Mohon tunggu...
Gregorius Aditya
Gregorius Aditya Mohon Tunggu... Konsultan - Brand Agency Owner

Seorang pebisnis di bidang konsultan bisnis dan pemilik studio Branding bernama Vajramaya Studio di Surabaya serta Mahasiswa S2 jurusan Technomarketing Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Saat ini aktif mengembangkan beberapa IP untuk bidang animasi dan fashion. Penghobi traveling dan fotografi Landscape

Selanjutnya

Tutup

Entrepreneur Pilihan

Kehadiran Industri Kreatif dalam Sejarah: Disrupsi atau Keuntungan?

11 Januari 2024   07:00 Diperbarui: 11 Januari 2024   07:06 132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi industri film. Sumber: forbes.com

"Industri kreatif" adalah sebuah istilah yang cukup sering digaungan di era sekarang. Istilah ini mendapat perhatian penuh dunia setelah pemerintah Inggris melalui Department for Digital, Culture, Media & Sport mengeluarkan Creative Industries Mapping Documents pada tahun 1998.  Dokumen tersebut mencatat 13 sektor industri pada masa tersebut yang bervariasi mulai dari Arsitektur, Periklanan, Desain, Perfilman, Musik, hingga TV dan Radio yang kemudian pada perkembangannya terus diupdate seiring kemunculan banyaknya sektor baru. Melalui kelahiran sektor-sektor tersebut lahir pula banyak pekerjaan-pekerjaan, tatanan bisnis, strategi-strategi, maupun bentuk kolaborasi baru yang akhirnya membuat semakin variatifnya industri disamping industri konvensional dan juga industri kultural.

Salah satu pertanyaan reflektif yang cukup menarik untuk diulas adalah, "dengan adanya kehadirannya, apakah sebenarnya industri kreatif membawa sebuah disrupsi atau keuntungan terutama secara eksponensial?" 

Pada pembelajaran ekonomi klasik, jauh sebelum adanya era digital yang berkembang pesat seperti sekarang, kita dapat melihat bahwa dahulu yang dinamakan "pemasaran" tidak sekompleks saat ini dimana kita tahu sebuah bisnis tidak jauh dari adanya transaksi antara penjual dan pembeli atas produk dalam sebuah ruang yang dinamakan "pasar". Namun di era sekarang, yang dinamakan "pemasaran" akan melibatkan banyak sekali pelaku dengan jobdesk dan sistemnya masing-masing seperti Host Live Streaming, Animator, Graphic Designer, Videografer, sistem SEO (Search Engine Optimization), Pay-Per-Click, teknologi AI pada Marketing, serta lain sebagainya. Semua dengan tatanan biaya masing-masing dan juga strateginya masing-masing. 

Bagi generasi yang lebih tua dan hidup dalam industri konvensional tentunya akan menjadi sebuah anomali yang cukup mendistraksi tatanan dimana dahulu pemasaran sesederhana adalah "modal keringat" untuk door-to-door menawarkan barang yang bisa langsung bertatap muka dengan orang lain hingga sukses menjual. 

Apakah ini sebuah gangguan (disrupsi) industri? Pantaskah kita membayar uang ekstra untuk sebuah jasa (yang risikonya terkadang belum tentu membawa impact langsung) dalam bisnis kita?

Pada dasarnya, ketika kita bercermin akan kehadiran suatu alat, sarana atau produk dalam peradaban manusia, semua itu sangat memerlukan bagaimana perspektif kita memandang alat tersebut secara obyektif. Secara kodrat, sebuah alat dapat dipandang baik positif sebagai pembantu aktivitas manusia maupun pengganggu dan semua dengan pertimbangannya masing-masing yang cukup kompleks sesuai dengan konteks peruntukannya. Demikian pula, sebuah industri baru (dalam hal ini industri kreatif) beserta subsektor-subsektornya yang lahir sebagai sebuah produk peradaban untuk dapat dikatakan sebagai sebuah produk disruptif atau tidak memerlukan pertimbangan perspektif dan juga konteks kondisionalnya.

Ilustrasi para pekerja kreatif. Sumber: itm.edu
Ilustrasi para pekerja kreatif. Sumber: itm.edu
Patut diakui, terdapat argumen-argumen yang masing-masing mendukung bahwa industri kreatif itu disruptif atau tidak. Dari argumen yang mendukung adanya disrupsi dari industri kreatif saja, terdapat posisi-posisi bukti seperti adanya perpindahan bentuk ekosistem seperti yang terjadi pada Netflix atas industri film dan televisi konvensional, kebutuhan munculnya bisnis model baru seperti sistem freemium yang menggartiskan layanan dasar namun mengharuskan pelanggan membayar fitur premium, hingga pandangan akan perubahan preferensi customer karena adanya layanan berbasis pengalaman prersonal. Meskipun begitu, terdapat pula pandangan kontra disrupsi yang mampu melihat industri kreatif sebagai pelengkap, leading innovator, dan juga peluang untuk terbukanya pekerjaan baru baik pelaku kreatif maupun konvensional.

Konsumen video game. Sumber: cnbc.com
Konsumen video game. Sumber: cnbc.com

Pada akhirnya, apakah kebangkitan industri kreatif dan ekonomi kreatif merupakan sebuah “disrupsi” bagi industri konvensional adalah sebuah pertanyaan kompleks yang tidak dapat dijawab dengan mudah. Hal ini bergantung karakteristik sebuah industri konvensional, sifat persaingan, dan kemampuan kedua industri (kreatif dan konvensional) untuk beradaptasi dan berinovasi (konsep "adapt or die").  

Memang patut diketahui bahwa di lapangan sendiri, industri kreatif dan industri konvensional tidaklah selalu merupakan entitas yang terpisah. Ada banyak perusahaan besar memiliki departemen kreatif sendiri yang mengembangkan produk dan layanan baru serta bekerjasama dengan pemain industri kreatif. 

Selain itu, banyak usaha kecil yang beroperasi baik di perekonomian kreatif maupun konvensional. Kebangkitan industri kreatif dan ekonomi kreatif dalam sejarah sendiri mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian global.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Entrepreneur Selengkapnya
Lihat Entrepreneur Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun