Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Usahlah Mengglorifikasi Kata-kata Kotor

4 September 2019   18:09 Diperbarui: 4 September 2019   20:59 0 21 9 Mohon Tunggu...
Usahlah Mengglorifikasi Kata-kata Kotor
Cat oleh Bergadder - Foto: pixabay.com

Sebagai seorang yang cukup lama menggeluti ilmu linguistik. Ada rasa rikuh, saat seseorang begitu antusias dan gaduh dengan istilah ekspletif bahasa atau dialek lain. Istilah ekspletif lebih populer dengan makna tabu, profanitas, dan umpatan.

Perbedaan dan persamaan antar bahasa dan/atau dialek pun sebaiknya kita terima. Jika sudah mengetahui perbedaan. Apa perlu diglorifikasi seperti menulis berita atau artikel tentang hal tersebut? Saya pribadi merasa tidak perlu. 

Ya, contohnya 2 kata yang sempat trending beberapa waktu lalu, memek dan kontool. Dua kata yang jika dikontekstualisasi ke suatu dialek yang berbeda berarti mengacu kepada alat kelamin. Kata memek dan kontool (kontol) banyak digunakan di dialek Jawa bagian barat.

Kedekatan (kesamaan) ungkapan juga adalah perbedaan beragam bahasa. Pada sebagian besar penutur bahasa Indonesia, kesamaan ortografi dan fonetis dua kata di atas nyata. Walau perbedaan makna dan asosiasinya jauh berbeda. 

Apalagi jika belum ada pembanding dua kata tadi. Si penutur bahasa tersebut tidak akan merasa ada kesan ekspletif 2 kata tersebut. Namun, sebagai penutur bahasa dan/atau dialek yang merangkum 2 kata tadi ke dalam kosakatanya. Maka hal tersebut juga dimaknai berbeda dari bahasa asal penutur sebenarnya.

Karena toh dari beragam daerah di Indonesia, ada kata lain yang mewakili alat kelamin. Pembaca dari beragam daerah pasti sudah tahu. Sehingga mewakili 2 kata "jorok" tadi untuk mengacu bahasa Indonesia sudah salah.

Faktor kemanasukaan (arbitrariness) menjadi penentu bunyi dan makna dari berbagai bahasa. Konsep yang dicetuskan Bloomfield ini menjadi faktual pada beragam bahasa. Penutur bahasa secara historis dan kronologis mengkonvensikan dan merangkai bunyi untuk mengacu pada konsep, hal, dan benda yang mereka temui. 

Mengapa orang Inggris memilih kata cat untuk kucing tidak pernah ada yang tahu. Sehingga tidak heran orang Barat akan memaknai Toko Cat sebagai "penjual kucing" saat ada di Indonesia.

Maka kemiripan fonetis dan morfologis sebuah kata tidak bermakna apa-apa. Orang Inggris dengan kosa kata mental (mental lexicon) cat akan selalu mengacu kata ini sebagai kucing. Berbeda dengan kita yang mengacu cat (atau cet) sebagai cairan/bahan kimiawi untuk mewarnai.

Apalagi secara fonetis tidak terlalu banyak perbedaan suara bahasa Indonesia dengan Inggris. Apalagi dengan bahasa-bahasa lain yang mungkin ortografinya berbeda selain Latin seperti Cyrillic atau berbasis simbol seperti Hiragana.

Dulu, para filologis melacak persebaran bahasa guna menemukan "bahasa ibu". Seperti yang ditemukan Grimm yang telah menelusuri banyak bahasa-bahasa Indo-European. Sehingga kata ibu mengalami banyak variasi di daratan Europa sampai semenanjung India sepert: mother (Eng), mir (Goth), mter (Latin), mdr (Ger), dsb.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2