Leonardi Gunawan
Leonardi Gunawan Karyawan

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia

Selanjutnya

Tutup

Bola

Meminimalisir Efek Egy yang Terlalu Dominan

11 Oktober 2017   20:00 Diperbarui: 11 Oktober 2017   20:40 1104 1 0

Membahas Timnas U -- 19 saat ini jelas tidak bisa lepas dari sosok bernama Egy Maulana Vikri (Egy). Dengan skill, kecepatan dan visi bermainnya, Pemberitaan tentang Egy seakan menonjol sendiri dibandingkan dengan rekan -- rekannya. Walaupun sepakbola sejatinya adalah permainan tim, bukan permainan Individu, tetapi peran sentral seorang Egy harus diakui sangat vital bagi Timnas U-19 saat ini.

Kehadiran sosok Egy mengingatkan kita pada sosok sentral pemain Indonesia yang saat ini bermain di level U-22, Evan Dimas. Walaupun Evan  bukan seorang penyerang, dan kadang tidak tiap pertandingan mencetak gol, tetapi kehadirannya di lini tengah sangat dibutuhkan oleh Timnas. Ketidakadanya Evan sangat mempengaruhi permainan Timnas, khususnya Timnas U-22 dalam ajang resmi, Yakni ketika kalah 0-3 dari Malaysia dan di serang habis habisan saat menghadapi Vietnam walaupun akhirnya skor 0-0 diajang SEA Games.

Mempunyai pemain hebat dan diatas rata -- rata tentunya adalah hal yang sangat menguntungkan, dan biasanya pemain ini bisa menjadi pembeda di setiap pertandingan. Kebuntuan bisa pecah akan hadirnya pemain ini. Walaupun kadang posisi pemain ini bukan penyerang, tetapi adanya pemain ini bisa memberikan semangat dan mengangkat moral teman -- temannya di lapangan. Coba perhatikan seperti kehadiran Buffon di Juventus, Messi di Barcelona, Ronaldo di Madrid, Gerard di Liverpool pada masa jayanya, Roy Keane di MU.

Tetapi yang kadang menjadi kendala dan efek negatif dari memiliki pemain seperti ini adalah bahwa Tim jadi seolah -- olah bergantung kepada satu pemain saja. Kalau tidak ada pemain tersebut serasa ada yang kurang, Boleh dibilang mental pertandingan menjadi turun, kurang percaya diri, akibatnya tidak bisa mengembangkan permainan yang telag disusun bersama sebelum pertandingan.

Hal ini tentunya sudah disadari betul oleh Indra Sjafri, dibeberapa kesempatan sang pelatih selalu menekankan bahwa sepakbola adalah permainan kolektif. Dia juga menekankan bahwa tidak ada pemain bintang di dalam skuadnya, semua mempunyai kesempatan untuk menjadi pemain utama dan juga kesempatan untuk degradasi apabila tidak bisa menunjukkan performa yang baik, termasuk juga terhadap Egy. Indra Sjafri sepertinya ingin bahwa tim yang dia bentuk, dapat memupuk rasa kebersamaan, tidak ada iri satu sama lain, semua mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam membela Timnas.

Yang agak kita tunggu adalah bagaimana performa Timnas U-19 apabila Egy tidak diturunkan, terlebih kalau menghadapi tim -- tim kuat di ajang resmi. Apakah timnas masih dapat memegang kendali permainan seperti yang ditunjukkan? Atau malah sepertu U-22 tak kala Evan Dimas berhalangan untuk tampil? Bermain seolah tanpa formasi.

Kiranya ajang pra kualifikasi Piala Asia U-22 yang akn berlangsung di korea, pelatih Indra Sjafri dapat lebih berani ber eksperimen dalam hal formasi, karena dalam ajang tersebut, dimanapun posisi Indonesia nampaknya tidak berpengaruh, karena Indonesia sudah dipastikan lolos karena bertindak sebagai tuan rumah. Berani ?