Mohon tunggu...
grover rondonuwu
grover rondonuwu Mohon Tunggu... Aku suka menelusuri hal-hal yang tersembunyi

pria

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Komunikasi Frontal ala Ahok

10 Februari 2017   22:59 Diperbarui: 10 Februari 2017   23:06 197 1 0 Mohon Tunggu...

Presiden Jokowi selalu memperhatikan faktor kultur, ketika dia berkomunikasi dengan rakyatnya atau dengan lawan-lawan politiknya.  Sekarang bagaimana dengan gaya komunikasi Ahok. Apakah dia memperhitungkan faktor kultural dalam komunikasi politiknya?. Mari kita lihat.

Ketika DPRD DKI menawarkan kepada pemerintah DKI Jakarta supaya menurunkan kontribusi perusahan pengembang reklamasi, dari 15 % menjadi 5%, Ahok memberi catatan "Gila" pada usulan itu.

Selain goresan tulisan 'gila', Ahok sebelumnya berani menolak anggaran sebesar Rp 8,8 triliun yang diajukan DPRD untuk sosialisasi SK Gubernur DKI Jakarta. Ahok memberi lingkaran "Nenek lu" pada proposal itu. "Sosialisasi SK Gubernur itu kan tinggal lihat doang", kata Ahok dengan berang.

Ahok jelas melecehkan anggota Dewan. Dia menghancurkan kultur kong kalingkong yang telah berurat akar dilembaga wakil rakyat yang terhormat itu.

Ketika Majelis Sinode GPIB menjual lahan gereja sebesar 2,1 Ha kepada TNI AD, Ahok berkata, "Aku tidak habis pikir mengapa Majelis Sinode bisa menjual lahan Gereja yang dijadikan sebagai kawasan cagar budaya oleh Pemerintah DKI Jakarta tersebut. Saya enggak tahu. Coba kamu tanya saja sama Sinode yang gila itu."

Ahok menistakan para pendeta dan majelis gereja sekaligus menghancurkan borok institusi gereja yang dipandang kudus oleh umatnya.

Pada waktu sidang gugatan penistaan agama terkait Al-Maidah 51, Ahok berkata dengan nada tinggi kepada KH Ma'ruf Amin ketua MUI, ulama senior Ra'is Aam PBNU, bahwa dia adalah seorang saksi yang tidak pantas, karena dia tidak netral. Ahok menuding bahwa KH Ma'aruf Amin terang-terangan mendukung paslon 1.

Ahok bahkan mengatakan, saksi berbohong, dan mengancam akan memproses secara hukum para saksi. "Kalau Anda menzalimi saya, yang anda lawan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa. Saya akan permalukan dan akan buktikan satu per satu".

Ahok menantang ulama senior yang pengikutnya jutaan orang. Ahok menggugat dengan menunjukkan gigi taringnya yang panjang dan tajam dihadapan seorang pemimpin lembaga Islam (MUI) yang paling berwibawa di Indonesia. Ahok sama sekali tidak gentar berhadapan dengan representan umat Muslim yang massive dan powerfull.

Mulut Ahok adalah mulut comberan. Megawati pernah mengatakan, bahwa mulut Ahok itu mesti diselotip. Pertanyaan sekarang, etiskah seorang gubernur mengeluarkan kalimat-kalimat comberan dihadapan publik?.

Menurut Sutiyoso mantan gubernur DKI, bahwa Jakarta itu seperti hutan belantara, isinya binatang buas semua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x