Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | University of Wollongong, Australia | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: /girilumakto Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Nasib Fotografi di Tengah Gempuran Hoaks

11 Juli 2019   15:31 Diperbarui: 11 Juli 2019   21:05 0 22 6 Mohon Tunggu...
Nasib Fotografi di Tengah Gempuran Hoaks
Army Photography oleh Amber Clay - Foto: pixabay.com

Event di Institut Seni Indonesia ini bisa menjadi referensi kontemporer fotografi. Bahasannya cukup anti-mainstream. Pemaparannya membahas nasib fotografi di tengah deraan informasi hoaks yang melanda kita saat ini.

Dirangkai dengan tema "Kondisi Fotografi Hari Ini di Tengah Maraknya Hoaks". Menjadi rangkaian acara Pameran Fotografi Prodi Fotografi 2017 ISI Surakarta.

Sunaryo Haryo Bayu atau yang akrab disapa Pak Yoyok sebagai jurnalis foto senior Solopos menjadi narasumbernya. Pengalaman dan karya jurnalis beliau tidak perlu diragukan kejujurannya. 

Saya sendiri mewakili Mafindo Soloraya memaparkan demografi hoaks dengan medium foto dan narasi. Ditambah nasib foto dengan pengaruh suntingan artificial intelligence yang selain canggih tapi juga membahayakan.

Flyer Event Pameran Fotografi Prodi Fotografi 2017 ISI Surakarta - Ilustrasi: Panitia
Flyer Event Pameran Fotografi Prodi Fotografi 2017 ISI Surakarta - Ilustrasi: Panitia
Susan Sontag pernah berucap dalam bukunya "On Photography". Bahwa dengan foto, dunia kita dikerdilkan. Foto pun dikenai manipulasi, propaganda, dan dijejali misinformasi.

Sejak teknologi kamera memungkinkan kita mengabadikan sebuah momen. Nilai etis, estetis, bahkan ekletik terungkap. Dan pada foto pun kejujuran atau kebenaran bisa terungkap.

Seorang jurnalis foto sepatutnya menyajikan realitas. Walau kadang harus berurusan dengan pencitraan rezim, institusi, bahkan tokoh. Namun kejujuran sebaiknya dijadikan prinsip integritas. Begitulah ungkap Pak Yoyok seorang jurnalis foto koran Solopos.

Foto-foto beliau sering memunculkan kejujuran yang bagi beberapa orang tidak diinginkan. Yang pada akhirnya, atas nama integritas dan profesionalisme, foto berisi kejujuran tetap ia tangkap untuk diungkap.

Beberapa foto beliau seperti kerusuhan Solo pada Mei 1998 pernah ia abadikan. Pernah, sebuah LSM men-scan foto beliau untuk dibengkokkan maknanya dalam buletin LSM tersebut. 

Laman Utama Daily Mirror edisi 1 Mei 2004 Beserta Edisi Klarifikasi - Foto: editorchoice.com
Laman Utama Daily Mirror edisi 1 Mei 2004 Beserta Edisi Klarifikasi - Foto: editorchoice.com
Sebuah foto bisa begitu provokatif sebagai media propaganda. Di tanggal 1 Mei 2004, koran tersohor Daily Mirror di London menayangkan foto hoaks. Laman depannya menampilkan seorang tentara sedang menyiksa. Penyiksaan tahanan ini diduga di kamp tahanan di Irak.

Foto-foto yang ditampilkan cukup mengerikan. Ada adegan di mana personel militer mengencingi tahanan. Ada pula foto adegan personel militer yang memukulkan moncong senjata mereka ke tahanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x