Mohon tunggu...
Gayoku
Gayoku Mohon Tunggu... Sapa-sapa Maya

email : anakgayo91@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Budi Waseso Tidak Buas di Negeri Surga Ganja

28 Februari 2018   04:06 Diperbarui: 28 Februari 2018   15:28 0 5 1 Mohon Tunggu...
Budi Waseso Tidak Buas di Negeri Surga Ganja
Sambutan Komjen Pol Budi Waseso/Foto : Sahrial

Yang jadi topik bibir paling mutakhir di Gayo Lues akhir-akhir ini tentu kehadiran Komjen Pol Budi Waseso di Kampung Inggris, nama ngetren dari Kampung Agusen--nama wisata.

Kampung yang dulunya, atau mungkin hingga kini masih menjadi kerlingan mata para penadah Ganja. Jelas tidak ada "sesuatu" yang lebih diperhatikan selain jejak yang sangat diharapkan itu.

Bagaimana tidak, kehadiran pertama dan mungkin yang terakhir kalinya sebagai Kepala BNN Indonesia saja, namanya telah dinobatkan sebagai nama jalan, yang mungkin karena tergolong baru dibuka hingga belum ada nama. Jalan penghubung dari Kota Blangkejeren - Kampung Penggalangan dan jeblos langsung ke Kampung Agusen itu kini bernama "Jalan Budi Waseso". Selain itu Bapak Budi Waseso pula diangkat sebagai putra daerah dengan gelar Panglime Musidik Sasat.

Hal itu sebuah apresiasi dari kami Urang Gayo atas program Grand Design Alternative Development (GDAD). Dan menjadi bukti, bahwa kami benci Ganja, atau kemelaratan.

Program Alternative Development (AD) yang bervisikan: terwujudnya Masyarakat Indonesia yang Sehat dan Terbebas dari Produksi Ganja. Yang diimplementasikan dengan salah dua dari lima misi: pertama, mengalihprofesikan Penanam Ganja jadi petani komoditi unggulan (Kopi), dan kedua, mengembangkan ekonomi dan peningkatan pendapatan. Itu sungguh sangat dinanti. Karena itu alasan terbesar menjadi petani Ganja, untuk mengganjal perut.

Saat Melakukan Penanaman Perdana Tanaman Pengganti Ganja/Foto: Sahrial
Saat Melakukan Penanaman Perdana Tanaman Pengganti Ganja/Foto: Sahrial
Sebab itu, tentu pasti kami bertepuk tangan. Walaupun saat di hari Pak Buwas melakukan penanaman Kopi perdana (26/02/2018), sebagai tanaman pengganti Ganja, di situ pula salah satu dari kami mencari celah dengan mengirim Ganja itu sendiri dengan menyewa jasa kiriman kilat, JNE.

Saya juga bingung, apa saudara yang berinisial MJ (24) itu sudah menerima DP dari penadah hingga tidak bisa menunda sampai besoknya atau tidak peduli dengan kehadiran pak Buwas, meskipun sudah dianugrahi gelar Panglima?

Sebenarnya itu pula menjadi bukti lain, bahwa iringan megah Pak Buwas (hingga semua mata mendelik) tidak cukup apalagi memuaskan sebagai upaya pengentasan pertanian Ganja, yang konon telah melegenda, sudah tradisi sejak dari moyang kami: tidak semudah berseru dan berkata-kata atas nama yang dikeramatkan. Pesan "istimewa" dari anak negeri surga ganja untuk pak Buwas saya rasa cukup menggambarkannya, bahwa kehadiran beliau saja belum cukup "buas" memusnahkan Ganja.

Maka, oleh sebab yang berinisial MJ masih 24 tahun, masih muda, yang artinya jika melanjutkan pendidikan tinggi, ya masih atau akan fresh graduate lah. Hingga bisa disimpulkan, pengelolaan di usia pendidikan juga tak kalah penting.

Melihat dari kualitas pendidikan di Negeri Seribu Bukit ini, tak ayal lagi pak Menteri Pendidikan perlu Kunjungan Kerja ke sini, sebelum kena resuffle tentunya. Eh.

Ditambah, jika seandainya Petani adalah "hulu" dan Penadah Ganja sebagai "hilir", tentu menyumpel penampung yang bernama hilir sepertinya lebih mujarab (tanpa mengatakan yang sebaliknya tidak baik, hehe).

Seperti kita ketahui, seorang Petani sudi bertani Ganja karna kelemahan syahwat ekonomi yang dialami. Dan yang namanya Penadah adalah Mafia/sindikat begelimang harta, kalau tidak mana mungkin ada kabar aparat bisa dibayar. Yang namanya kaya, bisa saja berapapun akan dibayar asal kebutuhan dipenuhi, dinaikkan harga. Dan syahwat kembali pada mantan (petani ganja) pun tak terbendung. Apalagi kalau Program AD tadi jarang atau tidak disolek lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2