Gapey Sandy
Gapey Sandy Kompasianer, Writer, Blogger, Vlogger, Reporter, Buzzer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Hijau Artikel Utama

Rusa Bawean Jangan Sampai Punah

6 November 2017   22:05 Diperbarui: 7 November 2017   16:10 5607 7 6
Rusa Bawean Jangan Sampai Punah
Rusa-rusa Bawean di penangkaran. (Foto: gresikkab.go.id)

Ting-ting ... ting-ting ...

WhatsApp saya berbunyi.

Ada kiriman beberapa foto. Dari narasumber saya nun jauh di sana, di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Dialah Nurhayyan Jahansyah selaku mitra Polisi Kehutanan (Polhut) Resort Konservasi Wilayah 11 Pulau Bawean.

Begitu saya lihat foto-foto kirimannya, ternyata itu adalah ketika acara pelepasliaran 6 ekor Rusa Bawean, pada Minggu (5 November 2017). "Dilepaskan kembali ke habitatnya di hutan, setelah menjalani masa penangkaran di kandang habituasi," jelas Pak Nur, begitu ia akrab disapa.

"Berapa yang jantan dan betina?" tanya saya.

Sosok yang bertugas menjaga lokasi penangkaran rusa di Desa Pudakit Timur, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean ini pun menjawab, "Ada 2 rusa jantan, dan 4 betina, Pak."

Nurhayyan Jahansyah, Mitra Polhut Resort Konservasi Wilayah II Pulau Bawean. (Foto: Gapey Sandy)
Nurhayyan Jahansyah, Mitra Polhut Resort Konservasi Wilayah II Pulau Bawean. (Foto: Gapey Sandy)
Acara pelepasliaran Rusa Bawean, Minggu (5/11/2017). (Foto: Nurhayyan Jahansyah)
Acara pelepasliaran Rusa Bawean, Minggu (5/11/2017). (Foto: Nurhayyan Jahansyah)
Sesuai namanya, penangkaran adalah suatu upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya.

Enam ekor Rusa Bawean yang dilepasliarkan ini memang sudah cukup lama menghuni kandang penangkaran. Malah sudah ada yang beranak pinak. Nah, 10 hari sebelum mereka dilepas ke alam bebas, 6 ekor rusa ini menjalani dulu masa habituasi selama 10 hari. Habituasi adalah proses penyesuaian diri untuk melatih supaya rusa-rusa terbiasa dengan habitat aslinya yaitu di hutan lepas. Bebas!

***

Mengapa harus dilakukan penangkaran?

Jumlah Rusa Bawean (Axis Kuhlii), menurut data dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, pada tahun 2016 hanya tinggal tersisa 303 ekor. Mereka hidup bebas di berbagai lokasi hutan menghijau dan semak-semak yang lebat di Pulau Bawean.

Kondisi alam pulau seluas 196.3 km2 ini memang berbukit dan bergunung-gunung. Tak heran ada yang menyebut, di Pulau Bawean ada 99 gunung. Entah sumbernya berasal dari mana, tapi memang, ketika saya berada di Bawean, gunung-gunung seperti berbaris dan berlapis.

Bawean yang terbagi menjadi 2 kecamatan (Sangkapura dan Tambak) memang terbilang luas. Bandingkan saja dengan luas Kota Tangerang Selatan yang "hanya" 147.19 km2. Atau, Jakarta Barat yang luasnya "cuma" 129.5 km2.

Nah, di alam pegunungan nan lebat menghijau dengan lereng bukit terjal dan curam itulah rusa Bawean tinggal. Mengapa? Jelas, mereka menghindari kontak pertemuan dengan manusia. Selain itu, rusa Bawean termasuk hewan nocturnal atau aktif mencari makan ketika malam hari.


Rusa Bawean di penangkaran rusa Kec Sangkapura. (Foto: Favian/WriteVenture)
Rusa Bawean di penangkaran rusa Kec Sangkapura. (Foto: Favian/WriteVenture)
Rusa-rusa ini memang sensitif.

Ketika awal Oktober kemarin saya ke tempat penangkaran, Pak Nur memberi arahan kepada semua yang berada di lokasi untuk tidak terlalu berbuat kegaduhan. Termasuk dilarang berisik. "Rusa-rusanya bisa stress. Apalagi mereka yang di kandang rehabilitasi itu, kalau stress bisa mengamuk dan mencelakakan rusa-rusa itu sendiri. Bisa jadi tanduknya patah," ujarnya sambil setengah berbisik.

Di kandang rehabilitasi itu, ada 4 ekor rusa. Perawakan tubuhnya tidak seragam. Ada yang besar dengan tanduk panjang lagi bercabang. Juga ada yang ukurannya sedang. Satu hal yang sama adalah warnanya, berbulu coklat semua.

Tinggi Rusa Bawean jantan berkisar antara 60-70 cm. Panjang ekornya 20 cm. Panjang dari kepala dan tubuh 140 cm. Bobot rusa dewasa 50-60 kg. Pejantannya memiliki tanduk bercabang tiga yang dapat tumbuh sepanjang 25-47 cm. Tanduk ini dipergunakan pejantan untuk memenangkan perebutan rusa betina kala musim kawin tiba. Dengan tubuhnya yang "mungil", Rusa Bawean terkenal sebagai pelari yang ulung.

Tugu peringatan untuk mencintai Rusa Bawean di lokasi penangkaran. (Foto: Nurhayyan Johansyah)
Tugu peringatan untuk mencintai Rusa Bawean di lokasi penangkaran. (Foto: Nurhayyan Johansyah)
Berfoto bersama usai acara pelepasliaran Rusa Bawean, pada Minggu (5/11/2017). (Foto: Nurhayyan Jahansyah)
Berfoto bersama usai acara pelepasliaran Rusa Bawean, pada Minggu (5/11/2017). (Foto: Nurhayyan Jahansyah)
"Rusa Bawean itu  ukuran tubuhnya agak kecil bila dibandingkan dengan rusa Timor, misalnya. Bulu rusa Bawean agak kecoklatan. Adapun tanduknya mengikuti ukuran tubuh. Sedangkan ukuran badan rusa Timor agak lebih besar dengan bulu yang kekuningan," urai Pak Nur yang belum genap satu tahun bekerja di penangkaran rusa ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3