Gayoku
Gayoku Petani

email : anakgayo91@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Dilema Petani Ganja Gayo Lues Sebelum Pensiun

11 Oktober 2017   17:32 Diperbarui: 12 Oktober 2017   21:37 3627 7 4
Dilema Petani Ganja Gayo Lues Sebelum Pensiun
Kampung Agusen, salah satu kampung yang dulu banyak petani Ganja (Dokumentasi Pribadi)

Tentu suatu perbuatan yang tidak dilegalkan punya alasan yang jelas, mulai dari yang merugikan pribadi, kelompok, negara dan bahkan bisa jadi dunia. Dan jelas orang yang melakukan perbuatan ilegal juga punya alasan, baik itu tidak tau, ragu-ragu, mendekati tau dan bahkan bisa jadi sepenuh sadar.

Untuk orang yang melakukan perbuatan ilegal yang tidak tau, selain karena memang benar-benar tidak tau bisa juga dicurigai kewarasannya. Pada bagian pelaku yang ragu-ragu, mendekati tahu dan sadar betul pasti ada alasan yang mendasarinya. Salah satu biang alasan yang paling lumrah adalah menyangkut salah satu ciri makhluk hidup: makan.

Kalau sudah menyangkut urusan perut, seperti kita ketahui, biasanya mudah saja mata hati yang sejatinya harus terang malah padam, gelap. Karena, "perutnya" tidak kenyang-kenyang, jadilah Bapak ANU sebagai Koruptor.

Begitu pula dengan kisah, yang menurut saya pilu, dari kebanyakan urang Gayo Lues, Aceh yang melabrak perbuatan yang belum ada legalisasinya dari pemerintah: membudidayakan/memproduksi ganja.

Saya yang baru betul-betul "sadar" mulai tahun 2008/2009, kalau saya terlahir di lingkaran Petani Ganja---yang saya tau saat itu semua sudah pensiun. Sadar yang saya maksud bahwa pada kebenarannya orang-orang yang hilang dari kampung hingga sepuluh hari lamanya, adalah orang-orang yang melakukan perbuatan ilegal "sepenuh sadar" dengan alasan mencari makan. Ya, mencari makan. Tapi pertanyaannya, apakah harus menempuh jalur "kiri" untuk memenuhi kebutuhan perut tersebut? Seperti yang sebut di atas, tentu ada alasannya untuk itu.

Kita semua tahu, kecuali yang hingga saat ini masih berusia anak SD, bahwa sebelum tahun 2005 bumi yang berjulukan Serambi Mekah ini dilanda konflik yang berkepanjangan. Konflik yang telah menumpahkan darah itu, ada juga yang melayang nyawanya tidak tau apa-apa, juga dengan dalih yang tak kalah kompleks yaitu urusan makan, tepatnya masalah kesejahteraan.

Mungkin seperti halnya yang ditakutkan pemerintah saat ini, walau hanya sekedar kerusuhan saja bisa menghalangi investor masuk, apalagi konflik bersenjata. Konflik yang mengenaskan itu otomatis menyulitkan akses masuk ke tempat kelahiran saya. Hingga kebutuhan yang kurang tidak bisa didapat, dan sebaliknya penghasilan yang berlimpah tidak bisa dikirim keluar daerah. Hal itu tentu menyengsarakan. Lebih-lebih ada semacam "pemalakan" dari pihak berseteru pada masyarakat yang sudah semakin tersempitkan.

Lantas, apa mereka bangga berprofesi sebagai Petani Ganja? Saya kira kebanyakan tidak.

Prosesnya yang tidak mudah
Kalau ada pemahaman kita saat ini (khusus orang luar), bahwasanya tumbuhan terlarang itu hidup di pekarangan, jelas saya katakan itu fitnah.

Saya sering mendapat pertanyaan dan penghakiman yang menjengkelkan itu. Mulai dari orang sekelas tukang nasi goreng keliling langganan, teman seperjuangan yang menganggap sudah sebagai "lelucon" dan bahkan orang-orang yang terhormat, dosen.

Di awal-awal perantauan saya ke Bandung (2009), tentu hal yang paling saya butuhkan adalah makan dan itu berkelanjutan. Menyangkut itu, sebab beberapa hal saya memilih berlangganan dengan penyedia kenyang, warteg dan tukang nasi goreng keliling dalam catatan.

Pertama kali bertemu dengan tukang nasi goreng langganan saya itu sudah hampir tengah malam. Mungkin melihat saya yang asing, dan demi membunuh hawa dingin Kota Bandung yang mencekam, Bapak itu membuka basa-basi. Memulai dengan menanya, apa yang saya rasa (cuaca). Berhenti sejenak. Lalu memastikan kalau saya orang rantau. Setelah mendapat kepastian, tentu ia menyelam lebih lanjut, asal. Saya bilang dari Gayo Lues. Karena baru pertama mendengar, bingung, ia bertanya kepastiannya.

"Gayo Lues itu salah satu kabupaten di Aceh, Pak," terang saya.
"O, Aceh... Banyak ganja ya Mas?"
"Begitulah Pak."
"Di situ ditanam di pekarangan rumah ya mas?" tanya bapak itu, sambil terus menongseng santapan malam saya.
Saya kaget, emang, bunga? Protes saya dalam hati. "Gak gitu juga pak. Dilarang kok."
"Kabarnya begitu," susulnya.

Karena saya tau tidak semudah itu, setelah menghela napas tentu saja saya protes. Enak saja, saya tidak terima Om. Saya pun menjelaskan panjang lebar, sepanjang pengetahuan saya waktu itu, yang tentu saja seputaran Gayo Lues (bukan bagian lain Aceh).

Petani Ganja melakukan proses yang tidak mudah. Karena mereka menanam jauh ke dalam hutan (jadi bukan lahan bersertifikat). Bahkan bisa sampai sehari perjalanan (tidak ada angkot). Sudah begitu, kalau tidak menggarap bekas lahan, mereka menebang hutan sebagai lahan baru. Dan itu biasa dilakukan, demi menjaga agar ganja yang ditanami tetap subur dan memudahkan perawatan. Karena itu saya memungkinkan, bahwa klaim luas lahan ganja di Gayo Lues (umumnya Aceh) mencapai hingga ratusan Ha, dalam hal ini hanya sebatas lahan yang belum tentu semua produktif.

Menurut keterangan dari petani yang sudah tobat, juga sudah pernah menjalani hukuman penjara, biasanya sekali berangkat bisa sampai sepuluh hari. Bayangkan sepuluh hari dalam hutan, itu tidak mudah kawan. Selain karena dingin dan basahnya Hutan Leuser, juga barangkali akan berhadapan dengan binatang buas yang sedang lapar. Konon, berpapasan dengan harimau tidak jarang terjadi.

Sudah begitu, setelah ditanam dan selama menunggu masa panen yang rata-rata tiga bulanan, sesekali mereka berangkat kembali dengan waktu lebih berkurang, guna perawatan. Kalau lahan bekas berpeluang lebih sering, karena rumput lebih doyan tumbuh.

Masa-masa panen adalah masa sulit sesungguhnya. Pertama, karena ganja yang diangkut harus kering, dan tentu kalau panennya musim hujan akan lebih merepotkan. Kedua, barang yang sudah kering (entah sudah packaging atau belum), harus diangkut. Pengangkutan itu jelas menggunakan tenaga manusia, bukan kuda, pula bukan kendaraan mesin dan lebih-lebih helikopter yang sudah nyata-nyata mereka tak mampu beli (untuk di Gayo Lues, saya tidak yakin ada ladang ganja yang bisa ditembus kendaraan, apalagi pakai truk).

Kita tentu bisa memahami proses itu, yang mana untuk berangkat saja harus menghabiskan waktu sehari, apalagi dengan barang bawaan, memundak. Menurut keterangan, standar per orang hanya 30-35 Kg sekali jalan. Jika satu Ha ladang yang bisa menghasilkan satu ton saja, maka tenaga yang dibutuhkan antara 28-33 orang. Jadi kalau memang cara mereka begitu, rame betul ya.

Kadang memang begitu, jika ada yang panen melimpah biasanya disewa pelangsir. Dulu ongkos langsirnya 10rb/Kg. Mudah saja menghitung pendapatan kuli 'maut' itu, antara 300-350rb rupiah saja. Kalau memang tidak butuh, Anda mau apa?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3