vera wati
vera wati

Verawati, lahir di Bekasi pada tanggal 25 Desember 1977 adalah salah seorang guru Akuntansi di Kabupaten Bekasi yang tidak hanya aktif dalam membina murid-muridnya dalam mengikuti berbagai kompetisi akuntansi, akan tetapi ia juga aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan hidup. Kecintaannya pada profesi guru membuat ia bertekad untuk mengaplikasikan semua “skill” yang diperolehnya baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk “tidak” hanya sekedar menjadi guru biasa, namun “Extra Ordinary Teacher” yang bisa menjadi kebanggan siapa saja yang pernah mengenalnya. Dengan pengalaman beasiswa yang diperolehnya, kini telah banyak muridnya yang juga melanjutkan kuliah mereka dengan memperoleh beasiswa. Kini sekolahnya telah menjadi salah satu pusat informasi ilmu akuntansi di Bekasi. Tambahan Ilmu yang diperolehnya dari Malaysia dan Amerika juga telah menghantarkan dirinya menjadi guru berprestasi baik di tingkat Kabupaten maupun di tingkat Propinsi Jawa Barat pada tahun 2012. Kegiatan “peduli lingkungan” yang digarap bersama rekan-rekan kerjanya juga memperoleh penghargaan “Raksa Prasadha” di tingkat propinsi. Semuanya dijalaninya dengan enjoy namun tetap semangat. Ia yakin bahwa sesuatu yang diniatkan dengan tujuan mulia maka akan mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Training KGTS Toyota: Upaya Menyebarkan Konsep Kaizen ke Sekolah

7 Februari 2018   01:11 Diperbarui: 7 Februari 2018   07:17 522 1 1

Hujan masih lagi belum reda, ketika dinginnya pagi membawaku untuk mengikuti kali kedua training motivasi yang diselenggarakan oleh Toyota tahun ini. 

Awalnya dalam benakku terfikir suasana berfikir keras yang harus aku lakukan demi mencerna konsep "Kaizen" harus terulang lagi seperti tahun lalu, tahun dimana pertama kali aku berkenalan dengan berbagai terminologi asing sejak program KGTS toyota mula-mula mulai akrab di telingaku. KGTS, QCC, PDCA dan berbagai istilah yang merupakan singkatan-singkatan asing mulai hinggap di kepala sejak setahun yang lalu.  

KGTS ini ternyata adalah singkatan dari Kaizen Goes To School. Ini adalah sebuah program PT. Toyota untuk memperkenalkan nilai-nilai luhur "Kaizen" dimana dalam konsep ini kita diharapkan mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Tentu saja dari definisinya saja pada awalnya aku sudah tertarik sebab konsep agama juga mengajarkan bahwa kita memang harus selalu berusaha untuk menjadi individu yang berubah ke arah yang lebih baik bukan?

Ya, memang tidak mudah untuk memahami konsep Kaizen jika kita langsung diperkenalkan oleh sebuah istilah lain yang bernama QCC yang pada mulanya aku sendiri tidak tahu apa itu singkatannya. Ternyata ia adalah Quality Control Cycle yakni sebuah proses untuk menyelesaikan suatu masalah. Mengajak kita berfikir logis dan sistematis, step by step agar perubahan yang akan kita ciptakan lebih ilmiah, terukur dan dapat ditularkan kepada orang lain dalam bidang apapun masalah itu kita hadapi. 

PT. Toyota melalui program KGTS nya secara spesifik ingin melibatkan sekolah-sekolah melalui para guru untuk menularkan konsep "Kaizen" ini kepada siapa saja. Bisa kepada individu guru itu sendiri, kepada siswa, rekan kerja atau siapa saja. QCC yang terdiri dari delapan langkah itu pada awalnya sempat membuat siapapun akan mengerutkan dahi dan terkesan berat karena untuk bisa memahami QCC perlu aturan standar yang memang sudah disepakati secara umum.

Training tahun lalu ibarat sebuah proses menyelam  di mana aku baru menceburkan diri ke air dan sudah takut tenggelam. Namun Training tahun ini aku seolah-olah bisa bernafas dalam air dan meliht ternyata ada pemandangan indah di dalam air tersebut. Mengapa begitu indah? Ternyata akhirnya aku menemukan sebuah kesimpulan bahwa untuk berubah kita tidak perlu berteori terlalu rumit. Yang paling penting adalah kemauan untuk merubah karakter ke arah yang lebih baik itu adalah substansinya. Namun sebuah perubahan harus bisa dievaluasi dan terukur keberhasilannya aku juga setuju. Maka dari itulah QCC adalah cara yang sistematis untuk bisa menyampaikan ide kepada orang lain bagaimana kita telah melakukan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Meskipun itu hanyalah sebuah perubahan kecil, namun perubahan besar justru muncul dari perubahan kecil bukan?

Dua hari mengikuti training ini bagiku adalah sebuah investasi ilmu yang luar biasa. Mengapa tidak, perubahan cara pandangku terhadap sesuatu yang awalnya terlihat sulit, ternyata mulai bergeser. Konsep "kaizen" memang sejatinya sudah melekat pada profesi seorang guru sebab guru harus merubah karakter siswa ke arah yang lebih baik. Guru bukan hanya mengajar tapi mendidik, dan lewat proses mendidik inilah guru berupaya untuk mengarahkan anak didiknya untuk melakukan perubahan sikap ke arah yang lebih baik. Mungkin hanya beda istilah saja, jika di konsep keguruan kita mengenal perubahan afektif, maka konsep kaizen mengenalnya dengan perubahan karakter.

PT. Toyota tahun lalu melibatkan 22 sekolah untuk mengikuti kegiatan KGTS ini, namun seiring dengan perjalanan waktu, tidak seluruh sekolah ikut aktif dan terlihat menunjukkan komitmen yang tinggi untuk terus bahu-membahu dengan pihak Toyota dalam mensuksesan kegiatan ini. Dari 22 sekolah yang tahun lalu ikut terlibat kegiatan KGTS ada beberapa sekolah yang dinilai cukup aktif dan diberikan training penguatan pada tahun ini seperti : SMK Bina Prestasi, SMKN 2 Cikarang Barat, SMK Al Muslim, SMK Mitra Industri, SMK Talenta Bangsa, SMK Laboratorium Global dan SMK Wikrama Bogor.

Untuk tahun 2018 ini rencananya PT. Toyota akan menaikan 100% target sekolah dari 22 menjadi 44 sekolah yang akan diikutsertakan dalam program KGTS ini. Hal yang menarik jika sekolah-sekolah tersebut melibatkan diri adalah sekolah itu akan menjadi salah satu sekolah binaan PT. Toyota dimana guru-gurunya akan ditraining secara gratis untuk mendalami konsep Kaizen, mempelajari QCC, ikut perlombaan atau Konvensi, mendapatkan uang pembinaan untuk sekolah mereka dan sederet kesempatan lain yang intinya akan sangat menguntungkan bagi pihak sekolah.

PT. Toyota sendiri sebagai salahsatu merk yang sudah terkenal pada prinsipnya hanya mencoba untuk menawarkan program CSR atau program sosial sebagai salahsatu bentuk tanggungjawab sosialnya kepada masyarakat. Dalam kacamata saya, justru pihak sekolah yang akan lebih banyak memperoleh benefit karena bagi sekolah swasta khususnya, membentuk kerjasama dengan perusahaan terkenal adalah sebuah iklan tersendiri untuk mereka agar lebih dikenal di masyarakat. Bagi sekolah  Negeri juga tidak kalah pentingnya karena karakter guru yang berstatus sebagai pegawai negeri umumnya kurang bersemangat untuk menerima perubahan akibat mereka sudah berada di zona nyamannya masing-masing.

Kaizen adalah  sebuah gerakan perubahan karakter atau yang sering digembar-gemborkan sebagai "pendidikan karakter" atau Pak Jokowi menyebutnya "revolusi mental", atau apapun namanya pada prinsipnya kita semua harus melakukannya. Jangan takut kita tidak bisa berproses melalui langkah-langkah QCC nya karena substansi perubahan adalah adanya "niat" untuk berubah ke arah yang lebih baik. Niat itu lalu disatukan  dengan sebuah potensi kemampuan untuk mengaktualisasikan niat tersebut menjadi sebuah "action nyata" selanjutnya action tersebut dinilai oleh PT. Toyota dan diapresiasi dan diharapkan action nyata ini ditularkan kepada orang lain. 

Sungguh suatu keuntungan yang bermata dua selain finansial juga pahala karena mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan. Hanya  terkadang ada saja hambatan yang muncul saat kita hendak mewujudkan sebuah aksi nyata dalam bentuk tertulis yakni man power dan man hour.

Diperlukan sebuah tim yang solid, yang didukung oleh manajemen puncak di tingkat sekolah dan alokasi waktu khusus untuk berdiskusi dan menyajikan ide menjadi sebuah sajian data yang menarik dan dapat dinilai orang sebagai sebuah "action yang nyata". Tidak hanya perubahan sesaat tapi perubahan yang terus menerus dan dapat dirasakan manfaatnya bagi orang banyak.

Semoga program KGTS ini terus berlanjut dan training-training akan semakin ramai diikuti oleh para guru yang memiiki semangat untuk mau berubah, semangat untuk belajar dan semangat untuk menularkan apa yang telah dipelajarinya kepada orang lain.  Amiin..