Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Banyak Cara Menuju Jerman", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Gara-gara Panas Matahari, Beberapa Warga Jerman Dipulangkan

20 Juli 2016   23:37 Diperbarui: 21 Juli 2016   14:30 22 25 15 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gara-gara Panas Matahari, Beberapa Warga Jerman Dipulangkan
Sumber gambar: Shutterstock

Rabu, 20 Juli 2016. Senang.  Tiga anak sudah ke sekolah. Bapaknya habis dari luar kota masih KO di tempat tidur. Saya? Berkebun. Menjumputi Umkraut, tanaman liar yang sebenarnya cantik dengan bunga kuning, ungu dan merah mudanya tapi harus dicabuti sebab tumbuh di tempat yang tidak semestinya. Di jalan setapak di kebun, di paving depan rumah dan garasi. Begitu lonceng gereja berbunyi sebelas kali, saya berhenti. Dua jam sudah. Saya masuk rumah, adem.

Pintu dan jendela rumah kami semua dibuka karena di Jerman nggak ada AC seperti rumah tangga-rumah tangga di Indonesia. Jangankan rumah tangga, kantor saja saya belum pernah lihat ada yang pasang AC. Beda dengan di tanah air, ya?

Tetangga dan anak pulang awal karena panas matahari

Nah, dari pintu yang terbuka, saya dengar percakapan seorang tetangga depan rumah dengan tetangga sebelahnya. Intinya, si ibu dapat jatah Hitzefrei (bebas tugas karena panas matahari). Dia pulang jam 12 bukan jam 16 seperti hari-hari lainnya. Mengapa? Karena hari ini panas sekali. Suhu pagi hari saja sudah 27 derajat. Siang itu sudah mencapai 33,5 derajat C! Seperti di Indonesia, bedanya ... tidak lembab.

Wah, asyik ya? Kantor tempat ibu bekerja ditutup lebih awal. Ada yang ke Freibad (berenang di tempat terbuka), ke danau Bodensee, santai di rumah, berjemur dan entah apalagi yang bisa dilakukan di bawah terik matahari ... yang jelas, nggak ngadem di bawah pohon seperti yang disukai kebanyakan orang Indonesia yang saya kenal. Andai saja saya di Indonesia, payung saya sudah mekar.

Di Jerman? Saya bisa diketawain orang, dikira gila. “Nggak hujan kok payungan.“ Begitu ledekan orang Jerman pada saya dulu ... makanya, paling banter bawa topi lebar dan melumuri bagian tubuh yang terbuka dengan lotion anti matahari SPF 50. Ingat, 50! Bukan hanya 30, 20 atau 10! Kenceng banget proteksinya. Takut gosong, orang Jerman senang kalau kulitnya lebih gelap dari aslinya. Hanya saja, masih banyak orang Jerman yang pakai krim matahari itu biar nggak kena kanker kulit.

Rupanya tak hanya tetangga dan teman-teman kerjanya yang pulang lebih awal ke rumah. Anak sulung kami dan teman-teman sekolahnya (SMA) juga sudah di rumah. Biasanya ia akan datang 1,5 jam kemudian. Bukan saat itu.

Dipulangkan lebih awal? Seingat saya, suami pernah cerita bahwa dulu waktu sekolah juga begitu. Enak betul!

gila-578fa8b21293730f21dfaee6.jpg
gila-578fa8b21293730f21dfaee6.jpg
Aturan Hitzefrei di Jerman

Hitzefrei atau Hitzeferien adalah masa di mana sekolah diperpendek jam pelajarannya atau jam kerja orang diperpendek dari biasanya, karena temperatur udara yang terlalu tinggi.

Berapa takarannya? Untuk ukuran orang bekerja, ruangan tidak boleh melebihi dari 26 derajat C. Itu diatur dalam UU sejak tahun 2010. Padahal hari ini, di luar 33,5, paling tidak di dalam ruangan 2-3 derajat lebih rendah alias 30. Menurut saya, itu sudah panas untuk orang Jerman. Saya pernah geli waktu suhu 20 derajat, orang-orang sudah pakai pakaian terbuka dan bahkan, kalau matahari nongol sudah berjemur! Saya masih pakai panjang tapi tidak berjaket. Maklum, orang tropis. Meski sudah lama di Jerman, tetap saja butuh di atas 30 derajat untuk bisa merasa hangat betulan dan berani pakai pakaian pendek.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x