Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Housewife@Germany, student @Fritzerlerschule, teacher@Denkmit, a Tripadvisor level 6, awardee 4 awards from Ambassadress of Hungary, H.E.Wening Esthyprobo Fatandari, M.A 2017, General Consul KJRI Frankfurt, Mr. Acep Somantri 2020; Kompasianer of the year 2020.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Kangen "Avocado Float"

24 Januari 2021   02:59 Diperbarui: 24 Januari 2021   03:54 178 7 5 Mohon Tunggu...

Malam, Dy.

Tadi barusan aku belanja sama suami. Biasa, belanja mingguan. Seminggu sekali belanjanya, demi kebutuhan sehari-hari. Kalau tiap 2-3 hari, sayang BBM dan nggak ada waktu. Biasanya, kami pergi jam 9 malam terus pulang jam 10. Tapi karena lock down, ada jam malam. Makanya hanya sampai jam 8, jadinya cepet-cepet tadi belanjanya.

Eh, iya, Dy, waktu suami mendorong keranjang menuju mobil, ada pria yang berteriak "Entschuldigung, Sie haben etwas vergessen." Rupanya, si lelaki bertopi yang sedang menukarkan botol kosong di mesin, melihat suami tidak tahu kalau salah satu anggur dalam plastik jatuh di lantai. Dengan sopan, ia mengingatkanku. 

Aku yang sedang mencuci tangan dengan antiseptik gratis di dispenser di sebelahnya, segera mengucapkan terima kasih, "Oooh, vielen Dank." Tanganku segera memungut belanjaan yang mirip cerita sandal Cinderella, tergolek di lantai, sendirian. Wah, hebat, masih banyak orang baik dan perhatian di Jerman, ya, Dy. Jadi orang sini nggak hanya kaku, sedingin salju di sini, lho.  

Dy, kamu tahu kan? Apa yang kami butuhkan selalu ditulis di papan tulis di dapur, Dy. Lalu difoto supaya nanti waktu belanja ingat, apa saja yang harus dibeli. Kalau ditulis di kertas, namanya tidak ramah lingkungan karena jadi sampah. 

Dengan kamera, bisa dihapus. Kalau tidak ditulis, biasanya aneh-aneh saja yang dibeli. Apalagi waktu belanja dalam keadaan lapar atau haus, parah! Nggak bagus untuk dana rumah tangga. Kami suka travel jadinya uangnya ditabung saja daripada dibuang percuma begitu.

Nah, Dy. Tahu enggak? Tadi di swalayan, kami nyari-nyari alpukat. Yaaaah ... nggak ada. Ada juga alpokat unyil, huuuh, kecil banget, sebesar kepalan tanganku ini. Satu buah saja harganya dibandrol 1,99 euro atau Rp 34K. 

Walah, mahal sekali! Kemarin dulu pernah dapat alpukat yang besaaar banget dan murah, hanya 2,99 euro atau sekitar Rp 50 K. Ukurannya lebih besar dari mangga Arum manis, dagingnya tebal, rasanya lezat. Iya, seperti nemu emas, girang! Biasanya segera aku bikin avocado float setiba di rumah. Maksudku, setelah diblender, diberi coklat "Nutela" lalu dikasih susu dan sedikit es krim coklat. 

Wah, rasanya nendaaaang. Kamu mau, Dy? Orang Jerman suka bengong aku tawarin minuman ini. Kata mereka, "Bukankah alpukat untuk salat? Dicampur nutela rasanya manis, gimana tuh, enakan segar seperti salat." Hah, salaaat, Dy? Rasanya hambar. Malah kadang, ada orang Jerman yang membuatnya jadi asin begitu di dalam mangkuk salat. Yaki ... Tapi aku ingat, di dunia ini memang masing-masing negara punya lidah sendiri-sendiri.

Kamu heran mengapa kami suka Avocado float? Ceritanya ini minuman kenangan kami waktu pacaran. Iya, Dy, kami suka nongkrong di cafe habis kerja. Jadi mantan pacarku itu suka jemput di kantor. 

Terus kami minum Avocado float, habis itu dianterin balik ke kantor buat ambil motor. Lalu pulang ke rumah masing-masing. Barangkali karena lagi jatuh cinta, jadinya jusnya jadi lezaaaaat banget. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN