Mohon tunggu...
Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Mohon Tunggu... Petani - Pegiat ComDev, Petani, Peternak Level Kampung

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Artikel Utama

Miris, Buah Duku dan Rambutan Petani Tak Berharga Saat Panen Raya

11 April 2024   10:54 Diperbarui: 17 April 2024   10:00 383
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Satu karung buah duku dan sekantong buah rambutan ini diberi secara gratis oleh sahabat tani di kampung, tak mau dibayar (dokpri Greg Nafanu)

Ada dua perasaan yang berkecamuk dalam hati setiap kali menikmati buah duku dan buah rambutan petani selama lebih kurang 2 minggu ini.

Perasaan pertama, senang sekali. Sebab buah yang segar dan matang pohon itu diperoleh secara gratis. Ambil sendiri pula di pohon. Dan itu diberikan secara tulus oleh pemilik. 

Namun bersamaan dengan itu, muncul perasaan lain. Miris, karena buah yang berkualitas itu kini seperti tak ada harganya di lokasi yang ada. 

Panen raya, malah membuat petani gigit jari. Sebagian besar buah jatuh dan membusuk di tanah. Tetangga yang berminat boleh mengambilnya sendiri. Dan beberapa ekor bajing loncat juga ikut berpesta pora di atas pohon. Menikmati manisnya rambutan dan duku.

Terbayang berapa lembar uang seratus rupiah yang bisa didapatkan oleh petani apabila buah duku dan rambutannya itu bisa dijual dengan harga yang cukup tinggi.

Saat ini, harga rambutan di tingkat petani Baradatu menurun hingga Rp 500 per kilogram. Harga duku pun demikian. Ada yang mencoba memasarkan lewat medsos, Rp 10.000 per 3 kiloggram. 

Di pasar, harga duku masih bertahan pada Rp 5.000 per kilogram. Namun banyak juga yang mulai membusuk karena tidak terbeli dan terpaksa dibuang oleh pemiliknya.

Sebelumnya, di akhir Maret 2024 harga rambutan di Kota Kupang NTT masih berkisar antara Rp 15.000 - Rp 20.000 per kilogram. Bahkan bisa naik hingga Rp 35.000 per kilogramnya. 

Namun tentunya tak segampang itu untuk mengirimkan buah-buahan yang memiliki beberapa persoalan ketika matang. Rempong banget kalau dikirim.

Sementara, serapan pasar lokal tak memadai. Banyak buah lainnya yang dijual di pasar terdekat, terutama di Pasar Baradatu. 

Tampak banyak sekali buah lokal yang dijual selain duku dan rambutan. Di samping itu, ada pula buah impor yang dijejer bersama buah lokal Nusantara. Termasuk di dalamnya pir, apel, dan jeruk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun