Mohon tunggu...
Gurgur Manurung
Gurgur Manurung Mohon Tunggu... Konsultan - Lahir di Desa Nalela, sekolah di Toba, kuliah di Bumi Lancang Kuning, Bogor dan Jakarta

Petualangan hidup yang penuh kehangatan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Hadiah Ulos Pinussa dan Rela Menjaga Pohon Mangga Demi Tulang

23 Juli 2022   20:25 Diperbarui: 24 Juli 2022   07:53 693 45 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi kain ulos (Kompas.com/Gabriella Wijaya)

Dalam rangka memperkuat hubungan emosi kedua anak kami, Daniel dan Dora, yang lahir di Jakarta dengan kampung halamannya (bona pasogit). Untuk diketahui kami cukup rutin pulang ke kampung.

Siang itu saya dan kedua anak kami pulang dari sungai yang agak jauh dari rumah untuk bermain air sungai yang sangat jernih.

Tiba di rumah, saya melihat seorang pria separuh baya membawa ikan mujair yang ukurannya cukup besar. Pria separuh baya itu menyerahkan ikan mujair di dalam kantong plastik dan berkata ompung Saulina ingin tulang (paman) menjenguknya. Bagaimana kondisi ompung Saulina (92 tahun)?

Ompung Saulina adalah seorang nenek berusia 92 tahun beserta 6 anaknya menjadi terpidana karena tuduhan melakukan pemotongan pohon durian dalam rangka memperbaiki kuburan nenek moyang mereka.

Ompung Saulina mengaku kepada jaksa bahwa kegiatan pemotongan pohon durian diameter 10cm di atas kuburan itu adalah atas suruhannya. Karena pengakuan itu jaksa menetapkan ompung Saulina menjadi tersangka.

Mendengar kasus di dusun Panamean, Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba, Sumatra Utara itu saya langsung pulang dari Tangerang ke kampung halaman untuk melihat realita yang sebenarnya.

Saya bayangkan bahwa ompung Saulina dan ke-6 anaknya ketakutan menghadapi pengadilan. Sebab menghadapi pengadilan di kampung seperti masuk neraka saja. Ketakutan yang berlebihan karena pemahaman hukumnya sama sekali tidak ada.

Mendengar pesan lelaki separuh baya itu, saya janji akan datang menjenguk ompung Saulina dan membawa istri dan anak-anak. Pria separuh baya itu pun pulang membawa pesan saya kepada ompung Saulina.

Minggu berikutnya, saya pergi ke Panamean menjumpai ompung Saulina dan seluruh keluarga. Di Siregar kami menunggu kapal menuju Panamean tempat ompung Saulina tinggal. Kami menunggu kapal dari Balige hingga sore tidak ada kapal penumpang yang lewat ke Panamean.

Karena tidak ada kapal yang lewat hingga sore, maka saya telepon ompung Saulina untuk ditunda saja. Kami akan datang beberapa hari berikutnya. ompung Saulina sedih karena makanan khas Orang Batak (naniura) dan berbagai jenis makanan sudah disiapkan secara khusus. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan