Irfani Zukhrufillah
Irfani Zukhrufillah Ibu Rumah Tangga yang nyambi nDosen

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Memaknai Pernikahan

20 April 2018   10:22 Diperbarui: 20 April 2018   10:31 179 1 0

Menikah, menjadi salah satu tujuan dari seorang yang masih sendiri. Tidak sedikit perempuan dan laki-laki yang sudah cukup usia memikirkan hal ini. 

Mulai dari siapakah pasangan yang cocok untuknya hingga bagaimana gambaran kehidupan pasca pernikahan. 

Pun saya juga,

Saat usia sudah mulai melewati 20 tahun, lingkungan mulai mempertanyakan tentang pasangan.

Semakin bertambah 2-5 tahun, lingkungan mulai bertanya tentang menikah. 

Dan lalu saat bertambah hampir/lebih dari 10 tahun, lingkungan bertanya sekaligus khawatir akan kesendiriannya. 

Namun, itukah goal dari seseorang yang terkategori dewasa?

Menikah? Saja?

Bahwa menikah bukanlah menyelesaikan masalah itu iya. Bahwa menikah akan menambah masalah itu iya. Bahwa menikah berarti kewajiban dan tanggung jawab lebih besar juga iya. 

Dan meski menikah itu memiliki segudang manfaat dan kenikmatan tersendiri, tetap saja menikah bukanlah perkara mudah yang hanya bisa dipikirkan sehari-dua hari. 

Membayangkan kenikmatan hubungan suami istri saja rasanya terlalu 'cethek'. Karena konsekuensi dari hubungan intim itupun juga ada. 

Maka, bimbingan untuk pra pernikahan menjadi penting. 

Rasulullah menganjurkan untuk melakukan 'taaruf' dengan seseorang saat berkeinginan untuk menikah. Taaruf disini bertujuan untuk saling mengenal pribadi dan masa lalu. Serta untuk menyamai visi misi kehidupan pasca menikah. 

Menjadi sulit andai dalam taaruf itu tiap personal tidak jujur dalam menyampaikan profilnya. Sehingga mengenal dengan berdiskusi dan berbincang menjadi diperbolehkan. Lagi-lagi, kejujuran menjadi faktor penting bagi berlangsungnya proses ini.

Perbincangan pun haruslah saling terbuka dengan keinginan masing-masing. Bukan melulu soal 'mengambil hati' tapi juga menelaah kembali si kenalan. 

Jika ini dilakukan dengan benar. Sesuai dengan tujuan membangun kehidupan pasca menikah, maka menikah akan menjadi lebih terarah. 

Setidaknya, jangan bilang suka warna merah jika kamu memang membencinya. Hanya supaya si dia mau bersamamu seperti halnya kamu yang telah kepincut dengannya.

Menikah bukan hanya kesenangan semata. Melainkan ibadah yang di dalamnya penuh dengan uji coba. 

Selamat menelaah kembali tujuan menikah.