Mohon tunggu...
Rizky Fachlevi
Rizky Fachlevi Mohon Tunggu... Buruh Seni

Mahasiswa seni

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Wisran Hadi, Bumi Teater, dan Mini Kata

20 November 2019   01:59 Diperbarui: 20 November 2019   02:27 0 1 0 Mohon Tunggu...

Sumatera Baratmerupakan sebuah provinsi yang terletak di pulau Sumatera, keindahan alamSumatera Barat seakan tak ada habis-habisnya untuk di bahas. Selain keindahanalamnya, pesona budaya dan kultur masyarakat di Sumatera Barat juga menjadidaya tarik tersendiri.

Dari daerah yangpernah di terjang gempa pada tahun 2009 ini pulalah lahir tokoh-tokoh pentingbaik di tingkat nasional maupun internasional, sebut saja salah satu foundingfather negeri ini mulai dari Muhammad Hatta hingga Tan Malaka berasal daridaerah ini.

Selain itu paraseniman-seniman yang karya-karyanya sudah malang-melintang di panggung nasionalatau koran-koran nasional juga menjadi pertanda bahwa Sumatera Barat tidakpernah kehabisan orang-orang hebat di dalamnya.

Dari daerah inilahkita kenal bapak perfilman nasional yaitu, Usmar Ismail yang memulai debutnyasebagai seorang sutradara film, dalam film 'Harta Karun'. Ia menjadi tokohsentral dalam perkembangan film di Indonesia.

Salah satu yangjuga merupakan tokoh penting dalam dunia kesenian teater Indonesia dan teaterSumatera Barat, ialah Wisran Hadi.

Pasca terhentinyakegiatan kesenian Nazif Basir berama Teater Kota Padang dalam dunia teater pada1967 silam, Sumatera Barat kontan mati suri dalam perjalanan kehidupanteaternya saat itu, meski begitu teater di Sumatera Barat kemudian perlahanbangkit dengan munculnya kelompok-kelompok teater yang mulai bergerakmenunjukkan eksistensinya. Mulai dari SEMI (Seniman Muda Indonesia) di bawahpimpinan Zetka dan AA Navis dan kemudian BUMI TEATER.

Kurang dari sepuluhtahun setelah terhentinya kegiatan Teater Kota Padang di bawah arahan NazifBasir, sebuah kelompok teater berdiri di kota Padang, ialah BUMI TEATER. Padaperesmiannya Wisran Hadi sebagai salah seorang dari 5 pendiri Bumi Teaterberkesempatan melakukan pementasan berjudul "Gaung". Setelah berdirinya BUMITEATER, kelompok tersebut semakin berkembang dengan hadirnya Bumi Seni Rupa(1976), Bumi Sastra (1977), dan Bumi pustaka (1978).

Bumi kemudianmenjadi sebuah kelompok teater yang sangat diperhitungkan baik di tingkat lokalmaupun nasional, eksistensi BUMI TEATER sebagai sebuah kelompok teater, jugamemberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan teater di SumateraBarat, khususnya di kota Padang.

Maka tak bisadipungkiri berdirinya BUMI TEATER sebagai sebuah kelompok yang bergerak dalambidang seni dan budaya, membuat ekosistem kehidupan seni, khususnya seni teaterdi Sumatera Barat semakin berkembang, lewat kerja-kerja kesenian yang dilakukansecara masif dan konsisten, BUMI tak butuh waktu lama untuk membawa namaSumatera Barat untuk terlihat dalam radar teater nasional, nama BUMI TEATERselalu hadir di setiap event teater berskala nasional.

Lewat kerjakonsisten dan kepiawaiannya dalam bidan menulis itu pulalah, Wisran Hadi yangpada saat itu sebagai salah satu penulis naskah drama yang cukup produktif diBUMI mendapatkan ganjaran yang setimpal, berupa penghargaan sebagai pemenangdalam Sayembara Naskah yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, sejak tahun1975 sampai tahun 1980.

Untuk urusankepenulisan Wisran Hadi merupakan satu dari sekian banyak teaterawan yang cukupproduktif di Indonesia, karya-karyanya yang sangat lekat dengan budayaMinangkabau selalu menjadi pusat perhatian dalam melihat peta teater nasional,Selain itu Wisran juga dikenal sebagai salah satu dramawan yang sering kalimelakukan experimentasi terhadap naskahnya. Dalam naskah-naskahnya Wisran jugaselalu berusaha melakukan demitifikasi terhadap budaya. Meski naskah-naskahWisran selalu lekat dengan persoalan budaya Minangkabau, Wisran juga memilikinaskah-naskah yang memuat isu nasional seperti naskah Kemerdekaan (1980), juganaskah-naskah drama anak-anak antara lain : Putri Cendana (1975), Angsa-AngsaBermahkota (1975), Kejaran Bungsa (1975), Putri Mawar (1975), Saijah dan Adinda(1975).

Keberagaman temadalam naskah Wisran tidak terlepas dari identitas kulturnya sebagai orangMinangkabau, yang memiliki kekuatan dalam bahasa verbal, hal ini di tunjukanlewat tradisi-tradisi kebudayaan Minangkabau, seperti Kaba Minangkabau yangdiucapkan lewat pantun, dendang, atau pun petatah-petitih, tradisi MakanBajamba, atau Randai yang merupakan seni pertunjukan Lokal Minangkabau.Masyarakat Minangkabau memang umumnya tidak pernah lepas dari kata-katafilosofis yang memiliki makna-makna tertentu di dalamnya, atau biasa disebutKieh.

Kekuatan darikata-kata dalam masyarakat Minangkabau inilah yang kemudian menjadi patokannyadalam menyusun naskah-naskahnya, Wisran melakukan explorasi habis-habisandengan kata dalam naskah-naskahnya. Bahkan tak jarang naskah-naskahnya jugadipentaskan oleh kelompok-kelompok teater yang saat itu sudah lebih dulumemiliki nama.

Wisran dan Mini Kata

Pada tahun 1968 W.SRendra pulang dari Amerika dan membawa sebuah kebaruan dalam perkembanganteater Indonesia pada masa itu, ialah "Teater Mini Kata" yang diistilahkan olehGoenawan Mohamad. Pada dasarnya "Teater Mini Kata" yang dibawa oleh Rendramerupakan sebuah metode pelatihan akting dan improvisasi, lalu kemudianberkembang menjadi sebuah bentuk baru pertunjukan teater. Pada April 1968Rendra kemudian memulai pentas mini kata pertamanya di gedung auditorium GedungKesenian, Jakarta. 

Seketika pentas tersebut menjadi perbincangan hangat olehpara pelaku seni yang menyaksikan pentas tersebut. Di kutip dari JakobSoemardjo dalam bukunya, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia(Penerbit STSI Press, 2004), menulis; "Bip Bop pada dasarnya adalah manifestasipemberontakan Rendra terhadap tradisi dan kebiasaan".

Perlahanpertunjukan tersebut menyebar dan mempengaruhi para seniman untuk melakukan halyang sama, meskipun Rendra juga tidak bisa disebut sebagai pencetus dalamhadirnya Teater Mini Kata, karena tidak konsistennya Rendra dalam penggarapanTeater Mini Kata, namun sedikit banyaknya pertunjukan Mini Kata Rendra jugamemberikan pengaruh terhadap perkembangan Mini Kata di Indonesia.

Hingga pada tahun1990 eksistensi mini kata mewujud di Kota Padang, yang pada saat itu sedang didominasi oleh BUMI TEATER dengan pertunjukan yang berbasis pada naskah-naskahyang bertumpu pada kekuatan kata. Pertunjukan Teater Mini Kata pada dekade90-an tersebut dilakukan oleh Yusril dan Zurmailis, dan menjadikan hal inisebagai sesuatu yang mengejutkan, sekaligus biasa saja. Menjadi mengejutkankarena pada saat itu, Yusril sendiri merupakan bagian dari BUMI TEATER yangmasuk dalam deretan sutradara potensial BUMI TEATER pada masa itu, tidakmengejutkan mengingat dominasi teater Sumatera Barat khususnya padang memangdiisi oleh orang-orang dari bumi teater, maka hal itu menjadi wajar mengingatdominasi BUMI dalam penyebaran teater Sumatera Barat.

Pada saat ituYusril hadir dengan pertunjukan "Menunggu" yang mengusung tema tentang kondisikehidupan pers yang carut marut dalam kehidupan sosial-politik sebuah negaraatau bangsa modern sementara Zurmailis hadir dengan pertunjukan "Lini" yangmengarah pada tema kebudayaan Minangkabau dalam kondisi kontemporer.

Dalam sebuahpenelitian yang di lakukan oleh Pandu Birowo dalam Tesisnya yang berjudul"TEATER 'TANPA-KATA' DAN 'MINIM-KATA' DI KOTA PADANG DEKADE 90-AN DALAMTINJAUAN SOSIOLOGI SENI" dalam kesimpulannya mengungkapkan bahwa apa yangdilakukan oleh Yusril dan Zurmailis merupakan sebuah bagian dari strategi dalam'pemosisian internal' dan menggugat dramaturgi pertunjukan-pertunjukan WisranHadi yang dominan di kota Padang, lalu 'pemosisian eksternal' yang berhubungandengan sikap politik atas realitas 'Krisis Bahasa' pada masa itu.

Selain itu dalamsebuah diskusi yang diadakan di Teater Arena ISI Padang Panjang, dalam rangkamengenang A. Alin De di 40 tahun Sanggar Dayung-Dayung, Yusril menyebutkanbahwa Wisran juga memiliki naskah dengan bentuk pertunjukan Mini Kata, naskahtersebut berjudul 'Of The Record' yang pertama kali ditampilkan Ulang Tahunke-20 BUMI TEATER (1996).

Secara keseluruhannaskah tersebut mengangkat persoalan kemanusiaan yang dihadirkan lewat berbagaimacam cerita yang masing-masing berdiri sendiri dan terasa tidak ada kaitan danhubungannya satu sama lain.

Dalam sebuahwawancara selanjutnya Yusril mengatakan naskah tersebut memang diberikankepadanya untuk digarap, karena pada saat itu, Yusril sedang dalam pencarianterhadap selera estetikanya. Meskipun menurut pengakuan Yusril naskah Of TheRecord tersebut diberikan langsung oleh Wisran untuk dirinya, namun Yusrilenggan menggarap naskah tersebut karena antara mereka berdua memiliki pemahamanyang berbeda mengenai Mini Kata itu sendiri. "saya tidak mementaskan naskahtersebut, meskipun naskah itu diberikan pak Wis (sapaan akrab) kepada saya,karena pemahaman "Teater Tubuh" menurut saya dengan pak Wis itu berbeda, baiksecara konsep maupun konteksnya" ungkapnya dalam sebuah wawancara bersamapenulis.

Pada 28 Juni 2011Wisran Hadi berpulang untuk selama-lamanya pada usia 66 tahun, akibat terkenaserangan jantung, Wisran pergi dengan meninggalkan segudang prestasi dankenangan bagi orang-orang terdekatnya.

Kenangan ini lahyang kemudian membawa Yusril untuk mementaskan naskah "Of The Record" yangdiciptakan Wisran Hadi, di pentaskan oleh Komunitas Seni Hitam Putih padaperhelatan 'A Tribute to Wisran Hadi' (2011), dengan melakukan tafsir bebasterhadap naskah tersebut, dengan Kurniasih Zaitun sebagai Sutradara, danmenghadirkan pertunjukan tersebut dengan menggunakan simbolisasi di ataspanggung dan dominasi gerak yang mengisyaratkan tubuh yang sedang berdialog.Meskipun Yusril tidak langsung menyutradarai pertunjukan tersebut, namunbaginya karya tersebut adalah suatu usaha penghargaan dari dirinya terhadapsosok Wisran Hadi.

Layaknya WisranHadi yang mencoba menghidupkan ekosistem teater di Sumatera Barat, Yusril pundemikian, alih-alih meniru gurunya sebagai sutradara dan penulis naskah yangberkutat pada kekuatan kata, Yusril justru keluar dari zona tersebut denganmerumuskan sebuah bentuk pertunjukan yang pada saat itu bisa dikatakan barumuncul di Sumatera Barat, walaupun sebenarnya sebagai sutradara yang potensialpada masa itu, Yusril bisa meneruskan posisi Wisran sebagai pimpinan BUMI TEATER.

Sejalan dengan itukarya-karya Yusril sudah sering dipentaskan di berbagai kota di Indonesia danmancanegara. Terbukti kerja-kerja yang dilakukan Yusril membawanya menjadisalah satu sutradara yang diperhitungkan baik di tingkat lokal, nasional,bahkan internasional.

Walaupun Yusril danWisran memiliki pandangan yang berbeda dalam selera estetikanya dan kemudianbersama Zurmailis melakukan 'Gugatan' terhadap pertunjukan Wisran, namun Yusriltetap mengutarakan bahwa Wisran merupakan salah satu guru yang palingberpengaruh, sehingga dapat membentuknya seperti sekarang. Beban berat yangharus dipikul oleh Yusril, Zurmailis, dan para penerus BUMI TEATER selanjutnya,agar tetap menjaga ekosistem kesenian yang telah susah payah, dibangun olehWisran Hadi.

Meski sejaksepeninggal Wisran Bumi Teater tidak pernah lagi melakukan pertunjukan, namunjejak Wisran yang sangat melekat dalam perkembangan teater Sumatera Barat dandalam hati sanubari orang-orang Bumi, beliau akan tetap teringat dan akan tetaphidup, hal ini terbukti lewat kehadiran kelompok-kelompok teater di SumateraBarat saat ini yang diisi oleh para alumni BUMI TEATER.

Demikian pulapembicaraan teater di Sumatera Barat tidak bisa dipisahkan dan tidak pernahlepas dari Wisran Hadi sebagai 'FoundingFather' teater Sumatera Barat,memisahkan Wisran dari pembicaraan teater Sumatera Barat sama saja memisahkanteater Sumatera Barat dari sejarah.

Begitulah bumidengan segala sejarahnya yang tak pernah hilang dari ingatan para penerusnya,sejarah itu kelak kemudian juga akan diceritakan sebagai sebuah bahan renunganatau pembelajaran bagi para penerus BUMI TEATER. Kini teater Sumatera Baratkembali menunggu sejarah selanjutnya atau warisan yang akan ditinggalkan untukgenerasi selanjutnya, dari para murid Wisran.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x