Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Drama Susah Move On di Anfield dan Liverpool yang Merindu "The German"

3 Oktober 2019   08:22 Diperbarui: 3 Oktober 2019   08:47 151 6 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Drama Susah Move On di Anfield dan Liverpool yang Merindu "The German"
Sadio Mane dan Mo Salah, membuat Liverpool move on dengan mengalahkan Salzburg 4-3 di matchday II Liga Champions dini hari tadi/Foto: https://www.standard.co.uk

"...betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran. Yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia itu berputar, semesta ini bulat. Seperti namamu, O."

Begitu cara pandang Eka Kurniawan dalam mengemas cerita dinamika hidup lewat novelnya "O". Bila sudah membacanya, sampean (Anda) pasti merasakan, Eka mengemasnya dengan gaya berbeda. Dia membawa kita pada kisah difabel level tinggi. 

Kisah tentang seekor monyet banyak gaya nan pemberani yang bercita-cita jadi manusia. "Tentang seekor monyet yang ingin menikah dengan kaisar dangdut". Begitu tulis Eka di sampul depan novel "O" ini.  

Seperti di karya-karyanya yang lain semisal "Corat-coret di Toilet" dan "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas", Eka menulis dengan gayanya yang khas. Hiperbolis tetapi tetap kuat dalam penyampaian esensi.

Namun, se-hiperbolis apapun ceritanya, kita akan sampai pada pesan mulia. Bahwa, hidup tidak lebih dari tentang move on. Tentang bangkit dari kekecewaan. Tentang kemauan berubah menjadi lebih baik. Bahwa "Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia".

Siklus move on ala cerita Eka Kurniawan itulah yang ingin capai Liverpool. Mereka ingin mengubah cerita sedih menjadi bahagia saat menjamu tim Austria, Salzburg di Anfield pada matchday II fase grup Liga Champions.

Sebelumnya, Liverpool mengawali Liga Champions musim 2019/00 dengan hasil sedih. Sang juara bertahan langsung kalah di pertandingan pertama. Mereka kalah 0-2 dari tim Italia, Napoli di Kota Naples pada 18 September silam. Sebuah hasil buruk yang menodai 'kampanye' awal Liverpool untuk mempertahankan gelar.

Sempat unggul tiga gol tapi disamakan, Liverpool merasakan tidak mudahnya move on

Karenanya, menjamu Salzburg di Anfield, kemenangan harus diraih. Sedih harus diubah jadi bahagia. Tak peduli dengan fakta, Salzburg sedang ganas-ganasnya. Lha wong ketika Liverpool kalah di pertandingan pertama, Salzburg malah meraih kemenangan hebat 6-2 atas RC Genk (18/9).

Yang terjadi, Kamis (3/10) dini hari tadi, Liverpool merasakan betapa move on itu sungguh tidak mudah. Pemain-pemain Liverpool merasakan, betapa laga 90 menit itu menghadirkan siklus bak huruf O. Bulat. Dari gembira, sedih, lantas kembali bahagia.

The Reds---julukan Liverpool mengawali pertandingan dengan sempurna. Mereka unggul cepat di menit ke-9. Gocekan Sadio Mane yang lantas melakukan umpan satu dua dengan Roberto Firmino, dituntaskan Mane menjadi gol, 1-0.

Di menit ke-25, dua full back Liverpool, Trent Alexander-Arnold dan Andy Robertson yang biasanya menjadi pengumpan dari sisi sayap lapangan, kali ini menjelma bak duet striker. Dalam skema serangan rapi, Robertson tiba-tiba sudah berada di depan gawang Salzburg dan mencocor bola sodoran Arnold. Liverpool unggul 2-0.

Sampai di sini, pelatih Liverpool, Juergen Klopp yang sebelumnya terlihat tegang, mulai bisa tersenyum. Klopp bisa mengepalkan tangannya ke udara. Dia bahagia. Apalagi ketika Mohamed Salah mencetak gol ketiga di menit ke-36. Dengan cekatan, dia menyambar bola muntah menyusul tangkapan tak sempurna kiper Salzburg usai menghalau sundulan Firmino.

Unggul tiga gol, dan bahkan bisa bertambah lagi, Liverpool sepertinya mudah saja untuk move on. Salzburg ternyata hanya hebat ketika main di kandangnya. Begitu mungkin pikir fans Liverpool ketika skor 3-0.

Namun, di menit ke-39, publik Anfield dikagetkan gol Hwang Hee-Chan. Anak muda Korea berusia 23 tahun ini berhasil menjebol gawang Liverpool. Yang mengagetkan, Hee-Can bisa memedaya Virgil Van Dijk. Untuk sesaat, bek terbaik Liga Champions musim lalu itu seperti amatiran. Dia hanya bisa melongo bola masuk ke gawang.

Di babak kedua, seperti lirik lagu yang sedang jadi viral itu, entah apa yang merasuki pemain-pemain Salzburg. Hingga, mereka bisa mendominasi permainan. Salzburg beberapa kali mendapatkan peluang.

Di menit ke-56, penyerang Salzburg asal Jepang, Takumi Minamino, membuat gawang Liverpool kembali bergetar. Dan, empat menit kemudian, seisi Anfield dibuat terbengong-bengong ketika anak muda Jepang berusia 24 tahun ini dengan mudah memedaya bek-bek Liverpool. Minamino bergerak licin di sisi kiri pertahanan Liverpool. Lantas, ia menyodorkan bola ke muka gawang Liverpool yang dengan mudah disambar Erling Haland yang tak terkawal, 3-3.

Gol ketiga itu dirayakan pemain-pemain Salzburg bak mereka memenangi final Liga Champions. Pelatih Salzburg asal Amerika Serikat, Jesse Marsch juga berlari menuju kerumunan pemainnya. Dia ikut bereuforia.

Sementara Juergen Klopp hanya bisa menatap kosong pemandangan selebrasi itu. Ia seperti kaget. Ternyata keunggulan tiga gol bisa disamakan Salzburg.

Namun, pemain-pemain Salzburg seperti lupa. Bahwa, pertandingan belum usai. Bahwa, siklus huruf O itu bisa terjadi. Bahwa yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia.

Begitulah yang terjadi. Gol penyama skor itu seperti membangunkan pemain-pemain Liverpool dari tidur di 15 menit awal babak kedua. Di menit ke-69, berawal dari pergerakan Fabinho memenangi bola. Firmino menyundul bola ke arah Mo Salah yang lantas diakhiri dengan sepakan placing ke pojok gawang Salzburg. Liverpool kembali unggul 4-3. 

Gol Salah dan gol ketujuh dalam pertandingan tersebut, ternyata menjadi yang terakhir. Pemain-pemain Liverpool tidak lagi sembrono. Di 20 menit terakhir, mereka bermain fokus dan solid.  

"Malam ini, kami mendapatkan pelajaran penting dari pertandingan ini. Kami kemasukan tiga gol karena begitu mudah kehilangan bola. Saya pikir setelah pertandingan saya akan marah, tetapi saya lantas sadar mengapa harus marah. Saya respek dengan lawan dan saya yakin kami bisa semakin bagus," ujar Klopp dikutip dari liverpoolfc.com  

Liverpool merindukan kehadiranAlisson

Meski menang, tetapi hasil itu memunculkan fakta. Bahwa Liverpool merindukan sang penjaga gawang utama, Alisson Becker. Kiper asal Brasil yang acapkali dipanggil "The German" karena punya silsilah keluarga Jerman ini masih dalam pemulihan cedera.

Alisson mengalami cedera di pertandingan pembuka Liga Inggris saat Liverpool menghadapi Norwich City pada 10 Agustus lalu. Kakinya salah tumpuan setelah melakukan tendangan gawang. Sejak itu, posisi Alisson digantikan kiper asal Spanyol, Adrian Castillo.

Penampilan Adrian dalam sembilan pertandingan yang dijalani Liverpool, sejatinya cukup bagus. Dia dua kali mencatat clean sheet. Termasuk ketika Liverpool mengalahkan Sheffield United 1-0 di Liga Inggris pada pekan lalu.

Namun, membandingkan Adrian dengan Alisson, jelas berbeda. Dari sisi ketenangan dan karisma yang membuat bek-bek Liverpool merasa nyaman, Alisson yang tahun ini terpilih sebagai The Best FIFA Goalkeeper, jelas di atas Adrian.

Faktanya, di pertandingan dini hari tadi, terlepas dari beberapa kali melakukan penyelamatan, Adrian juga melakukan blunder. Di awal babak kedua, dalam kesempatan melakukan tendangan gawang, bola sepakannya malah membentur pemain Salzburg. Untung saja, bola yang memantul, tidak masuk ke gawang sendiri. Tapi hanya beberapa senti di samping gawang.
 
Karenanya, Liverpool membutuhkan sosok Alisson di pertandingan besar seperti ini. Sebenarnya, kiper berusia 27 tahun ini sudah pulih dari cedera. Beberapa hari jelang laga melawan Salzburg, Alisson sudah mulai berlatih. Namun, Klopp menegaskan, dia tidak akan tergesa-gesa memainkannya. Klopp menyebut Alisson mungkin baru siap saat Liverpool menghadapi Manchester United di Old Trafford pada 20 Oktober mendatang.  

Namun, sebelum bertemu United, Liverpool terlebih dulu bertemu Leicester. Ya, akhir pekan ini, Liverpool akan menjamu Leicester pada pekan ke delapan Liga Inggris (5/10). Menariknya, Leicester akan datang ke Anfield dalam kondisi siap tempur.

Akhir pekan kemarin, Leicester yang kini dilatih mantan pelatih Liverpool, Brendan Rodgers, menang 5-0 atas Newcastle. Dua gol diantaranya dicetak Jamie Vardy. Karenanya, Liverpool harus bisa move on cepat dari drama susah move on melawan Salzburg. Klopp pun menyadari itu.

"Saya yakin, Brendan Rodgers berpikir bila kami bermain seperti ini saat melawan Leicester nanti, Jamie Vardy mungkin akan bisa lima kali melewati kiper kami," sebut Klopp.

Toh, bila kekalahan diibaratkan mantan, Liverpool tentu tidak mau mengingatnya kembali. Apa iya, setelah berhasil move on (menang) dari kekalahan atas Napoli di Liga Champions, mereka malah kembali ke pelukan 'mantan'.

Justru, dari laga melawan Salzburg dini hari tadi, Liverpool pastinya paham. Bahwa untuk move on itu susah. Karenanya, mereka pastinya enggan menukar bahagia dengan lara. Fans Liverpool pastinya ingin terus bahagia hingga akhir musim nanti. Salam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x