Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Saatnya Akhiri "Paceklik Gelar" di Kejuaraan Bulutangkis Asia

23 April 2019   07:40 Diperbarui: 23 April 2019   08:31 0 8 4 Mohon Tunggu...
Saatnya Akhiri "Paceklik Gelar" di Kejuaraan Bulutangkis Asia
Jonatan Christie (paling kiri) dan Anthony Ginting (dua dari kanan), berpeluang juara di Kejuaraan Bulutangkis Asia 2019/Foto: Twitter Badminton Ina

Pekan ini, Badminton Asia Championship 2019 alias Kejuaraan Bulutangkis Asia, akan digejar di Kota Wuhan, Tiongkok. Kejuaraan bulutangkis perorangan level tertinggi di benua Asia yang digelar tahunan ini akan dimulai 23 April hingga 28 April mendatang. Hampir semua pebulutangkis top Asia akan tampil demi memperebutkan predikat sebagai pebulutangkis terbaik Asia di 2019.

Indonesia melalui PBSI mengirimkan 20 pemain/pasangan yang akan tampil di lima nomor yang di pertandingkan, masing-masing empat wakil di sektor tunggal putra/putri, ganda putra/putri dan ganda campuran. Kepada mereka, harapan untuk mengakhiri paceklik gelar di Kejuaraan Bulutangkis Asia, disematkan.

Ya, dari tahun ke tahun, Badminton Asia Championship (BAC) memang bukan kejuaraan yang 'ramah' bagi pemain-pemain Indonesia. Faktanya, pemain-pemain Indonesia tak pernah mampu meraih gelar dalam empat penyelenggaraan terakhir. Gelar juara Kejuaraan Asia terakhir kali diraih pada 2015 silam lewat pasangan ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang sudah pensiun.

Malah, di empat nomor lainnya, paceklik gelar semakin panjang. Ambil contoh di tunggal putra, sudah 12 tahun Indonesia tak pernah juara setelah Taufik Hidayat meraihnya pada 2007 silam. Begitu juga di sektor ganda putra, tahun ini memasuki 10 tahun sejak Hendra Setiawa/Markis Kido juara pada 2009 silam.

Bagaimana kali ini?
Merujuk pada penampilan terkini di dua turnamen BWF World Tour yang digelar selama April ini yakni di Malaysia Open dan Singapore Open, sektor tunggal putra yang diwakili empat pemain, yakni Anthony Sinisuka Ginting, Tommy Sugiarto, Jonatan Christie, dan Shesar Hiren Rhustavito berpeluang meraih gelar.

Merujuk pada penampilan di dua turnamen itu pada dua pekan lalu, Ginting dan Jojo akan bisa melangkah jauh bila mampu tampil konsisten. Di Singapore Open, Ginting bisa mengalahkan Chen Long dan Chou Tien Chen sebelum kalah dari Momota di final. Ketiganya merupakan unggulan utama di Kejuaraan Asia 2019. Sementara Jonatan bisa mengalahkan Momota di Malaysia Open sebelum kalah dari Chen Long di semifinal. Ah, semoga mereka bisa tampil konsisten.

Sementara di sektor tunggal putri, menarik ditunggu bagaimana hasil polesan pelatih baru, Rionny Mainaky. Dengan pengalaman melatih Jepang dan telah berhasil mengorbitkan tunggal putri Jepang ke level atas dunia, Rionny yang melatih sejak awal April, diharapkan bisa membawa tunggal putri Indonesia berprestasi bagus.

Memang, trio andalan Indonesia, Fitriani, Gregoria Mariska dan Ruselli, belum mampu melangkah jauh di Malaysia Open dan Singapore. Namun, semuanya tentu butuh proses.

Saya tertarik membaca komentar Fitriani ketika diwawancara oleh badmintonindonesia.org dalam persiapan menuju BAC 2019. Fitriani menyebut bahwa Rionny pelatih disiplin dan tegas. Dia juga menyebut Rionny menyisipkan latihan fisik selain teknik.

Pecinta bulutangkis pastinya paham, bahwa kendala fisik inilah yang acapkali menjadi kendala terbesar bagi tunggal putri Indonesia. Mereka acapkali "kehabisan bensin" ketika harus bermain rubber game. 

"Targetnya memang meningkatkan kekuatan fisik kami. Saya mau dapat hasil maksimal di turnamen ini," ujar Fitriani.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2