Mohon tunggu...
Gerry Gratias
Gerry Gratias Mohon Tunggu... Karyawan Swasta II Penikmat Jogja -

Selanjutnya

Tutup

Nature

Waspadai si Cantik namun Berbahaya, Duo Badai Cempaka-Dahlia

21 Desember 2018   10:08 Diperbarui: 21 Desember 2018   10:16 134
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
bambangsoepijanto.com

Orang Jawa mengenal akhir tahun sebagai waktu-waktu penuh dengan hujan. Bahkan mereka menciptakan istilah untuk bulan Desember yaitu Gede-gedene Sumber atau sumber air sedang besar-besarnya dan istilah Udan Saben Ari atau Hari untuk menyebut bulan Januari. 

Kekhasan bulan-bulan akhir tahun sebagai waktu-waktu basah juga diangkat oleh Efek Rumah Kaca dalam lagu Desember yang mengangkat kesukaan mereka pada hujan di bulan Desember. 

Istilah ini bukan Cuma isapan jempol, didasarkan pada fenomena pergantian musim yang lazim terjadi di Indonesia sebagai daerah tropis. Namun hujan bisa menjadi masalah kala mengamuk bersama angin dan petir serta berlangsung lama.

Secara scientific, kedua badai ini terbentuk saat matahari di bumi bagian selatan menyebabkan tekanan rendah disekitar Samudra Hindia. Tekanan itu berbentuk spriral atau siklonik. 

Kondisi ini ditambah dengan pasokan uap air sehingga menjadi sebuah badai. Karena posisinya di wilayah tropis, maka disebutlah siklon tropis. Nama bunga-bungaan untuk kedua badai tadi diambil berdasarkan urutan alfabet. Tirto.id dalam artikelnya menyatakan Jakarta Tropical Cyclone Warning Center dan WMO sebagai otoritas meteorologi memilih nama bunga agar mudah diingat dan tidak bias gender.

Tahun lalu Jogjakarta dihantam oleh dua badai siklon tropis bernama Dahlia dan Cempaka. Meski terdengar indah, keduanya mampu memporak porandakan pohon hingga baliho, merendam sawah dan pemukiman akibat banjir juga melongsorkan tanah. Laut bergolak menciptakan gelombang besar. Hasilnya mampu melumpuhkan sementara lalu lintas dan aktifitas manusia di darat, laut dan udara.

Meski badai menyandera, banyak orang yang mesti tetap bekerja atau berkendara ditengah badai. Bagi yang punya rejeki lebih aktifitasnya bisa ditunjang dengan mobil. 

Perjalanan mereka tentu lebih  terlindung dari angin dan hujan. Namun banyak yang mesti berjibaku dengan hujan dan badai dengan sepeda motor. Saat-saat seperti inilah adab dan kelihaian pengguna kendaraan diuji. Sebagai pengendara sepeda motor saya sering menjumpai sesama pengguna jalan yang ngebut saat hujan. 

Bukannya melambatkan laju saat melewati genangan atau banjir, mereka malah ngebut. Entah sadar atau tidak, laju kendaraan mereka menyiramkan air genangan pada pengguna jalan lain, bahkan ketika sudah berjas hujan air itu bisa saja mengenai wajah dan badan. Hal yang cukup menyebalkan dan mengganggu. Berkendara ditengah hujan lebat dan badai juga harus waspada pada lubang yang tertutup genangan air. 

Ini bisa membahayakan jika pengemudi tidak seimbang atau sedang ngebut. Persoalan lainnya adalah jarak pandang yang terbatas, entah bagi pengendara mobil atau sepeda motor. Melaju pelan dan hati-hati saat hujan besar atau memilih menepi dan berteduh menjadi opsi yang aman. Biar lambat asal selamat jadi kunci keselamatan.

Badai juga bisa membuka persoalan baru yaitu resapan air dan drainase yang mampet. Air yang tak tertampung meluber kemana-mana, hingga ke jalan raya. Dengan salah satu misi menjaga keserasian lingkungan, Bambang Soepijanto calon anggota DPD RI dapil DIY bisa menjadi harapan akan timbulnya penataan kota dan resapan air yang lebih baik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun