Mohon tunggu...
Ghulam Falach
Ghulam Falach Mohon Tunggu... Pengajar yang selalu ingin belajar untuk mensyukuri fungsi akal sehat

Salah satu praktisi di STTKD Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Romantisme, Kritik Modernitas

3 Juli 2020   15:35 Diperbarui: 3 Juli 2020   15:39 18 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Romantisme, Kritik Modernitas
gambar diambil dari laman web www.dictio.id

Keterpengaruhan sikap dan perilaku individu sebab perubahan zaman membutuhkan refleksi  akan hakikat berkehidupan. Buah ilmu pengetahuan mempunyai andil besar dalam prosesi berkehidupan dari Abad Pencerahan hingga era modern yang telah melahirkan sains, teknologi, dan industri. Bisa dikatakan dibalik cemerlangnya prestasi perkembangan ini ternyata menyimpan sisi yang memprihatinkan.

Tak bisa dipungkiri bahwa sebab perkembangan itu pada akhirnya menstimulus terjadinya  perilaku kompleks manusia yang condong menjerumus ke arah reduksi (dehumanisasi). Saat ini manusia tak ubahnya sekedar onggokan mesin yang berjalan. Meminjam istilah Thomas Hobbes yang menyebutkan bahwa manusia ibarat mesin berakal.

Menurut Thomas Hobbes manusia tidak lebih pada suatu bagian alam bendawi yang mengelilinginya, maka segala sesuatu yang terjadi padanya dapat diterangkan dengan cara yang sama yaitu menerangkan kejadian-kejadian alamiah secara mekanis. Dengan kata lain manusia hidup selama darahnya beredar dan jantungnya bekerja, yang disebabkan pengaruh mekanis dari hawa atmosfir.

Dikatakan demikian karena transisi cara berpikir rasional dan logis yang sedemikian kompleks tidak dibarengi dengan kepekaan emosi dan perasaan, menyebabkan manusia menjadi makhluk yang rasional. Akibatnya, bukanlah hal tabu bila banyak pandangan yang mengatakan manusia seperti mesin-mesin yang berjalan yang digerakkan oleh akal (rasio) belaka. Proses membiarkan diri terjerumus dalam instanisasi alamis menyebabkan nihil akan kepekaan emosi dan perasaannya.

Ironisnya keadaan ini dapat mengkikis dimensi moralitas tanpa disadari. Terpampangnya panorama persaingan dalam aspek sosio-politik, ekonomi, dan kebudayaan telah menyebabkan hasrat untuk penguasaan diri manusia terhadap diri lainya dapat memposisikan manusia sebagai serigala bagi manusia lainnya. Maka, sangat relevan bagi kita untuk kembali merefleksikan pemikiran melalui kritik akan diri kita.

Ditulis oleh Arian Pangestu seorang Mahasiswa sastra yang memaparkan sepak terjang filsuf di masa pencerahan. Tercatat dalam sejarah pemikiran, sosok filsuf masa pencerahan yang menolak rasionalisme Prancis di abad 18 bernama Jean Jacques Rousseau. Pemikiranya terjewantahkan dalam anggapan bahwa rasionalisme bukan satu-satunya energi untuk membangun tatanan “dunia baru” yang lebih baik. Sebaliknya, Rousseau memilih mengutamakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa, dan perasaan-perasaannya daripada penalaran logika dan rasionalitas semata.

Ungkapan Macfarlane dalam Ahmad Suhelmi menyebutkan, bahwa Rousseau sebagai tokoh yang melahirkan gagasan individualisme ekstrem meskipun di sisi lain ia pembela mati-matian kolektivisme. Terlepas dari posisi intelektualisnya Rousseau dikenal sebagai peletak dasar era romantisme sebagai lawan dari rasionalisme.

Romantisme Rousseau mengkritik pengkultusan terhadap akal (rasio). Pendewaan terhadap akal hanya akan membuat manusia kehilangan fitrahnya sebagai makhluk perasa (la sensibilite) yang mengedepankan emosi daripada akal (rasio). Menurutnya, manusia yang mendewakan akal budi tanpa menyertakan aspek kepekaan emosi, kehalusan jiwa, dan perasaan-perasaannya seperti jasad tanpa ruh.

Seorang romantisme seperti Rousseau akan sangat mudah tergores hatinya jika melihat kemiskinan, ketidakadilan, dan penindasan yang dialami oleh masyarakatnya. Dalam hal ini romantisme Rousseau jelas menolak hiruk pikuk kebisingan kehidupan modernitas, industrialisasi, dan ekspansi kapitalisme yang hanya akan merusak tatanan kehidupan dan alam tradisional.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x