Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Pujian Lee Chong Wei dan "Jalan" Ginting-Jonatan Menuju Pemain Top Dunia

4 Juni 2018   13:38 Diperbarui: 4 Juni 2018   19:55 2046 6 3
Pujian Lee Chong Wei dan "Jalan" Ginting-Jonatan Menuju Pemain Top Dunia
Anthony Ginting, punya potensi untuk bersaing di level teratas tunggal putra dunia/Foto: BadmintonPlanet.com

Setiap cabang olahraga punya bintang utama. Ada superstar-nya. Dan karena berstatus superstar, maka apapun yang dilakukan dan disampaikan oleh sang bintang utama, akan menarik untuk dilihat dan didengar.

Di bulutangkis era kekinian, Lee Chong Wei adalah salah satu superstar nomor tunggal putra. Pengalaman panjang dan berbagai gelar membuat pemain berusia 35 tahun ini menjadi salah satu idola. Dan layaknya superstar, apapun yang dia sampaikan, akan langsung jadi berita utama.

Seperti akhir kemarin, dalam sebuah wawancara usai bertemu Academy Badminton Malaysia (ABM), LCW mengkritisi beberapa pemain muda Malaysia yang menurutnya tidak layak berada di tim nasional Malaysia karena penampilannya stagnan meski telah beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka.

Menariknya, dalam wawancara itu, LCW menyebut dua pemain tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie sebagai pilihan role model bagi pemain-pemain muda Malaysia jika ingin menapaki tangga menuju pemain terbaik dunia.

"Players like Axelsen, Kento Momota (Japan), Kenta Nishimoto (Japan), Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia) and Jonatan Christie (Indonesia) are young players who are already up there among the best in the world".

Begitu pernyataan Lee Chong Wei yang dikutip dari New Straits Times. Pernyataan yang menurut saya sangat menarik. Menarik karena ketika dua tunggal putra Indonesia sempat "panen kritik" di negeri sendiri usai kegagalan di Piala Thomas 2018, keduanya justru mendapat apresiasi tinggi dari seorang bintang utama di nomor ini.

Apakah kritikan terhadap Ginting dan Jonatan selama ini keliru? Ah, tidak ada yang keliru dengan kritikan terhadap mereka karena memang disampaikan untuk perbaikan kualitas keduanya. Apalagi, kritikan tersebut disampaikan oleh para legenda bulutangkis seperti Liem Swie King.

Lalu, apakah apresiasi LCW kepada Ginting dan Jonatan salah tempat? Sebagai pemain yang seringkali mengamati permainan Gnting dan Jonatan serta juga beberapa kali berhadapan langsung di turnamen-turnamen level atas, LCW pastinya paham potensi dua pemain Indonesia ini. Jadi, tidak ada yang salah dari pujian LCW.

Namun, yang terpenting dari pernyataan LCW tersebut adalah pesan yang harus bisa ditangkap oleh Ginting dan Jonatan. Bahwa mereka sebenarnya punya potensi untuk "meledak" menjadi tunggal putra hebat di level dunia seperti halnya Viktor Axelsen (Denmark) dan duo Jepang, Kento Momota dan Kenta Nishimoto. Hanya saja, entah karena belum sadar potensi atau karena memang "belum siap", penampilan Ginting dan Jonatan masih jauh dari kata konsisten.

Anthony Ginting, punya potensi untuk bersaing di level teratas tunggal putra dunia/Foto: BadmintonPlanet.com
Anthony Ginting, punya potensi untuk bersaing di level teratas tunggal putra dunia/Foto: BadmintonPlanet.com
Bicara potensi, ketika tahun 2017 lalu Ginting dan Jonatan tampil di final Korea Open Super Series yang dimenangi Ginting, keduanya sebenarnya telah mengetahui standar yang seharusnya bisa mereka raih dalam setiap penampilan di turnamen BWF World Tour. 

Pun, di awal tahun 2018 ini, ketika Ginting jadi juara Indonesia Masters dengan terlebih dulu menaklukkan "lawan kelas berat" seperti Chen Long di perempat final, Chou Tien-chen di semifinal dan Kazumasa Sakai, itu seharusnya menjadi reminder bagi Ginting.

Sementara perihal potensi Jonatan, jangan lupa bagaimana dia selalu menang saat diplot sebagai tunggal pertama tim putra Indonesia di Badminton Asia Team Championship di Alor Setar, Malaysia pada Februari lalu. 

Peraih medali emas SEA Games 2017 ini bahkan mengalahkan pemain-pemain ranking top 10 dunia seperti Srikanth Kidambi (India), Kenta Nishimoto (Jepang), Son Wan-ho (Korea) dan Shi Yuqi (China). Seharusnya, penampilan itulah yang menjadi standar Jonatan bila ingin menapaki jalan sebagai tunggal putra top dunia.  

Yang terjadi, keduanya memang masih harus banyak berbenah. Kegagalan di final Piala Thomas saat bertemu China, seharusnya menjadi cambuk bagi mereka untuk semakin lebih baik lagi. Betapa tidak, Ginting dan Jonatan kalah dari pemain yang sebelumnya bisa mereka kalahkan (Chen Long dan Shi Yuqi).

Jonatan Christie, punya kualitas tapi harus lebih meningkatkan ketahanan fisik/Foto: BWFbadminton.com
Jonatan Christie, punya kualitas tapi harus lebih meningkatkan ketahanan fisik/Foto: BWFbadminton.com
Segala kritikan, salah satunya dari legenda seperti Liem Swie King agar Jonatan lebih meningkatkan ketahanan fisiknya sehingga bisa terus on fire meski melakoni rubber game, seharusnya masuk dalam daftar teratas untuk memperbaiki penampilan. Karena memang, di era bulutangkis kekinian, fisik prima menjadi keharusan selain teknik dan kemampuan membaca permainan lawan. 

Terlebih, tunggal putra kini sudah identik dengan permainan saling serang seperti yang dipertontonkan Axelsen, Momota dan tentu saja LCW. Jangankan tunggal putra, di sektor tunggal putri pun kini sudah diwarnai dengan permainan adu smash ala Tai Tzu Ying, Pusarla Shindu atau Ratchanok Intanon yang tidak lagi jual beli "pukulan rally".

Menutup tulisan ini, saya senang mengandaikan upaya Ginting dan Jonatan dalam menapaki jalan menjadi tunggal putra top dunia, seperti tengah menaiki gunung tinggi bermedan berat. Keduanya sebenarnya pernah sampai di puncak. Dan itu bukan kebetulan. Keduanya tahu jalan menuju puncak. Hanya saja, terkadang mereka "lupa" dan juga tak mampu menaklukkan rintangan di tengah perjalanan sehingga gagal menggapai puncak.

Ah, semoga Ginting dan Jonatan mau untuk terus berproses menjadi lebih baik, serta terus mengevaluasi kekurangannya. Sebab, suka atau tidak suka, merujuk pada usia (Ginting 21 tahun/Jonatan 20 tahun) dan rangking di BWF saat ini, keduanya adalah tunggal putra andalan Indonesia saat ini.

Pun, bila dua tahun lagi Indonesia ingin juara Piala Thomas 2020, rasanya akan banyak bergantung bagaimana penampilan serta pencapaian Ginting dan Jonatan dalam dua tahun ke depan. Termasuk juga pemain-pemain muda seperti Ihsan Maulana Mustofa, Firman Abdul Kholik ataupun Panji Ahmad Maulana. Bila mereka berhasil konsisten di level atas, bersiaplah menyambut kabar bagus di tahun 2020 mendatang. Salam.