Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Teladan Pak Habibie dalam Perannya Sebagai Suami

11 September 2019   22:14 Diperbarui: 11 September 2019   22:29 0 8 2 Mohon Tunggu...
Teladan Pak Habibie dalam Perannya Sebagai Suami
Dua buku yang mengisahkan teladan pak Habibie dan Bu Ainun. Kehidupan rumah tangga Pak Habibie dan Bu Ainun, bisa menjadi teladan bagi siapa saja dalam membangun rumah tangga sakinah/Foto: Moh.Ali Mahrus


Pernah sewindu bekerja di media menjadi 'pintu pembuka' bagi saya untuk bisa berkenalan denga banyak tokoh di negeri ini. Saya berkesempatan mewawancara banyak narasumber. Dari 'orang biasa' hingga orang terkenal. Dari tokoh politik, pelatih sepak bola, ekonom, hingga presiden.

Bagi saya, mengenal banyak orang merupakan kesempatan belajar. Saya bisa menangkap berlembar-lembar inspirasi dari perjalanan hidup banyak orang. Betapa mayoritas mereka harus jatuh bangun sebelum bisa sukses dalam karier seperti sekarang. Lantas, dikenal banyak orang.

Namun, terkait figur dengan keberhasilan dalam merintis karier serta sukses membangun rumah tangga, tidak ada tokoh Indonesia yang saya kagumi melebihi sosok presiden ke-3 Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. 

Kisah hidup Prof H. BJ Habibie dengan Ibu Dr.Hj.Hasri Ainun Habibie, sungguh menjadi ilham bagi kita yang mencari resep spiritual dalam membangun rumah tangga sakinah. 

Pak Habibie dan Bu Ainun layak dijadikan role model oleh siapa saja dalam membangun rumah tangga yang sukses, adem, menyenangkan, dan menenangkan. 

Saya belajar banyak dari teladan Pak Habibie dalam menjalankan perannya sebagai suami. Saya masih ingat, 25 Mei 2011 silam, ketika menghadiahi istri, buku "Habibie & Ainun". Di tanggal itu, genap enam bulan kami hidup berumah tangga sejak menikah pada 25 November 2010.

Di halaman pertama buku tersebut, saya sengaja menuliskan sebuah pesan manis. Bunyinya begini: "menikah hanyalah tambahan status dari pertalian hati yang sudah terjalin kuat. 

Dalam kaitan ini, sebenarnya tidak ada bedanya setelah menikah. Yang ada, kita lebih saling menyayangi dan ikatan emosional kita semakin kuat" (suamimu). 

Tentu saja, kalimat itu, meski tulus, waktu itu, sejatinya sekadar paduan kata manis. Tidak lebih. Lebih tepatnya, sebuah pengharapan sekaligus memotivasi diri untuk terus belajar menyeleraskan ikatan enosional. Kiranya agak berlebihan bila menyebut baru menikah enam bulan sudah memiliki pertalian hati dan ikatan emosional yang kuat.

Karenanya, demi mewujudkan harapan itu, saya membeli buku itu. Sebab, Pak Habibie dan Bu Ainun adalah contoh nyata dari pasangan suami istri yang memiliki ikatan emosional kuat. Meminjam bahasanya pak Habibie: beliau berdua manunggal jiwa, roh, batin dan hati nurani.

Tentang pertalian hati yang sudah terjalin kuat itu, saya terkesima membaca kalimatnya Bu Ainun di sampul penutup buku tersebut. 

"Kami berdua suami-istri dapat menghayati pikiran dan perasaan masing-masing tanpa bicara. Malah antara kami berdua terbentuk komunikasi tanpa bicara, semacam telepati".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2