Mohon tunggu...
Guntur Suyasa
Guntur Suyasa Mohon Tunggu...

Saya pencinta tanaman, sejarah, filsafat,olahraga dan komik. Profesi saya pemandu wisata untuk wisatawan Prancis. Lahir di Bali, dan pernah tinggal lama di Yogyakarta. Suka menulis terutama saat musim "low season" pariwisata. Berlatih Yoga dan Chi Kung untuk kesehatan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Cerita Sufi: Darwish dan Penjudi

9 Februari 2011   19:11 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:45 1722 2 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerita Sufi: Darwish dan Penjudi
12972797911114875897

Alkisah, jaman dahulu kala hidup serang darwish yang berkeyakinan bahwa ia bertugas untuk mendekati orang–orang yang melakukan perbuatan tercela, menyadarkan dan mengarahkan mereka kepada pemikiran spiritual sehingga mereka bisa menempuh jalan kebenaran. Namun ada hal yang tidak dapahami sang darwish, bahwasanya seorang guru sejati tidak mengajarkan asas-asas yang tetap kepada setiap orang, karena seorang guru dapat saja memperoleh hasil yang bertolak belakang dari apa yang diinginkan jika ia tidak mengetahui apa yang ada di hati sang murid. Beginilah ceritanya,  suatu hari sang darwish menemukan seseorang yang kecanduan berjudi dan tidak bisa menghentikan kebiasaannya ini. Darwish ini kemudian memutuskan untuk turun tangan dan mengawasi sang penjudi. Setiap penjudi kita ini pergi ke rumah judi, sang darwish meletakkan sebuah batu di depan rumah si penjudi untuk menandai dosa, dengan harapan nantinya batu-batu yang terus bertambah akan menjadi peringatan akan kejahatan. Demikianlah, setiap meninggalkan rumahnya untuk pergi berjudi, penjudi ini merasa bersalah, dan sepulangnya ke rumah, ia merasa lebih berdosa lagi melihat batu-batu itu semakin menggunung. Akan halnya sang darwish, setiap menaruh batu dalam tumpukan, selain merasa geram juga merasakan semacam kepuasan pribadi -- sesuatu yang dianggapnya illahi--- ; mencatat dosa. Tak terasa proses ini berlangsung dua puluh tahun. Dan setiap penjudi ini bertemu sang darwish, ia merasa malu, dan membathin," Akankah aku mengerti kebajikan. Betapa orang saleh itu telah bersusah payah untuk keinsyafanku. Kapan aku bisa bertobat, menjadi seperti dia. Aku yakin pastilah ia seorang ahli sorga." Kemudian, ketika suatu hari ada bencana alam, kedua tokoh cerita kita ini tewas bersamaan harinya. Datanglah seorang malaikat menjemput si penjudi, dan berkata," Mari pergi ke sorga bersamaku." Penjudi ini kaget dan memprotes, "Ah, tak mungkin. Aku seorang pendosa dan harus pegi ke neraka. Pastilah kamu salah orang, harusnya kamu jemput darwish yang telah berusaha menginsyafkanku selama dua puluh tahun terakhir ini." Akan tetapi, malaikat menjawab,"Sebaliknya, ia sekarang tengah diantar malaikat yang lain ke tempat yang lebih rendah. Neraka!" Sang penjudi malah beteriak marah, "Tidak adil. Bagaimana mungkin. Pastilah kalian telah memutarbalikkan perintah! "Tentu tidak," jawab sang malaikat," Begini ceritanya, darwish itu selama duluh puluh tahun diliputi oleh rasa superioritas dan rasa berjasa. Selama itu pula ia tidak menumpuk batu untukmu, tapi sesungguhnya untuk dirinya sendiri. Dan sekarang ia harus menerima buahnya. "Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan pahala?" tanya sang penjudi. ""Engkau mendapatkan pahala karena setiap bersua darwish itu, engkau memikirkan kebajikan, dan berbaik sangka kepada darwish itu. Kebajikanlah yang sekarang memberikan pahalanya kepadamu." == Diterjemahkan dari adaptasi Elwood Sturtevant atas Idries Shah, Wisdom of the Idiots (1969,70), halaman.91-92 -putu- Dari file lama, ini dulu saya posting di beberapa mailing list dan juga dimuat di geocities.com/balialma yang sudah non aktif.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x