Mohon tunggu...
Funpol
Funpol Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Tumbuh dan Menggugah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Anak-anak Jadi Korban Gempa, Pentingnya Terapi Trauma Healing

26 November 2022   15:33 Diperbarui: 26 November 2022   15:40 183
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Penanganan gempa Cianjur masih terus diupayakan pemerintah bersama dengan elemen masyarakat lainya. Yang mengenaskan dari kejadian gempa Cianjur adalah hampir separuh korban yang tewas adalah anak-anak.

Hal ini bersadarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tim Identifikasi Jenazah Polri. BNPB mencatat dari 34 persen atau 51 orang dari 165 korban jiwa adalah anak-anak. Sementara Polri mencatat dari 131 jenazah yang ditangani separuhnya adalah anak-anak.

Anak-anak yang tewas dalam gempa bermagnitudo 5,6 dan berepisentrum di Kecamatan Cugenang, Cianjur, Senin (21/11/2022) siang lalu, karena mereka umumnya masih berada di dalam sekolah atau berada di dalam rumah sepulang sekolah.

Seperti dikutip dari Kompas.id, Zahwa (9), murid SDN Sukamaju 1, masih merasa trauma dengan kejadian gempa yang menimpanya tempatnya. Melihat bangunan yang roboh akibat gempa, mengingatkannya pada gempa yang ia rasakan. Takut. Enggak mau sekolah," katanya.

Sementara itu, Neng Nesa (14), siswi SMP PGRI Cugenang, mengaku merasa tidak tenang ketika tidur karena khawatir dengan gempa susulan sudah terjadi beberapa kali di tempatnya. "Sedih sekarang tidak punya apa-apa, tidur di tenda, makan seadanya. Kenangan di rumah enggak ada karena rumah hancur," katanya.

BNPB juga mencatat, ada 2.043 orang luka dan lebih dari 61.000 warga mengungsi. Sebanyak 40 orang hilang. Ada 56.000 rumah rusak dengan 22.000 unit di antaranya rusak berat.

Senada dengan data di atas, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan berdasarkan catatannya, kelompok yang rentan terdampak saat terjadi bencana khususnya gempa bumi adalah anak-anak dan warga lanjut usia (lansia).

"Ketika gempa terjadi siang biasanya banyak korban adalah anak-anak karena mereka sedang di dalam gedung sekolah. Lain hal ketika mereka bermain di luar sore hari, justru biasanya warga lansia terdampak parah karena berada di dalam rumah. Adapun ketika kejadian gempanya malam, korban berasal dari semua kelompok usia," kata Abdul.

Kondisi ini membuat prihatin kita semua, dalam pandangan penulis, upaya penanganan gempa dengan pemberian sumbangan berupa makanan, tenda, dan dana bantuan lainnya, perlu dibarengi dengan upaya terapi trauma healing pasca gempa. Apalagi, yang banyak menjadi korban adalah kelompok rentan seperti anak-anak.

Seperti yang dilakukan oleh Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) bersama lembaga Save Our Children, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Yayasan Pulih, dan UNJANI yang tergabung dalam tim penjangkau yang bertugas menangani trauma kelompok rentan di sejumlah lokasi pengungsian.

Penyembuhan psikologis kepada korban gempa membutuhkan waktu yang tidak singkat, perlu dukungan lingkungan yang baik di sekitarnya. Metode terapi trauma healing dilakukan dengan melakukan pelepasan sejenak seperti berteriak bernyanyi, mengunjungi tempat wisata, dan kegiatan lainnya. Sehingga bisa melepaskan persoalan sejenak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun