Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

MU, Liga Champions dan "Roda Nasib" yang Berputar

12 Februari 2019   13:06 Diperbarui: 13 Februari 2019   00:28 155 6 2
MU, Liga Champions dan "Roda Nasib" yang Berputar
Man.United bersiap menghadapi Paris SG di babak 16 besar Liga Champions/Twitter man.utd


Tengah pekan ini, Liga Champions musim 2018/19 akan kembali bergulir dengan memainkan babak knock out 16 besar. Empat pertandingan akan dimainkan pada Selasa (12/2) malam waktu Eropa atau dini hari nanti waktu Indonesia serta Rabu (13/2) malam waktu Eropa.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah perjumpaan klub Inggris, Manchester United (MU) menghadapi klub Prancis, Paris Saint Germain (PSG). Di laga pertama, Man.United akan menjamu PSG di Old Trafford pada dinihari nanti.

Perjumpaan MU dan PSG menjadi salah satu big match di babak 16 besar selain pertemuan Liverpool melawan Bayern Munchen pada tengah pekan depan. Namun, laga MU vs PSG bukan sekadar duel besar. Tetapi juga contoh nyata bahwa cerita dalam sepak bola itu sangat dinamis. Roda terus berputar.

Masih segar dalam ingatan ketika UEFA menggelar drawing babak 16 besar pada 18 Desember lalu, ada banyak masyarakat digital yang menyebut MU ketiban sial harus bertemu PSG. Apes. Beberapa komentar di laman media sosial menyebut PSG bakal autololos ke perempat final.

Kala itu, komentar-komentar tersebut cukup masuk akal. Lha wong penampilan MU kala itu memang menyedihkan. Jelang undian tersebut, MU mengalami kekalahan beruntun, 1-2 dari Valencia di laga terakhir fase grup Liga Champions (13/12) dan 1-3 dari Liverpool (16/12) di Liga Inggris dan tercecer di peringkat 8 di klasemen Premier League.

Kekalahan dari Liverpool itu membuat MU akhirnya 'tega' memutus kontrak Jose Mourinho. Mou dipecat. Dan, dua hari setelah drawing Liga Champions tersebut, manajemen MU lantas menunjuk mantan pemain mereka, Ole Gunnar Solskjaer untuk mengisi posisi Mourinho.

Yang terjadi kemudian, sampean (Anda) pastinya tahu. Kekalahan dari Liverpool itu menjadi yang terakhir yang diderita MU, hingga kini. Solskjaer yang awalnya diragukan merujuk 'rapor buruk' beberapa anak asuh Sir Alex Ferguson kala menjadi pelatih, ternyata mampu menggerakkan "roda" MU yang awalnya di bawah, mendadak berada di atas.

Dimulai dari kemenangan 5-1 atas Cardiff City (23/12) dan akhir pekan kemarin menang 3-0 atas tuan rumah Fulham (9/2), membuat MU era Solskjaer mencatat rapor unbeatable alias tak terkalahkan dalam 11 pertandingan.

Fakta itu rasanya cukup untuk membuat fans MU pede timnya bakal bisa mengalahkan PSG. Di website resmi klubnya, Solskjaer berharap pemain-pemainnya meduplikasi semangat tim United di masa lalu yang selalu punya motivasi hebat bila tampil di Liga Champions.

Dalam sesi wawancara, Ole menyinggung kembali penampilan hebat United di Liga Champions ketika dirinya masih menjadi pemain. Selain gelar paling dramatis saat menjuarai Liga Champions 1999 di Camp Nou lewat dua gol dalam 111 detik ke gawang Bayern Munchen di masa injury time, Ole juga menyebut kemenangan 7-1 atas AS Roma di leg II babak perempat final, pada April 2007 sebagai salah satu yang berkesan. Padahal, di leg pertama di Roma, United kalah 1-2.

"Kala itu, bos (Sir ALex Ferguson) berujar kita akan baik-baik saja kita akan menang di rumah. Dia begitu percaya pada kemampuan kami. Jadi, saya juga begitu. Tentu saja PSG lawan yang tangguh. Mereka punya banyak pemain kelas dunia. Tapi, pertandingan besar seperti ini selalu memunculkan antusiasme berbeda. Saya ingin pemain-pemain saya bermain percaya diri dan menikmati pertandingan," ujar Solskjaer dikutip dari www.manutd.com.

Sementara PSG mengalami kebalikan dari apa yang dialami oleh MU. Ketika pengundian dulu, PSG tampil super hebat. Dari 16 pertandingan di Ligue 1 Prancis, PSG tak terkalahkan dengan meriah 14 kemenangan dan dua kali imbang. PSG juga memuncaki klasemen penyisihan grup Liga Champions dengan mengungguli Liverpool dan Napoli.

Memang, hingga kini, PSG tetap tampil digdaya di Liga Prancis. Dari 22 laga, mereka baru kalah sekali. PSG datang ke Old Trafford dengan membawa bekal kemenangan 1-0 atas Girondins Bordeaux di pekan ke-22 Ligue 1 Prancis, Sabtu (9/2). Hasil itu membuat PSG semakin kokoh memimpin klasemen dengan keunggulan 10 poin dari peringkat kedua, Lille.

Namun, yang berbeda, PSG tidak akan tampil dengan kekuatan terbaiknya. Tidak berlebihan bila menyebut mereka kini 'pincang'. Utamanya di lini depan. Setelah Neymar dipastikan out karena cedera, PSG juga harus mengikhlaskan Edinson Cavani tidak tampil di Old Trafford. Penyerang asal Uruguay ini cedera di Liga Prancis pada akhir pekan kemarin. Cavani hanya bermain di babak pertama saat melawan Bordeauex. Plus, pemain Timnas Belgia Thoma Meunier juga absen karena cedera.

Meski begitu, Tuchel menyebut PSG tidak akan mengubah strategi timnya. Dia menyebut PSG akan tetap bermain menyerang meski tanpa Neymar dan Cavani di Old Trafford. PSG masih punya Kylian Mbappe, Julian Draxler dan Angel Di Maria yang merupakan mantan pemain MU.

"Tentu saja kami akan merindukan beberapa pemain utama dan kunci penyerangan. Namun, kami tidak akan mengubah identitas klub. Kami punya tradisi bermain menyerang. Dengan cara itulah kami akan bermain," ujar Tuchel.

Tanpa Neymar dan Cavani, rasanya sulit membayangkan PSG bisa tampil ganas di Old Trafford melawan MU yang nyaris full team dan tengah on fire. Bayangan warganet setelah drawing pertengahan Desember dulu, rasanya kini sudah berbalik. MU kini bukan lagi pesakitan. Justru, mereka kini unggulan. Ah, roda kehidupan memang berputar, termasuk di sepak bola. Salam.