Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi. Ayo ikut "Cerahkan Indonesia" dengan berbagi kabar baik. Karena ada banyak hal hebat di dekat kita. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com. Instagram @HadiSantoso08/Twitter @HadiSantoso08

Selanjutnya

Tutup

Wanita

Merayakan Kebaikan Ibu yang Mereka Sebut "Ibu Tiri"

3 Januari 2018   23:08 Diperbarui: 3 Januari 2018   23:15 660 0 0

Ada banyak kata untuk menyebut perempuan istimewa yang melahirkan kita. Selain ibu, juga ada kata bunda, mama, mom, emak, mamak dan masih banyak kata lainnya. Toh, sebanyak apapun padanan kata ibu itu, kita masih bisa mengingatnya.

Beda cerita bila kita harus mengingat kembali kebaikan-kebaikan ibu kepada kita. Berlembar-lembar kertas kosong tidak akan cukup untuk menuliskan kebaikan yang telah diberikan ibu kepada anak-anaknya. Sebab, kebaikan ibu terus mengaliri kita. Dari masih bayi hingga bertumbuh dewasa, bahkan meski anak-anaknya sudah berkeluarga. Ya, semua anak telah mendapatkan kado dari ibunya.

Bagi saya, hadiah pemberian ibu yang paling berkesan adalah ilmu tentang menjadi manusia yang bisa memanusiakan orang lain tanpa melihat latar belakang apapun. Ibu lah yang pertama kali mengenalkan saya tentang prinsip bahwa manusia paling baik adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain. Ibu lah yang pertama mengajari saya tentang makna toleransi. Dan ibu pula yang pertama mengajari saya tentang bersikap adil ketika saya belum menyadarinya.

Yatim Piatu dan Pencarian Ibu

Tentang hebatnya ibu dalam bersikap adil ini, saya baru mengerti ketika saya kelas 1 SD. Kala itu, sekira di tahun 1988, saya mendapatkan banyak amplop berisi uang, sarung juga baju baru jelang perayaan Idul Fitri. Saya menerima nya dari panitia bantuan untuk anak yatim piatu di kampung.

Dari situ, saya yang sudah mengerti makna yatim piatu, lantas bertanya kepada diri sendiri. Saya bertanya "mengapa saya memiliki orang tua tetapi kok mendapatkan bantuan yatim piatu"? Pertanyaan yang jawabannya baru saya ketahui sendiri beberapa tahun kemudian. Ketika saya tahu makna yatim piatu itu, saya memang memilih untuk tidak bertanya kepada ibu karena tidak mau menyakiti perasaannya.

Bahwa ternyata ibu saya bukanlah ibu kandung. Kedua orang tua kandung saya sudah meninggal ketika saya belum genap berusia 2 tahun. Jadilah saya kemudian diasuh oleh perempuan yang kemudian saya panggil ibu. Ya, saya memang dirawat dan dibesarkan oleh ibu yang tidak melahirkan saya. Namun, saya menganggapnya sebagai ibu sendiri selain ibu pertama yang melahirka saya. Kala itu, saya terkadang sebal dengan beberapa orang yang yang menyebutnya "ibu tiri" saya.

Hadiah Pertama dari Ibu

Toh, saya sangat beruntung karena ibu yang merawat saya adalah perempuan berhati baik laksana peri dalam kisah dongeng. Di rumah kami, saya tidak sendirian. Ibu juga memiliki dua anak kandung laki-laki. Sebenarnya, bisa saja ibu lebih menomorsatukan anak kandungnya ketimbang saya seperti dalam cerita film. Tetapi, ibu punya plot cerita sendiri dalam merawat dan membesarkan kami. Tidak ada pilih kasih. Kami mendapatkan asupan kasih sayang dan hadiah edukasi moral yang sama. Bersikap adil. Itu hadiah dari ibu yang pertama dan saya ingat hingga kini.

Hadiah kedua dari ibu yang mewarnai kepribadian saya adalah sikapnya yang suka berbagi. Kami bukan keluarga kaya raya meski juga tidak kekurangan. Tetapi, ibu tidak pernah berpikir dua kali untuk urusan berbagi kepada orang lain.

Ada saja caranya untuk berbagi makanan kepada orang lain. Semisal bila ada salah satu dari anaknya yang mendapat nilai rapor bagus, ibu langsung membuat masakan yang kemudian dibagi-bagikan ke tetangga. Saya ingat, ketika saya dan adik saya diterima bekerja pada awal tahun 2005 silam, sebagai ungkapan syukur, ibu mengundang beberapa tetangga ke rumah untuk menikmati jamuan makan yang telah disiapkan.

Darinya, Saya Belajar Makna Toleransi 

Ibu juga guru terbaik dalam urusan bersikap toleran pada orang lain. Dia tidak pernah mendikte anak-anaknya untuk hanya bergaul dengan orang-orang tertentu, semisal karena kesamaan agama atau ras. Saya belajar banyak darinya tentang sikap toleran kepada sesama ini.

Pernah ketika SMA, saya dekat dengan teman sekolah yang memiliki keyakinan berbeda. Ketika ada beberapa saudara yang bersuara nyinyir perihal kedekatan saya dengan teman perempuan tersebut, ibu malah berujar santai. Saya masih ingat betul ucapan ibu "nggak apa-apa berkawan dengan siapa saja, asal kamu punya prinsip".

Masih banyak lagi "hadiah" dari ibu yang sangat berarti dalam hidup saya. Hadiah yang telah memberikan pengaruh kuat dalam membentuk karakter saya, juga dalam berinteraksi menjalani kehidupan bermasyarakat.

Ibu, "Pemberi Hadiah" yang Tak Berharap Diberi

Memang, sejak saya kecil, ibu sangat jarang memberikan hadiah barang semisal mainan. Mungkin dulu saya pernah ngambek. Tapi kini, saya menyadari bahwa hadiah dari ibu bukan hanya barang. Sebab, apalah artinya barang yang bisa rusak dalam hitungan bulan bila dibandingkan dengan kebaikan-kebaikan ibu yang sifatnya abadi dan tidak ternilai.

Hebatnya lagi, meski telah memberi hadiah tak terhitung kepada anak-anaknya, ibu tidak mengharapkan imbalan apapun. Petikan lagu anak-anak bahwa kasih ibu itu bagai surya menyinari dunia yang hanya memberi dan tak berharap kembali, sungguh benar adanya. Itu bukan bait lagu yang bisa diperdebatkan seperti halnya lagu balonku atau menanam jagung yang acapkali digugat oleh para komika ketika membawakan materi stand up comedy.  

Pekan lalu, ketika hendak pulang dari berkunjung ke rumah ibu, usai mencium tangannya, saya lantas memberikan sebagian dari rezeki yang saya dapat. Ketika menerima pemberian saya, ibu malah berujar lirih yang membuat saya terhenyak. "Jangan sering-sering ngasih ibu, buat biaya sekolah anakmu saja". 

Terima kasih Kompasiana telah memberikan kesempatan untuk merayakan kebaikan-kebaikan ibu. Merayakan hadiah ibu yang tidak hanya dengan sekadar mengingat, tetapi juga mewariskannya kepada anak-anak. Rasanya, tidak ada balasan yang pantas selain pelukan, ucapan tulus terima kasih dan doa terbaik untuk ibu.(*)