Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Pemain Indonesia "Kehilangan Panggung" Bila Bertemu Pemain Unggulan

5 Juli 2018   13:28 Diperbarui: 5 Juli 2018   13:45 527 2 3
Pemain Indonesia "Kehilangan Panggung" Bila Bertemu Pemain Unggulan
Jonatan Christie tereliminasi di putaran pertama Indonesia Open 2018 usai kalah dari tunggal putra ranking 1 dunia, Viktor Axelsen/Foto: Twitter InaBadminton

Mulai Selasa (3/7) kemarin hingga 8 Juli 2018 mendatang, Istora Gelora Bung Karno Jakarta menjadi panggung digelarnya turnamen bulutangkis BliBli Indonesia Open 2018. Turnamen level teratas dalam rangkaian seri BWF World Tour berhadiah total 1.250.000 USD ini diikuti pebulutangkis-pebulutangkis top dunia di lima nomor yang dipertandingkan (tunggal putra/putri, ganda putra/putri dan ganda campuran).

Sebagai tuan rumah, Indonesia juga menurunkan pemain-pemain terbaiknya. Di turnamen yang mulai tahun ini tidak memberlakukan babak kualifikasi, total ada 31 pemain Indoesia yang tampil. Di nomor tunggal putra, ada tiga pemain Indonesia yang tampil. Yakni Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto. Kemudian 4 pemain tunggal putri yakni Fitriani, Dinar Dyah Ayustine, Gregoria Mariska dan Lyanny Mainaky yang menjadi pemain PFR (promoted from reserves) alias promosi ke babak utama.

Sementara di nomor ganda, Indonesia memiliki cukup banyak wakil yang tampil. Yakni tujuh (7) pasangan ganda putra, kemudian 10 pasangan ganda putri dan tujuh (7) pasangan ganda campuran.

Dan, berstatus tuan rumah bukan berarti pemain-pemain Indonesia mendapatkan drawing mudah. Justru, ada beberapa pemain Indonesia yang langsung bertemu lawan-lawan 'kelas berat' di putaran pertama. 

Diantaranya Jonatan Christie yang menghadapi unggulan 1 asal Denmark yang juga tunggal putra rangking 1 dunia, Viktor Axelsen. Sementara di tunggal putri, Fitriani bertemu juara dunia 2013 yang juga unggulan 4 asal Thailand, Ratchanok Intanon dan Dinar Dyah bertemu pemain berpengalamn India, Saina Nehwal. Sementara di sektor ganda, pasangan ganda putri, Della Destiara Haris/Rizki Amelia Pradipta bertemu unggulan 2 asal Jepang, Sayaka Hirota/Yuki Fukushima.

Jelang pertandingan, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti sebenarnya sudah membesarkan hati mereka yang bertemu unggulan. Bahwa namanya pertandingan, PBSI tidak bisa memilih lawan karena sudah ditentukan undian. Dia berharap dukungan suporter Istora akan membuat pemain-pemain Indonesia tampil heroik.

Dan memang, dukungan suporter Indonesia yang memenuhi Istora, tetap seperti dulu. Riuh membahana. Suporter bulutangkis Indonesia selalu istimewa. Bahkan paling istimewa dibanding suporter tuan rumah di negara manapun.

Namun, dukungan dashyat suporter Indonesia rupanya belum mampu untuk mengundang kejutan di lapangan yang dibuat pemain Indonesia. Dari 17 pemain Indonesia yang tampil di putaran pertama hari pertama 3 Juli lalu, sembilan (9) pemain langsung terhenti. Dari sembilan pemain Indonesia yang langsung terleminasi, beberapa di antaranya kalah dari pemain unggulan.

Fitriani yang tampil di pertandingan pertama, kakinya seperti berat untuk menjelajah setiap sudut lapangan seperti yang dulu pernah ia perlihatkan dan menjadi salah satu kelebihannya. Fitri kalah dengan skor cukup mencolok, 8-21, 16-21 dari Intanon. Sementara Dinar kalah 12-21, 12-21 dari Saina.

Jonatan Christie juga mengalami nasib serupa. Dia kalah dua game langsung, 10-21, 19-21 dari Axelsen. Kekalahan dua game langsung ini bahkan lebih buruk dari pertemuan Jonatan dengan Axelsen di perempat final Malaysia Masters pada Januari 2018 lalu. Kala itu, Jonatan sempat memaksa rubber game meski akhirnya kalah 15-21, 21-19, 12-21

Dikutip dari badmintonindonesia.org, Fitriani mengaku sebenarnya sudah mempelajari permainan Intanon. Namun, dia mengaku kalah matang dengan Intanon dari segi pukulan yang disebutnya sangat bervariasi. Bagaimana dengan Jonatan?

"Banyak yang harus saya perbaiki lagi ke depannya dari segi percaya diri, pertahanan, dan terutama mentalitas," sebutnya.

Ah, menunggu terjadinya kejutan di bulutangkis memang terkadang tidak sesederhana menyaksikan terjadinya kejutan di lapangan sepak bola. Bulutangkis memang seringkali tidak mengenal "teori" bahwa pemain tuan rumah akan memiliki 'panggung' untuk membuktikan kemampuannya di hadapan ribuan suporter yang mendukungnya seperti yang dipertontonkan Timnas Rusia di Piala Dunia 2018.

Saya yakin, baik Fitriani maupun Jonatan tidak tampil grogi di depan publik Istora. Mereka pemain-pemain yang terbiasa bertanding di belahan dunia manapun sehingga mental mereka sudah kuat. Justru, mereka tampil lebih termotivasi.

Hanya saja, di bulutangkis, kualitas kelas dunia yang terwujud dalam kemampuan (skill) dan mental pemain unggulan, terkadang tidak bisa diintimidasi oleh motivasi besar pemain tuan rumah maupun dukungan suporter tuan rumah. Mereka tetap bisa bermain tenang dengan standar mereka. Malah, si pemain tuan rumah yang ingin memenuhi harapan suporter, seringkali "kehilangan panggung" nya akibat lawan yang memang tidak mudah dimatikan. Ya, Istora bisa menjadi panggung bagi siapa saja yang memang paling siap menang di lapangan.

Namun, apapun hasilnya, bisa sering bertemu pemain kelas dunia akan sangat penting bagi pemain-pemain Indonesia selama bisa melakukan evaluasi untuk perbaikan penampilan. Harapannya, dengan melihat langsung cara main dan startegi pemain kelas dunia, pemain kita bisa menaikkan level permainannya. Siapa tahu di pertemuan-pertemuan berikutnya, pemain Indonesia bisa tampil jauh lebih bagus Syukur-syukur bisa "mencuri panggung" pemain unggulan yang selalu mendapat porsi besar dalam pemberitaan media-media internasional. Salam.