Gatot Swandito
Gatot Swandito lainnya

Yang kutahu aku tidak tahu apa-apa Email: gatotswandito@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

"Serobot" Deddy Mizwar, SBY Paksa Prabowo Jadi "Follower"

15 November 2017   09:17 Diperbarui: 15 November 2017   10:24 14215 17 13
"Serobot" Deddy Mizwar, SBY Paksa Prabowo Jadi "Follower"
Salam komando SBY dengan Prabowo (Sumber: Kompas.com

Di tengah ketidakpastian pencalonan Deddy Mizwar dalam Pilgub Jabar 2018, Partai Demokrat melakukan manuver tajam dengan menyerobot Wakil Gubernur Jawa Barat itu dari tangan Gerindra.

Deddy yang sudah sekian lama menunggu kepastian dari Gerindra pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang datang padanya. Tanpa berpikir panjang lagi, Deddy yang telah sekian lama tercatat sebagai kader Gerindra ini pun kemudian berencana mendaftarkan dirinya sebagai kader Demokrat.

Bagaimana pun juga, Deddy memiliki peluang besar untuk memenangi Pilgub Jabar 2019. Selain tingkat elektabilitasnya yang kokoh bertengger di posisi kedua di bawah Ridwan Kamil, sebagai pesohor yang kerap wara-wiri di layar kaca dan layar perak, Deddy memiliki tingkat popularitas tertinggi di banding kandidat lainnya.

Karenanya, manuver Demokrat dalam Pilgub Jabar 2018 mau-tidak mau telah memaksa Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menghitung ulang strateginya, bukan hanya untuk Pilkada Serentak 2018, tetapi juga untuk Pemilu 2019.

Demi memenangkan Emil, Dedi terpaksa disingkirkan
Sebagaimana yang telah diduga sebelumnya, Pilgub Jabar 2018 tidak lepas dari polarisasi yang menghadap-hadapkan kutub pendukung Jokowi dengan kutub pendukung Prabowo.

Sejak jauh hari, kutub pendukung Jokowi telah mengarahkan dukungannya pada Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil alias Emil. Sementara, kutub pendukung Prabowo solid mendukung Deddy Mizwar.

Sesuai aturannya, Pilgub Jabar 2018 tidak mengenal sistem putaran kedua. Artinya, peraih suara terbanyak secara otomatis akan ditetapkan sebagai pemenangnya. Di sinilah duduk persoalannya.

Menariknya, jika memperhatikan sejumlah rilis survei terkait Pilgub Jabar 2018, tingkat elektabilitas kutub Jokowi hanya terbagi menjadi dua: ke Emil dan ke Dedi. Sementara, tingkat elektabilitass kutub Prabowo terbagi ke Deddy, Dede Yusuf, Ahmad Syaiku, Netty Heryawan, Aa Gym, Desi Ratnasari, dan Bima Arya.

Tetapi, jika elektabiitas masing-masing cagub digabung berdasarkan kutubnya, elektabilitas kutub pendukung Prabowo hanya kalah tipis dari elektabilitas kutub pendukung Jokowi.

Artinya, persaingan dalam Pilgub Jabar 2018 sangat ketat. Salah mengambil langkah dapat mengakibatkan kekalahan.

Dengan demikian, jika suara pendukung kutub Jokowi masih terpecah sementara suara kutub pendukung Prabowo tetap solid, maka peluang kutub Jokowi untuk memenangi Pilgub Jabar 2018 lebih kecil ketimbang pesaingnya.

Karena itulah demi melapangkan peluang kemenangan kutub Jokowi, maka Dedi yang memiliki elektabilitas lebih kecil dari Emil terpaksa harus disingkirkan. Tanpa Dedi, kini suara kutub pendukung Jokowi mengarah ke satu calon: Ridwan Kamil.

Rebut Deddy Mizwar, SBY coba gerus pamor Prabowo
Di Jawa Barat, perolehan suara Jokowi dalam Pilpres 2014 kalah dibanding raihan suara Prabowo. Selain itu, rembetan ketegangan situasi selama masa Pilgub DKI Jakarta pastinya mempengaruhi emosi sebagian warga Jawa Barat.

Euforia kemenangan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang dijagokan kutub pendukung Prabowo atas pasangan Ahok-Djarot yang didukung penuh oleh kutub pendukung Jokowi juga menjalari pendukung Prabowo di Jabar.

Kemenangan pasangan Anies-Sandi dalam Pilgub DKI Jakarta 2017 dan kemenangan pasangan Prabowo-Hatta dalam Pilpres 2014 di Jabar membuat posisi Prabowo berada di atas angin.

Dan, Prabowo akan lebih mengangkasa lagi jika memenangi Pilgub Jabar 2018 yang digelar bebarengan dengan dimulainya tahun politik ini. Lewat Pilgub Jabar 2018 ini, elektabilitas Prabowo pun akan kembali menguat.

Menguatnya elektabilitas Prabowo merupakan ancaman bagi kutub pendukung Jokowi, termasuk kubu purnawirawan jenderal pro-Wiranto. terlebih, elektabilitas Jokowi pun masih berada di tingkat rawan.

Strategi meredam peluang kemenangan Prabowo dalam Pilpres 2019 pun digelar. Deddy Mizwar yang selama ini identik dengan Gerindra dan Prabowo pun kemudian diserobot.

Lagi-lagi SBY menunjukkan kecerdasan politiknya. Dengan diserobotnya Deddy, SBY mendapatkan tiga keuntungan. Pertama, elektabilitas Deddy yang tinggi, terlebih jika menghitung elektabiitas kutub Prabowo, akan memberikan kemenangan kepada SBY dan Demokrat.

Kedua, dengan menggaet Deddy dan kemudian menggalang koalisi bersama PKS dan PAN, SBY mencoba merangkul kembali kelompok Islam pasca keputusan Demokrat yang menerima Perppu Ormas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3