Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Mengagumi "Kesetiaan Menulis" Para Senior di Kompasiana

28 September 2018   16:36 Diperbarui: 28 September 2018   18:11 0 8 6 Mohon Tunggu...

Bagaimana caranya untuk membedakan seorang penulis yang baik dan penulis yang buruk? Setiap orang mungkin punya jawaban bersinya masing-masing. Semisal penulis yang tidak melakukan praktek pencurian ide (baca sekadar copy paste tulisan orang lain).

Namun, mengutip ujaran Jeff Goins, pemilik situs goinswriter.com, untuk membedakan antara penulis yang baik dengan penulis yang buruk, ternyata bukan hanya dari kualitas tulisan yang dihasilkan. Ya, perbedaan perbedaan keduanya tidak pernah terkait skill atau gaya menulis. Menurut dia, seorang penulis yang buruk akan mudah menyerah dan berhenti. Sedangkan penulis yang baik akan terus menulis.

Nah, merujuk pada ujaran Jeff Goins tersebut, di 'rumah besar' bertanda nama Kompasiana ini, ada banyak penulis baik yang istiqomah, konsisten dan tetap setia untuk terus menulis. Ada banyak nama yang telah membangun reputasi masing-masing lewat ketertarikannya menulis di bidang tertentu.

Kalau harus menyebut nama, di ranah politik ada mas Tilaria Padika, mas Susy Haryawan, mas Yon Bayu dan mas Pebrianov yang tulisan-tulisannya hampir setiap hari berseliweran di Kompasiana.

Lalu di ranah "per-cerpen-an dan per-puisi-an", ada Latifah Maurin, pak Edy Priyatna dan pak Rustian Al Ansori, juga mbak Indria Salim dan mbak Liliek Fatimah Azzahra yang juga istiqomah menulis. Dan di kanal olahraga ada mas Arnold Adoe dan Pria Ibra yang juga konsisten membagikan ulasan-ulasannya. Serta mas Katedrarajawen yang rajutan kalimat-kalimatnya seperti punya daya pikat.

Namun, dari semua nama tersebut, juga nama-nama yang mungkin terlupakan belum disebut, ada beberapa nama yang tidak hanya baik seperti ujaran Jeff Goins itu, tetapi mereka juga layak menjadi panutan. Panutan karena mereka berhasil menjaga 'kesetiaan menulis' di usia yang tidak muda lagi.

Bila semangat menulis itu diibaratkan 'nyala api', saya mengagumi kepiawaian pak Tjiptadinata Effendi, pak Hendro Santoso dan juga pak Mawan Sidarta karena telah mampu menjaga semangat itu tetap menyala meski sejatinya tidak mudah.

Ya, tidak mudah bisa memiliki motivasi untuk terus menulis di usia yang tidak muda lagi. Kalau tekadnya tidak kuat, akan sangat sulit sekadar menghasilkan satu tulisan per hari. Lebih mudah untuk sekadar membaca berita-berita di Kompasiana, membaca koran, menonton televisi atau beraktivitas dengan anak dan cucu.

Pernah cukup lama bekerja di "pabrik koran" lantas bekerja di instansi pemerintah yang tidak jauh dari tulis-menulis membuat saya memiliki referensi cukup tentang tipikal orang-orang yang katanya bekerja menulis.

Jangan salah, tidak semuanya rajn menulis lho. Malah ada yang sekadar menunggu 'kiriman' berita dari kawan seprofesinya ataupun menunggu berita rilis yang dikirim melalui email. Malah dulu ada plesetan "cnn" alias cuma nanya-nanya (narasumber) tetapi tidak ditulis.

Bahkan ada juga yang sekadar orientasi nya nyari duit. Bahwa datang (lalu menulis) harus ada duitnya. Kalau tidak ada duitnya bisa jadi tidak ditulis. Mereka inilah yang pada akhirnya 'merusak' marwah profesi yang mereka akui mereka jalani (meski sebenarnya secara kompetensi belum pantas masuk profesi ini).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
28 September 2018