Humaniora

Bimbingan Konseling

15 November 2017   01:16 Diperbarui: 15 November 2017   01:45 73 0 0

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Konseling merupakan suatu proses dengan adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesional untuk membantu orang lain dalam pemahaman diri pembuatan keputusan dan pemecahan masalah dari hati kehati antar manusia dan hasilnya tergantung pada kualitas hubungan.

maka dapat disimpulkan bahwa konseling merupakan proses pemberian bantuan secara intensif dan sistematis dari seorang konselor kepada kliennya dalam rangka pemecahan suatu masalah agar klien mendapat pilihan yang baik. Disamping itu juga diharapakan agar klien dapat memahami dirinya dan mampu menerima kemampuan dirinya sendiri.

  •             Konseling adalah upaya untuk membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi agar mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
  • Pendekatan dalam Konseling
  • Pendekatan dalam bimbingan konseling benar-benar diperlukan untuk mencapai tujuan konseling yang terarah dan tidak asal-asalan. Tidak semua pendekatan dapat dilakukan untuk menangani masalah klien. Konselor harus mempertimbangkan pula standar kelayakan pendekatan yang berlaku di Indonesia. Konseling memiliki beberapa macam pendekatan yang dapat membantu konselor dalam proses konseling, pendekatan-pendekatan itu adalah:

      A. Pendekatan Psikonalisis

Psikonalisis merupakan teori pertama yang muncul dalam psikologi khususnya yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotis. Bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam bawah sadar dari setiap individu. Sedangkan alam kesadarannya dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul ditengah laut. Sebagian besar gunung es yang terbenam itu diibaratkan alam bawah sadar manusia.

B.      Pendekatan Gestalt

            Pendekatan Gestalt merupakan bentuk terapi perpaduan antara eksistensial-humanistis dan fenomenologi, sehingga memfokuskan diri pada pengalaman dan memadukannya dengan bagian-bagian kepribadian yang terpecah di masa lalu.Untuk mengetahui sesuatu hal kita harus melihatnya secara keseluruhan, karena bila hanya melihat pada bagian tertentu saja, kita akan kehilangan karakteristik penting lainnya. Hal ini juga berlaku pada tingkah laku manusia. Untuk menjadi pribadi yang sehat, setiap individu harus merasakan dan menerima pengalamannya secara keseluruhan tanpa berusaha menghilangkan bagian-bagian tertentu. Ini dilakuakn untuk mencapai keseimbangan. Tetapi, pada individu yang tidak sehat sehingga menagalami ketidak seimbangan, maka akan muncul ketakutan dan ketegangan sehingga memicu melakukan reaksi penghindaran dan menyadarinya secara nyata.

C.      Pendekatan Behavioristik (Terapi Tingkah Laku)

            Behavioristik adalah gabungan dari beberapa teori belajar yang dikemukakanoleh ahli yang berbeda. Adapun aspek penting dari pendekatan ini adalah bahwa perilaku dapat didefinisikan secara operasional, diamati, dan diukur. Pendekatan behavioristik merupakan pilihan utama yang dilakukan oleh para konselor yang menghadapi masalah spesifik seperti gangguan makan, penyalahguanaan obat, dan disfungsi psikoseksual.

D.      Pendekatan Kognitif

            Pendekatan kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemapuan kognitif merupakan kunci yang membimbing tingkah laku anak. Pendekatan ini dapat dikatakan sebagai pendekatan konstruktivisme yang menjelaskan bahwa anak secara aktif menciptakan atau mengkreasi pengetahuan. Artinya, anak tidak pasif menerima pengetahuan dari lingkungannya.

E.      Pendekatan Developmental

  •            Pendekatan ini memusatkan diri pada kepada anak-anak yang normal dan kepada usaha-usaha penciptaan suasana belajar yang efektif, sehat ,dan segar. Dalam hal ini, pembimbing tidak lagi bertanggung jawab atas testing program dan pengadministrasian data. Jika ia menyelenggarakan tes, bukan untuk kepentingan individual tetapi untuk keperluan keseluruhan siswa yang lebih luas lagi. Kegiatan tes individual ditangani oleh psikologi atau oleh stafnya.
  • F.         Pendekatan dalam Keluarga
  •                           Tujuan dasar dari pendekatan ini adalah bekerja dengan struktur kontrak yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga terhadap konselor. Secra umum kontrak-kontrak ini memiliki tujuan suatu strukturkeluarga yng independen dan fungsional.
  • G.        Pendekatan Tradisional
  •                           Dalam konseling, konselor lebih banyak menggunakan waktunya terhadap siswa yang mengalami problem. Pembimbing sering mengadakan konsultasi dengan guru untuk meningkatkan suasana pembelajaran yang aktif dan kreatif. Pembimbing sering juga mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa, akan tetapi pokok pembicaraan hanya berkisar pada anak yang mengalami problem saja, tidak meliputi keseluruhan siswa disekolah tersebut.
  • H.        Pendekatan Client-Centered
  •               Berbicara pendekatan client-centered, maka kita akan mengenal cara rogers yang mengembangkan client-cetered untuk diaplikasikan pada kelompok, keluarga, masyarakat, dan terlebih kepada individu. Pendekatan ini dikembangkan atas anggapannya mengenai keterbatasan dari psikoanalisis. Berbeda halnya dengan psikoanalisis yang mengatakan bahwa manusia cenderung deterministik, Rogers menyatakan bahwa manusia adalah pribadi-pribadi yang memiliki potensi untuk memecahkan permasalahannya sendiri.