Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi. Ayo ikut "Cerahkan Indonesia" dengan berbagi kabar baik. Karena ada banyak hal hebat di dekat kita. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com. Instagram @HadiSantoso08/Twitter @HadiSantoso08

Selanjutnya

Tutup

Media

Kompasiana, "Sekolah" yang Mengedukasi dan Loman pada "Murid-muridnya"

21 November 2017   17:54 Diperbarui: 21 November 2017   17:58 223 0 0

"Apakah menulis di Kompasiana itu dapat duit?"

Entah sudah berapa kali saya mendapatkan pertanyaan itu dari kawan-kawan yang saya ajak menulis di Kompasiana. Pertanyaan yang menurut saya wajar sebagai wujud dari keingintahuan. Apalagi, sekarang ini memang banyak bermunculan platform menulis online yang memberikan bayaran kepada penulisnya.

Mendapati pertanyaan seperti itu, saya selalu sampaikan bahwa Kompasiana itu seperti "sekolah". Kompasiana itu bukan tempat bekerja. Sebagai sekolah, Kompasiana itu tempat belajar menulis. Belajar menulis dengan benar dari membaca tulisan-tulisan orang lain. Karena memang, sebagai sekolah, murid-murid Kompasiana sangat beragam. Dari yang masih sekolah, hingga yang sudah profesor. Dari yang baru belajar menulis, hingga yang sudah bisa menulis sambil merem.

Kompasiana itu "Sekolah" Bukan Tempat Kerja

Dan namanya sekolah, tentu tidak ada upah bagi yang menulis. Namun, bila ada murid-muridnya yang berprestasi, pihak sekolah tidak akan ragu untuk memberikan apresiasi semisal hadiah atau beasiswa. Bahkan, untuk urusan memberikan apresiasi ini, Kompasiana termasuk loman (bahasa Jawa artinya royal/mudah memberi).

Terkait hal ini, saya merasakan ada perubahan besar dari Kompasian sejak saya bergabung pada Desember 2010 silam hingga era zaman now. Bukan hanya perubahan tampilan Kompasiana yang semakin keren diusianya yang kini 9 tahun. Tetapi, juga terkait kelomanan/keroyalan Kompasiana dalam memberikan hadiah kepada muridnya yang berprestasi.

Saya lupa mulai tahun berapa ada lomba menulis alias blog competition di Kompasiana. Tetapi yang jelas, frekuensi blog competition ini setiap tahunnya semakin banyak. Bahkan, dalam satu bulan bisa ada empat hingga lima lomba menulis. Malah di tahun 2017 ini, Kompasiana memberikan penghargaan bulanan kepada penulis paling populer, paling produktif dan karya terbaik. Termasuk juga ajang Kompasianival yang kini rutin digelar tahunan untuk mengapresiasi 'murid-murid yang berprestasi'.

Pendek kata, Kompasiana tidak menutup mata kepada murid-muridnya. Di sisi lain, banyaknya instansi pemerintah/perusahaan yang bersinergi dengan Kompasiana untuk menggelar blog competition, menjadi penegas bahwa Kompasiana dipercaya dan dipandang sebagai wahana yang efektif untuk menyebarluaskan informasi, sosialisasi kebijakan/program hingga mengenalkan produk kepada khalayak.

Berkat Menulis di Kompasiana, Bisa Mudik ke Rumah Mertua

Dalam komparasi Kompasiana sebagai sekolah dan bukan tempat kerja ini, saya sepakat bila sekolah itu memberikan lebih banyak kenangan dibandingkan tempat kerja. Faktanya, ada lebih banyak orang yang menggelar reunian alumni sekolah daripada reunian alumni tempat kerja.

Selama hampir tujuh tahun menjadi "murid" di Kompasiana, saya pun memiliki beragam kenangan tak terlupakan. Salah satunya terkait cerita yang saya jelaskan di bagian awal tulisan ini. Terkait apresiasi dari Kompasiana kepada murid berprestasi melalui blog competition. Kebetulan, saya pernah terpilih jadi murid yang mendapat apresiasi. Dan apresiasi itu bahkan datangnya di saat sangat tepat.

Sekira Maret 2015 silam, beberapa bulan jelang hari raya Idul Fitri, saya dan istri berkeinginan untuk mudik ke rumah mertua (ibu istri) di Jakarta. Karena jarak Sidoarjo-Jakarta yang tidak dekat dan berimbas pada mahalnya ongkos transportasi (terlebih kami berempat), frekuensi untuk mudik ke Jakarta terbilang jarang. Namun, khusus untuk hari raya tahun itu, kami berencana mudik.

Namun, rencana terbilang rencana. Bagian plafon dapur rumah kami mendadak ambruk. Cukup mengkhawatirkan karena atapnya jebol. Bila hujan turun, dapur akan menjadi kolam dadakan. Jadilah duit yang sedianya diplot untuk silaturrahmi ke mertua, dipakai untuk renovasi belakang rumah. Kami pun berpikir, mungkin belum waktunya untuk berhari raya di Jakarta.

Namun, beberapa hari kemudian, di sebuah akhir pekan, saya mendapatkan kabar gembira ketika membuka Kompasiana. Saya mendapati pengumuman pemenang lomba blog competition "Dayakan Indonesia". Dan Alhamdulillah, tulisan saya terpilih sebagai juara pertama.

Ah, masih terngiang dalam ingatan betapa gembiranya saya kala itu lantas mengabarkannya kepada istri dengan riang. Kami pun jadi mudik ke mertua dengan hadiah menulis dari Kompasiana. Bagi saya, itu pengalaman pertama tak terlupakan sejak menjadi "murid" di sekolah Kompasiana.

Demi Tulisan untuk Kompasiana, Pernah Nyaris Dihajar Preman

Menulis di Kompasiana tentunya bukan semata karena ingin mendapatkan hadiah. Balik ke fungsi Kompasiana sebagai 'sekolah", ada keinginan untuk aktif memproduksi tulisan di Kompasiana karena niatan untuk menginformasi apa yang saya tahu. Sekaligus sebagai media interaksi dengan teman-teman di Kompasiana.

Sebenarnya, setiap hari ada banyak ide menulis yang ingin diposting. Tapi apa daya, waktu yang tersita untuk bekerja dan ketika nyampe rumah tinggal capek nya, membuat ide-ide itu serasa basi untuk ditulis. Sehingga, beberapa saja dari ide itu yang akhirnay berwujud tulisan.

Dan, dalam proses menghasilkan tulisan di Kompasiana, proses nya terkadang bahkan tidak kalah menegangkan dibanding wartawan yang tengah melakukan investigasi untuk menulis berita. Itu yang saya alami pada awal 2015 silam.

Kala itu, sebagai warga Sidoarjo, saya ingin menulis tentang lumpur lapindo. Bukan dari sisi bencananya. Tetapi dari angle potensi wisatanya. Serta upaya apa saja yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah untuk memajukan potensi wisata lokal. Karena memang, berdasarkan pantauan saya, di setiap akhir pekan, ada cukup banyak warga yang kebetulan melintas di kawasan itu, lantas mampir untuk menengok tanggul lampur yang mirip benteng kokoh.

Dan, tentu saja, bicara potensi wisata, tidak akan lengkap tanpa adanya foto. Karenanya, saya pun bela-belain untuk mengambil foto di lokasi. Saya berhenti di salah satu spot 'pendakian' wisatawan yang ingin naik ke tanggul lumpur dan menyaksikan pemandangan lautan lumpur. Lantas mengambil handphone untuk memotret. 

Betapa kagetnya saya ketika baru mengambil tiga foto, mendadak seorang berbadan tinggi besar berwajah sangar, keluar dari bangunan semacam pos jaga. Ia menghampiri saya, menunjuk saya sembari membentak dengan suara kasar. "Hee lapo koen (ngapain kamu) foto-foto. Awakmu (kamu) wartawan yo". Koen yang bermakna kamu, adalah panggilan paling kasar dalam bahasa Suroboyo-an.

Pria penjaga pintu masuk pendakian menuju tanggul lumpur yang mungkin "yang punya" kawasan itu, tahu-tahu sudah ada di depan saya. Dia seolah ingin mengintimidasi saya yang kurus ini dengan badannya yang besar. Dia kembali berujar: "Gawe opo koen foto-foto (buat apa kamu foto-foto," ujarnya.

Jujur waktu itu saya rada gemetar. Meski lantas berusaha menjawab tenang "oh gak kok mas, aku cuma pengen foto aeh". Mungkin karena tampilan saya yang memang tidak seperti wartawan pada umumnya, dia percaya dan kembali ke tempat jaganya. Bagi saya, itu salah satu momen yang paling saya ingat dalam proses menghasilkan tulisan-tulisan di Kompasiana. 

Bahwa, menghasilkan tulisan di Kompasiana bukan sekadar pengamatan di media mainstream ataupun hanya mencari data. Tetapi juga penuh perjuangan, bahkan juga sempat gemetaran. Karenanya, tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang menurut saya penuh kenangan.

Sekolah Lebih Punya Banyak Kenangan Dibanding Tempat Kerja

Pastinya akan ada banyak sebutan untuk memaknai Kompasiana. Tetapi, saya lebih suka memaknai Kompasiana sebagai sekolah. Karena memang, hampir semua fungsi sekolah, bisa kita dapatkan di Kompasiana. Mulai dari fungsi edukasi dan pembelajaran, hingga fungsi interaksi sosial, serta fungsi reward and punishment.

Di Kompasiana, selain belajar ilmu menulis dari penulis lainnya, kita juga bisa belajar menjadi lebih cerdas dengan membaca tulisan-tulisan penulis yang memang kompetensinya tidak diragukan dalam bidang tertentu. Ini yang saya maksud dengan fungsi edukasi dan pembelajaran.

Di Kompasiana, kita juga bisa mendapatkan fungsi interaksi sosial. Baik interaksi lewat tulisan melalui saling berbalas komentar di kolom komentar ataupun interaksi langsung melalui berbagai kegiatan yang diadakan Kompasiana semisal Nangkring hingga Kompasianival.

Dan terakhir, Kompasiana paham betul cara memberikan penghargaan bila memang keaktifan dan kualitas karya kita memang pantas diapresiasi. Sebaliknya, bila tulisan kita justru berlawanan dengan semangat Kompasiana, kita bisa mendapatkan 'catatan hitam'. Semoga di usia 9 tahun, Kompasiana semakin luwes dalam memainkan peran dan fungsi sebagai "sekolah". Salam