Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Pernah Populer di Indonesia, Platform Path Akhirnya Tutup

18 September 2018   07:32 Diperbarui: 18 September 2018   08:59 1872 17 13
Pernah Populer di Indonesia, Platform Path Akhirnya Tutup
Goodbye Path - ilustrasi: makemac.com

Path pernah mencapai pengguna 4 juta orang di Indonesia. Dan inipun yang menggugah Kakao, vendor asal Tiongkok, mengakuisisi Path tahun 2015. Namun setelah bertarung selama 8 tahun, Path akhirnya gugur di 'medan perang' platform sosmed.

Path akan tidak ada lagi di Playstore mulai 1 Oktober. Sedang Path akan tidak lagi mengupdate linimasa pada tanggal 18 Oktober 2018 nanti.

Mungkin benak kita bertanya, mengapa bisa Path tutup? Padahal Path unik dan memiliki target users tersendiri.

Path, menurut pendirinya adalah platform berkonsep privacy. Ketika dirilis kali pertama tahun 2010, pengguna hanya akan memiliki 50 followers. Lalu dinaikkan menjadi 150 orang. 

Dengan kata lain, Path memang berfokus pada interaksi lingkar teman terbatas. Daripada ribuan teman di sosmed tapi hanya beberapa orang yang sering diajak komunikasi.

Platform Path-lah yang memulai menggunakan sticker. Sticker emotion yang menjadi bagian Facebook juga dianggap meniru Path. Dan banyak lagi platform sosmed yang akhirnya mengimitasi model stickers emotion Path.

Mengapa orang meninggalkan Path? Mungkin inilah yang membuat kita banyak bertanya. Saya coba berikan beberapa alasan dari media mainstream dan opini pribadi.

Pertama, Facebook sebagai 'raja' sosmed tidak bisa dilawan. Ya. Path kalah dengan persaingan dengan raksasa FB dengan Instagram dan WhatsApp yang dimilikinya. Dengan lebih dari 1,5 miliar pengguna, FB menjadi sumber informasi sekaligus sosmed. Belum lagi ratusan juta users pada IG dan WA.

Jika ditengok ke belakang Friendster dan MySpace juga mati dikarenakan FB. Walau tidak langsung, FB sejak 2006 dengan segala kemudahan interface dan friending, memanjakan users.

Kedua, Path menolak diakuisisi Google. Saat Path memiliki 50 juta lebih users, Google sempat menawarkan 100 juta USD di tahun 2011. Namun karena merasa tertekan, Dave Morin pendiri Path menolak tawaran Google.

Mungkin dengan 'diurusi' oleh Google, Path masih bisa bertahan. Tetapi juga, melihat sosmed G+ dari Google, sepertinya masa depan Path juga belum pasti baik. Namun Morin tidak akan lepas karirnya dari platform sosmed. Kabarnya ia berinvestasi pada Slack.

Ketiga, karena users tidak peduli dengan privacy. Mungkin skandal Cambridge Analytica adalah titik kulminasi pelanggaran privacy. Betapa sampai saat inipun privacy seolah bukanlah menjadi persoalan di sosmed.

Begitupun dengan platform sosmed yang tidak juga peduli dengan privacy penggunanya. Google dikabarkan terus melacak penggunanya sepanjang waktu. Facebook pada skandal CA menjual identitas users ke para pengiklan. Dan kabarnya, banyak app games/utilities yang juga menjual data kita ke para pengiklan.

Dan dengan 4 juta lebih pengguna di Indonesia, Path meninggalkan kesan. Fitur tag location di Path banyak ditulis ke istilah yang aneh-aneh. dan dengan sedikit follower, tentu interaksi yang terjadi di Path lebih banyak. Dan mungkin juga lebih bersahabat daripada platform lain.

Dan, kita ucapkan selamat tinggal pada Path. 

Referensi: businessinsider.com | engadget.com | techcrunch.com  

Salam,

Solo, 18 September 2018

07:30 am