Mohon tunggu...
Ghandie Kurnia Widi
Ghandie Kurnia Widi Mohon Tunggu... Student

Saya adalah seorang mahasiswa program studi S1 Management Business Bina Nusantara University

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Gretha Thunberg, Kerusakan Alam, dan Ironi Perubahan Iklim Dunia

18 Oktober 2019   14:06 Diperbarui: 18 Oktober 2019   14:38 0 1 0 Mohon Tunggu...

"Apakah kamu pikir mereka mendengarkan kita? Kita akan membuat mereka mendengar kita!

Kata-kata tersebut adalah seruan yang diberikan Greta Thunberg kepada sekitar 250.000 orang di jalanan New York, dan jutaan orang di seluruh dunia yang berpartisipasi dalam protes iklim terbesar dalam sejarah. Kata-katanya yang tajam dan inspiratif telah menyadarkan banyak orang tentang iklim dan keadaan darurat ekologis.

Greta Thunberg, seorang remaja berusia 16 tahun menyuarakan aspirasinya mengenai perubahan iklim dan isu lingkungan hidup. Aksinya dimulai pada bulan Agustus 2018 lalu dimana dia mogok sekolah pada tiap hari Jumat untuk melakukan protes di depan gedung lembaga legislatif nasional Swedia. Ia menyuarakan agar pemerintah Swedia mengurangi emisi karbon sesuai dengan Persetujuan Paris. Aksinya ini menarik perhatian dan semakin luas. Setiap Jumat ia mengajak teman-temannya untuk melakukan aksi serupa hingga meluas dan dikenal dengan istilah Fridays for Future.

Dikutip dari Time, hingga 24 Mei lalu, 1,6 juta siswa di 1.600 kota di 125 negara mengikuti aksi protes Greta, mogok sekolah untuk mendesak pihak berwenang mengambil tindakan tegas atas perubahan iklim. Aksinya menginspirasi berbagai macam gerakan protes serupa di seluruh penjuru dunia. 

Nama Greta terus dikenal dimana-mana hingga ia diundang untuk berbicara di Konferensi Perubahan Iklim PBB 2018. Beberapa seruan yang dibawa ke protes antara lain desakan kepada negara-negara untuk beralih ke energi terbarukan, tuntutan untuk mematuhi Perjanjian Paris 2015, hingga tekanan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Semua ini dilakukan demi alasan penting, Greta melihat kondisi lingkungan hidup saat ini, terutama isu perubahan iklim sudah sangat mengkhawatirkan. Sepanjang 2019 sudah terjadi berbagai peristiwa terkait perubahan iklim, seperti:

Gelombang panas yang melanda Eropa pada Juli 2019. Peringatan dikeluarkan di Prancis utara dengan suhu udara mencapai lebih dari 41C. Di Inggris, suhu udara mencapai 39C, Catatan suhu Belgia, Jerman dan Belanda juga mengalami kenaikan yang signifikan dalam jangka waktu yang sama. Para ilmuwan menyatakan hal ini terjadi karena "konsentrasi karbondioksida (gas rumah kaca) yang lebih tinggi di atmosfir". Penggunaan bahan bakar fosil yang mempengaruhi kestabilan iklim global secara serius.

Banjir yang melanda Amerika Serikat pada Juni 2019, banjir bermula pada bulan Maret ketika rangkaian hujan lebat dan salju cair melanda Missouri. Sejak itu, banjir tak terhindar karena Mei adalah bulan paling banyak hujan di Amerika. 

Ahli lingkungan Profesor Samuel Munoz dari Northeastern University mengatakan banjir tahun 2019 bukanlah hal yang biasa. Menurutnya, "tidak biasa" kawasan pedalaman Amerika dan Midwest mengalami badai besar dan cuaca buruk pada saat musim semi. Perubahan iklim yang disebabkan manusia memperkuat penyebab dari bencana banjir tersebut.

Kebakaran hutan Amazon yang terjadi pada baru-baru ini semakin memperburuk keadaan. Hutan Amazon, yang lebih dari setengah kawasannya terletak di Brasil, adalah hutan hujan tropis. Ini dianggap sebagai hutan keanekaragaman hayati dengan berbagai spesies unik tumbuhan dan hewan. Hutan lebat ini menyerab karbon dioksida secara besar-besaran. Karbon dioksida merupakan sebab terjadinya perubahan iklim karena memicu terjadinya pemanasan global. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3