Gus Noy
Gus Noy Penganggur

Bukan siapa-siapa sejak 29 Maret 2018, dan baru belajar menulis cerpen. Lumayan jadi satu cerpen berjudul "Eh, Ternyata Demun Juga Menulis Puisi" (https://www.kompasiana.com/gusnoy/5ac0e5c3ab12ae525714f2c2/eh-ternyata-demun-juga-menulis-puisi)

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Mengintip Suasana Pilgub Kaltim 2018

3 Januari 2018   18:15 Diperbarui: 3 Januari 2018   18:23 828 1 1
Mengintip Suasana Pilgub Kaltim 2018
Karya Gus Noy

2018 juga merupakan tahun politik di Kalimantan Timur (Kaltim). Meski cenderung kurang rajin mengintip iklim perpolitikan di Kaltim dan sempat sekian bulan berada jauh di luar Kaltim, bagaimanapun, sebagai warga Kaltim--tepatnya Balikpapan--saya  ikut merasakan 'kehangatan' kondisi tahun politik sejak 2017.

Ya, sejak 2017, apalagi suatu waktu saya melewati sebuah jalan berpinggirkan sebuah baliho besar dengan sosok Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari sebagai bakal calon (balon) Gubernur Kaltim yang sedang diunggulkan oleh sebagian warga Kaltim sebelum ditetapkan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 26 September 2017 sebagai tersangka kasus gratifikasi semasa kepemimpinan Taufiequrrachman Ruki sekitar tujuh tahun lalu.

Berikutnya, saya mengintip kabar, pada 2 Januari 2018 dua balon kuat lainnya, yakni Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang dan Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi diperiksa kepolisian. 

Jaang diduga diperiksa terkait dengan terbitnya SK Nomor 551.21/083/HK-KS/II/2016 tentang Penetapan Pengelola dan Struktur Tarif Parkir pada Area Parkir Pelabuhan Peti Kemas, Palaran, atas nama KSU PDIB. Rizal diperiksa di Polda Kaltim terkait dengan kasus dugaan korupsi rumah potong unggas (RPU) di Km 13, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara, sejak awal 2016.

Sementara balon-balon lainnya adalah Awang Ferdian Hidayat--putra  dari Gubernur Awang Faroek Ishak, Isran Noor, Yusran Aspar, dan lain-lain, bahkan Kepala Polda Kaltim Irjen Safaruddin. Untuk sementara baru balon-balon itu saya bisa intip dari Pangung Renung Balikpapan. Mohon maklum, saya memang kurang rajin mengintip.

Oleh sebab baru sebatas mengintip, dan yang kelihatan pun sebatas balon--belum calon, saya enggan berpendapat seakan sudah gamblang-benderang. Sebatas mengintip suasana yang sedang muncul balon-balon. Kalau balonnya meletus dan serpihannya mengenai mata saya, bagaimana, coba? 

Tetapi, kok, kelihatannya tidak adil (fair), ya, dibandingkan ketika saya ikut 'melepuh' oleh 'panasnya' Pilgub DKI Jakarta 2017, padahal sama sekali bukan warga Ibu Kota?

Begini. Hal ini tidak terlepas dari sejarah saya sendiri. Saya resmi menjadi warga Kaltim sejak Maret 2009. Sebelumnya saya warga Bangka Belitung (Babel) yang tinggal di Jakarta sejak April 2006. Pigub DKI 2017 ataupun sebelumnya, 2012, salah seorang yang muncul adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang mantan Bupati Belitung Timur, dan mantan cagub Babel 2007.

Apakah saya pendukung Ahok? Eh, jangan menuduh begitu dong. Pilgub 2007 Ahok keok melawan Eko. Siapa Eko? Eko mantan murid ayah saya di STM Sungailiat, Bangka. 

Apakah saya 'melawan' Ahok dengan mendukung bahkan memilih Eko pada waktu itu? Eh, jangan menuduh begitu lagi dong. Saya tidak pulang pada masa kampanye dan pencoblosan karena pada waktu itu saya sedang kepingin jadi artis Ibu Kota.  

Itu masa lalu; 10 tahun lalu. Sekarang sudah 2018. Bukan lagi warga Babel, tidak tinggal di Jakarta, dan mantan balon artis Ibu Kota. Sekarang warga Kaltim, dan Kaltim dalam masa tahun politik. 

Apa boleh buat, mau-tidak mau, saya terpaksa berpendapat juga, meskipun tetap saja tidak terlalu berpengaruh apa-apa terhadap Kaltim, apalagi Indonesia. Hampir ganjil 9 tahun menjadi warga Kaltim, tentunya, saya memiliki kesempatan mengintip, selain terimbas 'kehangatan' kondisinya.

Begini, lagi. Tiga balon di awal tadi sengaja saya angkat terlebih dulu. Ketiganya dengan kasus yang sekitar-sekitar situ saja. Rita sangat terkenal, khususnya julukan "Bupati Metal", selain Kutai Kartanegara dikenal sebagai "Kabupaten Terkaya" di Indonesia. Rizal, tentunya, terkenal karena saya tinggal di Balikpapan. Entahlah Jaang, yang Wali Kota Samarinda itu.

Seingat saya, 5 tahun silam (2013) yang cukup ramai dunia media sosial saya tidak mengetahui secara jelas, apakah ada balon yang gagal lantaran kasus semacam mereka. Mungkin karena saya belum suka mengintip situasi politik di Kaltim, atau, minimal, pada Pilwalkot Balikpapan 2016 antara Rizal dan Heru.

Tetapi yang paling saya ingat dan sampai 2018 ini, situasinya hanya 'hangat', bahkan sekitar 2-3 derajat Celcius saja. Ibarat air hangat, cocoknya untuk memandikan bayi. Artinya, maaf, sama sekali tidak seru. Tidak terlihat adanya persoalan mencolok yang bisa dijadikan sebagai daya tarik politik praktis bagi saya. Apakah itu berarti kondisi kehidupan di Kaltim sudah sangat beres, adil, dan makmur?

Kaltim memang dikenal oleh banyak media sebagai provinsi terkaya di Indonesia. Dengan tenarnya "provinsi terkaya", lantas saya juga terimbas kaya sehingga semua beres-beres saja? Saya tidaklah kaya, bahkan saya merupakan pengecualian dari ketenaran itu.

Di luar ketenaran itu saya mengintip gerak-gerik kehidupan masyarakat Kaltim dalam politik hingga tahun politik ini tidaklah muncul situasi seru yang mampu mengeluarkan saya dari balik tempat mengintip. Siapa pun gubernurnya, situasi sosialnya begitu-begitu saja. Mungkin karena latar sejarah Kaltim bukanlah merupakan sebuah daerah yang sarat perbincangan apalagi persaingan intelektual secara kritis-mumpuni dalam masa-masa pembangunannya. Eh, bukan mungkin ding, tapi pasti.

Ah, pokoknya, mendingan saya melanjutkan mimpi alias tidur setelah mengintip suasana tahun politik di Kaltim. Sudah, ah, itu sajalah.

*******

Panggung Renung Balikpapan, 3 Januari 2018