Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Surat Cinta untuk PBSI; Segera Move on ya Usai Gagal di Malaysia Open (1)

2 Juli 2018   16:42 Diperbarui: 2 Juli 2018   17:00 472 1 1
Surat Cinta untuk PBSI; Segera Move on ya Usai Gagal di Malaysia Open (1)
Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie perlu tampil lebih garang?Foto: Twitter/InaBadminton

Ketika PBSI menargetkan meraih satu gelar di turnamen Malaysia Open 2018 yang digelar 26 Juni hingga 1 Juli 2018 kemarin, saya sempat nyelethuk dalam hati "apa nggak terlalu sedikit". Dengan mengirimkan hampir semua pemain utama di lima nomor, rasanya satu gelar kok terlalu sedikit.

Namun, ketika final Malaysia Open 2018 digelar dengan tanpa satupun wakil dari Indonesai, target itu ternyata benar-benar diukur oleh PBSI. Pertanyaannya, mengapa target membawa pulang satu gelar dengan menurunkan hampir semua pemain "papan atas" Pelatnas kok susah diwujudkan.

Padahal, gelar di Malaysia Open bukan bermakna sebatas gelar. Namun, juga paramater kesiapan pemain-pemain Indonesia menghadapi turnamen-turnamen besar selama Juli hingga Asian Games Agustus mendatang.

Ya, ada cukup banyak uneg-uneg yang ingin disampaikan untuk menjawab pertanyaan ini. Dan, untuk surat cinta bagian pertama ini, saya ingin lebih banyak mengulas perihal penampilan tunggal putra/putri Indonesia di Malaysia Open 2018.Dua tunggal putra Pelatnas "tertikung"

Di Malaysia Open 2018 yang tidak lagi mempertandingkan babak kualifikasi tetapi langsung babak 32 besar, Indonesia memiliki tiga wakil di tunggal putra. Yakni Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Tommy Sugiarto.

Merujuk pada daftar pemain-pemain top dunia yang tampil seperti Viktor Axelsen, Son Wan-ho, Srikanth Kidambi, Shi Yuqi, Chen Long, Lin Dan dan Lee Chong Wei, cukup berat peluang tunggal putra Indonesia untuk juara. Terlebih, jadwal langsung mempertemukan Ginting dengan pemain Jepang yang penampilannya tengah on fire, Kento Momota.

Dan memang, Ginting langsung out di putaran pertama. Dia kalah rubber game. Padahal, Ginting sempat unggul di game pertama atas tunggal putra juara Kejuaraan Badminton Asia 2018 ini tetapi kemudian "tertikung" di game kedua dan ketiga.

Dari tiga tunggal putra Indonesa, justru Tommy Sugiarto yang merupakan pemain non Pelatnas yang tampil keren. Meski bukan unggulan, dia mampu mengalahkan unggulan 3 yang juga juara All England Open 2018 asal Tiongkok, Shi Yuqi di perempat final. Sayangnya, Tommy tak kuasa membendung laju Lee Chong Wei di semifinal, sang raja tunggal putra Malaysia Open yang akhirnya meraih gelar ke-12 sejak tahun 2004.

Sementara Jonatan Christie rontok di round 2 usai kalah dari pemain Prancis, Brice Leverdez dengan skor 21-10, 17-21, 23-25. Padahal, Jonatan sempat beberapa kali unggul. Termasuk unggul 16-12 dan 20-18 di game ketiga. Kok bisa kalah? Inilah yang perlu menjadi perhatian serius bagi pelatih tunggal putra di PBSI.

Dalam wawancara dengan Badmintonindonesia.org, Jonatan menyebut kejadian "tertikung" ketika sedang unggul seperti itu sudah dialaminya di 2-3 turnamen belakangan.

Setiap poin penting ketika sedang leading, dirinya justru di bawah tekanan karena lawan lebih berani dan mempercepat permainan. "Kalau soal fokus sih saya fokus di lapangan, tidak blank. Mungkin kematangan stroke dan strategi saya yang masih harus ditingkatkan," ujarnya.

Bagi pemain sekelas Jonatan yang levelnya sudah dunia, rasanya sudah tidak ada kata buru-buru ingin menang yang berakibat pada unforced errors, apalagi grogi ketika di poin-poin kritis. Seperti penuturannya, dia seharusnya tampil lebih garang sembari tetap fokus ketika di poin-poin kritis sehingga tidak lagi "kena tikung" lawan.

Ya, Jonatan kudu lebih garang. Terlebih, di Indonesia Open yang dimulai Selasa (3/7/2018) besok, jadwal membuatnya langsung berhadapan dengan lawan kelas berat, tunggal putra rangking 1 dunia asal Denmark, Viktor Axelsen.

 Tunggal putri wajib tingkatkan ketahanan

Sementara di tunggal putri, tiga wakil Indonesia di Malaysia Open 2018, Dinar Dyah Ayustine, Fitriani dan Gregoria Mariska Tunjung, semuanya out di putaran pertama.

Bila harus ada yang disalahkan, jadwal-lah biangnya. Betapa tidak, ketiganya sudah harus berjumpa para unggulan di round 1. Dinar bertemu pemain rangking 2 dunia asal Jepang, Akane Yamaguchi, Fitriani bertemu unggulan 8 asal Korsel, Sung Ji-hyun dan Gregoria Mariska bertemu peraih medali emas Olimpaide 2016 yang juga juara dunia 2014 dan 2015 asal Spanyol, Carolina Marin.

Bila seperti itu, berpikir realistis bukanlah sebuah dosa sembari berharap tercipta kejutan. Kabar bagusnya, meski kalah, Dinar, Fitri dan Jorji mampu memaksa pemain top dunia itu bermain rubber game. Minimal kekalahannya tidak dengan 'skor sadis'.

Dinar kalah 21-17, 12-21, 13-21, lalu Fitriani kalah 11-21, 24-22, 12-21 dan Gregoria kalah 4-21, 21-18, 8-21. Kita perlu mengapresiasi perjuangan mereka.

Namun, bangga bisa menyulitkan pemain to dunia menurut saya sejatinya sekadar pelipur lara. Ada 'pekerjaan rumah' yang mesti dibenahi dari kekalahan itu. Apa?  Tiga tunggal putri Indonesia seolah "kehabisan bensin" ketika memainkan game ketiga. Mereka habis-habisan di game pertama atau di game kedua, tetapi kemudian tak berdaya di game ketiga.

Padahal, kecuali Dinar Dyah (24 tahun) yang lebih berumur dibanding Yamaguchi (21 tahun), Gregoria (18 tahun) lebih muda dari Marin (25 tahun), juga Fitri (19 tahun) dibanding Sung Ji-hyun (26 tahun). Secara ketahanan fisik, tunggal putri Indonesia sejatinya masih bisa digenjot lagi. Meski, fisik kuat saja tidak cukup karena bila gagal mengimbangi permainan lawan, fisik akan mudah terkuras.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2