Mohon tunggu...
Gunawan Marhendi
Gunawan Marhendi Mohon Tunggu... GM

Kanca sambat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengenal Falsafah "Sawang Sinawang"

22 Juni 2021   01:33 Diperbarui: 22 Juni 2021   01:37 184 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Falsafah "Sawang Sinawang"
sumber : @powerful_pics

Sawang sinawang atau dalam bahasa Indonesia memiliki makna melihat dan dilihat. Tetapi untuk dapat memahami arti dari kata sawang sinawang tidak cukup dengan mengartikan kata per katanya saja. Sawang sinawang merupakan penggalan dari filosofi Jawa yang berbunyi "Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang" yang memiliki arti "Hakikat hidup itu hanyalah persoalan tentang cara pandang melihat kehidupan". Ungkapan tersebut sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa dan memiliki makna filosofis yang mendalam. Sawang sinawang memiliki pesan mengenai cara mensyukuri hidup yang dijalani dengan melihat kehidupan orang lain. Kerap kali rasa iri timbul saat melihat pencapaian-pencapaian yang dilalui orang lain membuat seseorang merasa bahwa hidup kita ini tidak berarti (Apalagi bagi mahasiswa semester akhir seperti saya dan beberapa dari kalian, melihat keberhasilan orang lain bukannya turut bahagia malah berakhir dengan membanding-bandingkan). Hal ini tentunya terjadi karena umumnya membicarakan keberhasilan seseorang lebih mudah jika dilihat dari sudut pandang diri sendiri, terlepas dari ketidaktahuan usaha dan kerja keras apa yang telah dilaluinya.

Media sosial disebut-sebut menjadi ajang sawang sinawang dalam era modern ini. Media sosial juga kerap menjadi tempat bagi orang-orang untuk membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain. Padahal yang terlihat di media sosial belum tentu seindah dan senyata dengan yang sebenarnya terjadi di kehidupan aslinya. Namun faktanya, disadari atau tidak media sosial tak ubahnya sebuah buku diary yang dapat dilihat oleh berbagai orang. Mulai dari mengunggah foto makanan, menampilkan model pakaian terbaru atau menginfokan kegiatan apa yang sedang dilakukan. Tentu saja tidak ada peraturan yang melarang hal tersebut,  apalagi di era media sosial kebutuhan eksistensi sudah dianggap manusiawi. Selain eksistensi, sebagian generasi milenial juga menggangap hal-hal tersebut sebagai bentuk penghargaan atas pencapaian yang telah didapatkan (bukan pamer loh ya), jadi wajar jika seseorang memposting hal-hal tersebut dengan alasan sebagai reward atas kerja keras yang telah dilakukannya.

Bagi orang yang melihat kelebihan dan pencapaian orang lain dari segi positif, kelebihan dan pencapaian orang lain akan membuatnya lebih termotivasi dan membuatnya semakin terpacu untuk menjadi lebih baik lagi. Selain itu, mereka juga akan beranggapan bahwa keberhasilan orang lain bukanlah suatu ancaman bagi dirinya. Misalnya beberapa tokoh sukses yang menceritakan proses panjangnya yang penuh rintangan hingga puncaknya dimana ia bisa di sebut sukses dan bisa mengispirasi orang lain. Namun lain cerita jika seseorang melihat keberhasilan orang lain dengan impuls negatif, belum lagi suasana batin yang sedang terpuruk. Akibatnya justru akan timbul rasa iri, dengki dan merasa hidup tidak adil, yang pastinya hal tersebut memiliki dampak yang kurang baik untuk kesehatan mental seseorang.

Contoh dari sawang sinawang ini misalnya jika ada seseorang yang bergelimang harta tetapi keluarganya berantakan, sedangkan tetangganya adalah orang berpenghasilan sedikit namun memiliki keluarga yang harmonis. Dilihat dari sini apakah orang kaya tersebut hidup bahagia ? belum tentu, karena bisa saja orang kaya tersebut menginginkan keluarga harmonis seperti tetangganya itu. Contoh lainnya, jika seorang pelajar menganggap temannya sebagai beban mental karena temannya merupakan mahasiswa dari suatu perguruan tinggi ternama, sedangkan dirinya hanya bisa masuk perguruan tinggi biasa hingga ia selalu dibanding-bandingkan dengan temannya. Jika dilihat sekilas, temannya yang masuk perguruan tinggi ternama terkesan lebih beruntung dibandingkan dengan dirinya, namun jika dilihat dari sisi lain, ternyata perguruan tinggi ternama perlu biaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan perguruan tinggi biasa. Hingga untuk membiayainya, orang tua rela menjual berbagai macam aset harta yang dimilikinya. Sedangkan bagi ia yang tidak memerlukan biaya yang relatif mahal untuk kuliahnya, secara tidak lagsung ia justru dapat membantu perekonomian orang tuanya karena biaya kuliah yang lebih sedikit.

Sampai di titik inilah, hakikat sawang sinawang mencapai puncaknya. Melihat keadaan orang lain dari satu sisi, padahal hanya dengan melihat satu sisi saja tidak dapat menggambarkan secara utuh situasi yang sebenarnya. Terlebih lagi ungkapan sawang sinawang dalam bahasa Jawa dapat memiliki nilai positif, ketika didasari sikap bersangka baik pada orang lain. Bahwa kita tidak baik cepat-cepat menilai dan menghakimi orang lain hanya berdasar kesan dan penglihatan, tetapi kita juga tidak dibenarkan menyelidiki dan serba ingin tahu tentang kehidupan pribadi seseorang.

Persoalan memandang orang lain dan dipandang orang lain sering ditemui dalam kehidupan atau bahkan anda yang mengalami. Tahukah anda mengapa hidup mulai terasa tidak adil ? tentu saja hal itu terjadi karena anggapan tersebut dimulai dari membandingkan kehidupan satu sama lain. Sementara itu, membandingkan adalah aktivitas tanpa garis akhir, masalah dimana rumput tetangga nampak lebih hijau muncul ketika seseorang lupa tentang rasa syukur. Namun yang sering kita lupa dan menjadikan kita lupa akan rasa syukur adalah boleh jadi kehidupan yang selama ini kita keluh kesahkan mungkin adalah kehidupan yang orang lain impikan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x