Mohon tunggu...
Gizella Nariratri
Gizella Nariratri Mohon Tunggu... .

Mahasiswa Prodi Ilmu Informasi dan Perpustakaan Unpad

Selanjutnya

Tutup

Digital

Perkembangan Bisnis dengan E-Commerce dalam Revolusi Industri 4.0

27 Mei 2019   13:46 Diperbarui: 27 Mei 2019   14:03 0 0 0 Mohon Tunggu...

Teknologi tidak pernah berhenti berkembang dan kerap membantu manusia memenuhi kebutuhan, baik dalam skala kecil maupun besar. Teknologi memudahkan manusia untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan menghemat waktu dan tenaga, tidak terkecuali dalam masalah belanja.

Di tahun 2019 ini, siapa yang tidak pernah belanja online? Mulai dari hal kecil yang berhubungan dengan ponsel seperti ponsel dan kuota internet, dapat dibeli secara online di e-commerce atau isi ulang melalui m-Banking, tidak perlu berjalan ke konter pulsa. Orang yang biasanya hanya membeli sepatu atau baju secara online, kini mulai membeli keperluan rumah tangga seperti sapu, kain pel, hingga sayur-mayur di internet. Berbelanja online dikatakan lebih praktis dan harganya lebih murah.

Bisnis e-commerce dimulai sejak tahun 1990-an, meskipun pada saat itu belum marak, disebut sebagai era e-commerce 1.0 di mana masih berupa katalog barang. E-commerce 2.0 adalah masa di mana mulai adanya proses pemesanan dan pengiriman barang, umumnya masih menggunakan website yang hanya bisa diakses menggunakan komputer. Berlanjut ke e-commerce 3.0 yang masih umum terjadi saat ini, yaitu kegiatan jual-beli yang dilakukan menggunakan peralatan mobile. Di masa inilah mulai menjamurnya bisnis di berbagai sosial media seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain.

Manusia mulai mengembangkan ide untuk terus memperluas bisnisnya sesuai dengan kemajuan teknologi. Kini, e-commerce telah mencapai fase e-commerce 4.0 yang melibatkan berbagai perkembangan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT). E-commerce 4.0 memungkinkan adanya integrasi antara toko offline dan online dengan sebutan O2O atau online-to-offline.

Sistem O2O ini sudah diterapkan oleh berbagai marketplace di Indonesia. Sebut saja MatahariMall yang memungkinkan pembeli untuk memesan barang secara online dan mengambil barang di gerai Matahari terdekat. Di bidang jasa, contohnya transportasi online Gojek dan Grab serta sewa penginapan seperti Airbnb, turut menerapkan O2O dalam bisnisnya.

Sementara, marketplace lain seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Blibli, dan lain-lain memungkinkan pembeli untuk membayar barang di tempat atau disebut cash on delivery (COD) dengan menggunakan kurir khusus, juga dikirim melalui ojek online agar pengiriman lebih cepat dan bisa dikembalikan pula apabila tidak puas. Mayoritas pembeli yang memilih metode ini karena memungkinkan untuk memastikan kondisi barang terlebih dahulu sebelum membayar.

E-commerce 4.0 sebagai bagian dari Revolusi Industri 4.0 adalah sebuah hal yang harus dihadapi. Perlu ada penguasaan teknologi untuk dapat mengikuti arus perkembangan bisnis di era ini. Kemudahan yang ditawarkan teknologi semakin banyak sehingga calon pembeli lebih memilih berbelanja dan menggunakan jasa hanya dengan membuka aplikasi pada ponsel dengan durasi tidak sampai lima menit.

Sistem sudah tersedia, kini hanya menunggu kesiapan dari masyarakat untuk menerima e-commerce 4.0. Konsep 4.0 bisa menguntungkan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, dari pengembang e-commerce, penjual, hingga pembeli. Di sisi lain, hal yang perlu diperhatikan adalah kebijakan pihak e-commerce dalam memberi keuntungan antara penjual dan pembeli, atau pemberi jasa dengan pelanggan dalam bidang jasa.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x