aura Dewa" Mereka di Fuzhou China Open

8 November 2019   07:58 Diperbarui: 8 November 2019   14:46 0 16 8 Mohon Tunggu...
Kala Hendra-Ahsan Memperlihatkan "Aura Dewa" Mereka di Fuzhou China Open
Ganda putra senior Indonesia, Mohammad Ahsan (depan) dan Hendra Setiawan, menampilkan permainan 'kelas dewa' saat mengalahkan ganda tuan rumah, Zhang Nan/Ou Xuanyi di putaran II Fuzhou China Open 2019 kemarin/Foto: badmintonindonesia.org

Di bulutangkis, pemain-pemain Indonesia dan Tiongkok seperti ditakdirkan menjadi "musuh" di lapangan. Sejak dulu, mereka "tak pernah akur" untuk urusan berebut gelar juara. Lha wong tidak ada istilah juara bersama.

Dari lima sektor yang ada, rivalitas paling nyata, ada di sektor ganda putra. Pasalnya, baik Tiongkok dan Indonesia, punya pemain yang sama-sama berkelas dunia. Sementara di nomor lainnya, rivalitasnya terkadang tidak apple to apple untuk dibandingkan.

Nyatanya, sejak Olimpiade 1996, Indonesia dan Tiongkok bergantian meraih medali emas. Ganda putra Indonesia juara Olimpiade 1996 lewat Rexy Mainaky/Ricky Subagja, Chandra Wijaya dan Tony Gunawan di tahun 2000, dan 2008 lewat Markis Kido/Hendra Setiawan. Sekali, Korea Selatan mencuri panggung di tahun 2004. Lantas, ganda Tiongkok beruntun jadi juara di Olimpiade 2012 lewat Cai Yun/Fu Haifeng dan 2016 lewat Zhang Nan/Fu Haifeng.

Rivalitas itu berlanjut hingga kini. Namun, dalam dua tahun terakhir, Indonesia mampu mendominasi atas Tiongkok. Pasangan ganda putra Indonesia, Marcus Gideon/Kevin Sanjaya, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, serta Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, meraih lebih banyak gelar dari ganda putra Tiongkok.

Itu yang membuat para badminton lovers di Tiongkok, kurang menyukai ganda putra Indonesia. Utamanya Marcus/Kevin. Selain ketengilan di lapangan, Marcus/Kevin dianggap sebagai pemutus dominasi Tiongkok yang sebelumnya berjaya lewat Zhang Nan/Liu Cheng (juara dunia 2017) dan Li Junhui/Liu Yuchen (juara dunia 2018).

Kekurangsukaan para BL Tiongkok terhadap Marcus/Kevin itu bisa dipantau dari komentar-komentar mereka di "Forum Tiongkok". Sebuah forum percakapan di dunia maya yang acapkali dipajang di akun media sosial yang fokus mengabarkan perkembangan bulutangkis.

Namun, khusus untuk Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, ceritanya berbeda. Para BL Tiongkok sangat respek kepada pasangan senior ini. Bahkan, mereka menyebut Hnedra dengan panggilan "Dewa Hendra". Dewa yang dianalogikan memiliki kemampuan luar biasa di atas manusia biasa.

Bahkan, beberapa pemain muda ganda putra Tiongkok, terang-terangan mengidolakan Hendra dan Ahsan. Liu Yuchen adalah pengagum Hendra. Malah, para BL Indonesia acapkali menyebut Yuchen sebagai 'anak' dari Hendra. Karena memang, wajahnya mirip putra ketiga Hendra, Russel.

Sementara pemain ganda putra Tiongkok, Han Chengkai, sangat mengidolakan Ahsan. Beberapa kali di akun Instagramnya, Han memposting kekagumannya pada Ahsan. Juara French Open 2018 ini pernah menulis begini: "Homage idol! I've learned a lot. Congratulations on your victory" saat Ahsan lolos ke final All England 2019.

Sehari kemudian, saat Ahsan/Hendra juara, Han menulis kalimat keren: "The reason why legends become legends. Because they can always do something admirable ! Salute Spirit! Congratulations on winning the championship," dengan latar foto Ahsan.

Hendra/Ahsan tundukkan Zhang Nan dengan pasangan barunya di rumahnya sendiri
Nah, Kamis (8/11) tadi malam, Hendra/Ahsan seperti memperlihatkan aura "kedewaan" mereka di hadapan para BL Tiongkok. Ketika mereka tampil di putaran II Fuzhou China Open 2019 Super 750. Kebetulan, lawan yang dihadapi adalah ganda putra Tiongkok, Zhang Nan, yang juga layak disebut legenda atas pencapaiannya selama ini dan kini bermain dengan pasangan barunya, Ou Xuan Yi.

Selama ini, Hendra/Ahsan dikenal sebagai pasangan ganda putra yang permainannya santuy, tapi mematikan. Berbeda dengan pasangan lainnya yang acapkali meledak-ledak di lapangan. Hendra bermain kalem. Tapi, penempatan bola dan permainan di depan net, berkelas dewa. Sementara Ahsan, tetap dengan gebukan keras akurat dari belakang lapangan.

Nah, saat melawan Zhang Nan/Ou Xuan tadi malam, Hendra dan Ahsan kembali memperlihatkan permainan santuy mereka. Santuy dengan permainan kelas dewa dan bermental pemenang. Pasangan juara dunia 2019 ini juga memamerkan stamina mereka yang masih oke di usia senja.

Ya, stamina Hendra yang kini berusia 35 tahun dan Ahsan (32 tahun), ternyata masih oke. Mereka masih kuat untuk bermain tiga game (rubber game) ketat selama 1 jam 3 menit yang tentu saja menguras stamina. Mereka bisa meladeni Zhang Nan (29 tahun) dan Ou Xuanyi (25 tahun) yang lebih muda.

Di game pertama, Hendra/Ahsan rupanya masih gagap membaca permainan Zhang Nan bersama pasangan barunya. Maklum, meski sudah bolak-balik bertemu Zhang Nan, tapi tadi malam menjadi pertemuan perdana bersama Ou Xuanyi. Hendra/Ahsan sempat tertinggal 0-7. Pada akhirnya, mereka kalah 11-21 di game pertama.

Di game kedua, Hendra/Ahsan belum mampu keluar dari tekanan. Meski, mereka sudah menemukan cara menghadapi ganda tuan rumah itu. Kedua pasangan saling kejar-mengejar perolehan poin. Hendra/Ahsan lantas menutup interval pertama dengan keunggulan tipis, 11-10.

Mereka lalu unggul, 15-12. Toh, Zhang Nan/Ou mengecilkan jadi 15-14. Skor sempat sama 18-18. Namun, Hendra/Ahsan lantas mendapatkan tiga poin beruntun. Smash beruntun dari Hendra, menutup game kedua 21-18 untuk memaksakan game ketiga.

Game ketiga ketat hingga poin 30, mental dan stamina Hendra/Ahsan memang oke
Di game ketiga inilah, para BL tuan rumah bisa melihat betapa mental dan ketahanan fisik Hendra/Ahsan memang "kelas dewa". Umumnya, pemain yang staminanya loyo, mereka akan melempem di game ketiga. Apa yang diinginkan, tidak bisa diwujudkan di lapangan karena stamina yang tidak mendukung.

Namun, Daddies--julukan Ahsan/Hendra berbeda. Usia mereka boleh tua untuk ukuran pemain bulutangkis kekinian. Namun, stamina mereka masih oke. Setelah kejar-kejaran poin, mereka menutup interval pertama dengan keunggulan 11-9. Mereka bahkan sempat unggul jauh 17-12.

Toh, Zhang Nan/Ou Xuanyi belum menyerah. Mereka bisa menyamakan skor. Pada akhirnya, laga diteruskan dengan setting point ketika kedua pasangan meraih skor 20-20. Maknanya, siapa pemain yang lebih dulu mendapatkan selisih dua poin hingga batas angka 30, dia yang akan menang.

Nah, di periode setting poin, bukan hanya skill, tapi kematangan mental-lah yang menentukan. Sekali grogi dan terburu-buru, ceritanya akan usai. Yang terjadi, Hendra/Ahsan mampu mengeluarkan kematangan serta pengalaman mereka menghadapi situasi sulit.

Pasangan Tiongkok sempat dua kali mencapai match point. Hendra/Ahsan sempat tertinggal 21-22, tapi bisa menyamakan 22-22. Hendra dan Ahsan kembali tertinggal 22-23. Tapi, pukulan Ahsan di depan net, mengecoh Ou dan menyamakan skor 23-23. Mereka bahkan unggul 24-23, tetapi disamakan 24-24.

Di angka 24, drama kejar-kejaran poin layaknya adu balap mobil di film Fast & Furious itu ternyata belum berakhir. Giliran Hendra/Ahsan yang tak mampu memanfaatkan kesempatan. Mereka sempat unggul dua kali, 25-24 dan 26-25, tapi bisa disamakan.

Lantas, situasi menjadi menegangkan ketika Zhang Nan/Ou unggul 27-26. Dari sini, banyak BL Indonesia yang menonton langsung lewat live streaming, sudah tidak kuat melanjutkan. Mereka memilih menutup live streaming sembari berdoa.

Toh, Hendra/Ahsan sempat menyamakan skor 27-27. Tapi, ganda Tiongkok kembali unggul 28-27. Namun, beberapa detik kemudian, sergapan smash Hendra di depan net, menyamakan skor 28-28. Eh ternyata Zhan Nan langsung membalas dengan smash keras yang mengubah skor jadi 29-28. Satu poin lagi, ganda tuan rumah akan menang.

Namun, dalam situasi menegangkan, ditambah teriakan fans tuan rumah, Hendra/Ahsan tetap kalem. Sebuah smash Ahsan yang mengarah ke badan Ou Xuan, membuat skor sama: 29-29. Artinya, setting poin memasuki sudden death. Tidak berlaku lagi selisih dua poin. Sebab, batas maksimalnya hanya 30 poin. Artinya, siapa yang lebih dulu meraih 30, dia yang akan menang.

Dalam channel Youtube Super Badminton yang menayangkan hasil rekaman penonton dari jarak beberapa meter (dari lapangan), ketika pukulan Ahsan menyamakan skor 29-29, terdengar jelas respons suporter tuan rumah yang tertawa seolah kecewa tapi juga mengagumi bahwa Hendra/Ahsan memang tidak mudah dikalahkan.

Situasi menjadi semakin menegangkan. Belum jelas siapa yang akan menang. Apapun bisa terjadi. Diawali service Hendra ke arah Ou Xuan, sempat terjadi 16 kali adu pukulan. Lantas, Ou melakukan smash nanggung yang langsung dikembalikan Hendra ke pojok lapangan yang tak terjangkau. Senjata makan tuan. Smash itu ternyata mengakhiri perlawanan Zhang Nang/Ou. Hendra/Ahsan menang 30-29 dan lolos ke perempat final.

Dalam wawancara dengan badmintonindonesia.org, Ahsan menyebut, sepanjang kariernya di bulutangkis, baru pertama ini dirinya dipaksa mengakhiri pertandingan sampai skor 30.

"Tadi sih sudah pasrah ya, karena sudah 29-29, takdirnya menang atau kalah, ya cuma dua itu saja. Sudah unggul jauh tadi, kami kekejar. Di saat kritis tadi, pola pikir diatur juga, ini kan belum game, jadi coba terus," jelas Ahsan.

Sementara Hendra menyebut tidak terkejut bila mendapatkan perlawanan ketat dari ganda Tongkok. Menurutnya, meski pasangan baru, tetapi ganda tuan rumah tersebut memang bagus. "Zhang punya pengalaman dan permainan depannya nge-cover banget. Ou di belakang pun serangannya keras. Jadi memang dua-duanya bagus," ujar Hendra seperti dikutip dari sini.

Indonesia punya 4 wakil di perempat final
Di perempat final yang akan dimainkan Jumat (8/11) siang nanti, Hendra/Ahsan akan bertemu pasangan Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik yang kemarin mengalahkan Fajar/Rian.

Pertemuan Hendra/Ahsan melawan Aaron/Soh ini akan menjadi ulangan final All England Open 2019 pada 10 Maret lalu. Kala itu, Daddies menang rubber game 11-21, 21-14, 21-12 dan meraih gelar pertama BWF World Tour pertama mereka di tahun ini.

Hendra/Ahsan tidak sendirian lolos ke perempat final. Total, Indonesia memiliki empat wakil di perempat final Fuzhou China Open. Sebelumnya, pasangan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya lebih dulu memastikan lolos.

Sama dengan Hendra/Ahsan, Marcus/Kevin juga menghadapi perlawanan ketat dari ganda tuan rumah, He Jiting/Tan Qiang. Mereka dipaksa bermain rubber game. Bahkan, ganda rangking 1 dunia ini sempat kalah 16-21 di game pertama. Namun, Marcus/Kevin memperlihatkan mental pemenang dengan memenangi dua game berikutnya, 21-18, 21-13.

Di perempat final, Marcus/Kevin yang menjadi unggulan 1, akan menghadapi ganda Jerman, Mark Lamsfuss/Marvin Seidel. Kemarin, mereka membuat kejutan dengan mengalahkan ganda tuan rumah unggulan 7, Han Cheng Kai/Zhou Hao Dong.

Selain dua ganda putra, pasangan ganda campuran, Praveen Jordan/Melati Daeva Otavianti juga melaju mulus ke perempat final. Kemarin, mereka menang cukup mudah atas ganda senior Inggris, Chris/Gabby Adcock, 21-11, 21-13. Di perempat final, Praveen/Melati yang pada akhir Oktober lalu juara di Denmark Open dan French Open, akan menghadapi ganda Jepang juara All England 2018, Yuta Watanabe/Arisa Higashino.

Satu wakil Indonesia lainnya yang lolos ke perempat final adalah tunggal putra Jonatan Christie. Jonatan butuh rubber game saat mengalahkan pemain Hong Kong, Lee Cheuk You 21-8, 12-21, 21-14. Di perempat final, dia akan menghadapi pemain Denmark yang tengah on fire, Anders Antonsen.

Di Fuzhou China Open tahun 2018 lalu, Indonesia meraih satu gelar lewat Marcus/Kevin. Semoga saja, tahun ini hasilnya lebih baik. Siapa tahu, Indonesia bisa meraih dua gelar. Atau bahkan tiga gelar. Salam bulutangkis.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x