Fuad Saputra
Fuad Saputra Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Alumnus Pesantren Imam Syafi'i, Aceh Besar, Aceh. Asal Bireuen Aceh.

Selanjutnya

Tutup

Esport

Mencaci Piala Presiden E-Sport 2019

5 Februari 2019   12:54 Diperbarui: 5 Februari 2019   13:23 51 1 1
Mencaci Piala Presiden E-Sport 2019
Sumber: tribunnews.com

Kabar pelenggaraan turnamen piala presiden e-sport 2019 membelah masyarakat jadi dua kubu utama. Cebong dan kampret, dan cuma dua kubu ini yang kuat. Kubu pendukung paslon capres 10, Dildo terlihat tidak ikut meributkan hal sepele ini. Gak penting.

Saya kadang sampai ke taraf memuakkan melihat saling adu bacot tentang hal ini diberbagai lini medsos. Isinya saling hina, dan menyalahkan. Yang kubu satu begitu menyambut gembira turnamen ini, yang satu sibuk bilang pencitraan.

Oke saya akan mencoba netral.

Menurut saya, hal pertama yang perlu dilihat dari turnamen ini adalah relevansi. Saya melepas soal ini merupakan metode kampanye paslon 01 mencoba menarik minat millenial, sesuai yang sering dituduhkan. Kalau memang gak kuat lihat metode kampanye ini, timses paslon 02 bisa aja bikin turnamen yang sama, saya yakin yang ikut tetap banyak, yang penting ada hadiahnya.

Kembali ke relevansi, ada beberapa hal mengapa turnamen layak diselenggarakan terlepas diwaktu yang kurang tepat. Pertama pergeseran fungsi game, dulu setiap pemain game (baca:gamer) hanya bermain untuk hiburan semata. Sekarang tidak lagi, gamer menjadi profesi. Ya menjadi tempat mencari nafkah yang baru.

Kita mungkin kenal banyak tim-tim gaming macam Evos  dan lain sebagainya Mereka bekerja dengan bermain game. Ketika hal ini terjadi, yang paling dibutuhkan adalah turnamen agar jari mereka tetap mampu bergerak, dan makan, agar perut tetap terisi.

Bahkan ada sebagian turnamen menyiapkan hadiah besar, atau gengsi kejuaraan yang besar. Seperti yang ditawarkan pada Piala Presiden E-sport. 

Ada banyak dampak yang dihasilkan, bagi para gamer, piala presiden ini memberi keistimewaan, yang akan berdampak pada pemasukan mereka, baik itu dari hadiah. Atau pun dari sponsor.

Kedua, pola pikir suka-suka ndasnya. Kubu-kubu yang tercipta masih tersekat dalam pemikiran asal paslonku menang, semua dikaitkan ke politik praktis. Ikut turnamen piala presiden maka anda jokower, bila nolak anda probower. Dangkal sekali. Padahal kalau dilihat lebih jauh ada alasan yang lebih masuk akal. Saya yakin banyak diantara kita tau, tapi karena pilihan kita menolak alasan rasional.

Saya menulis ini bukan dalam bentuk mendukung paslon 01, pun ketika pilres nanti kemungkinan besar saya tidak bisa memilih. Saya hanya ingin mengedepankan akal sehat, sampai titik ini saya melihat turnamen masih memiliki alasan yang cukup layak. Alih-alih dicaci, bukankah lebih diapresiasi. 

Anggap aja, turnamen ini sedang membuka lahan perkerjaan kreatif. Semakin maju perkerjaan tidak melulu kantoran, atau menjadi PNS. Jadi gamer juga pekerjaan yang menggiurkan, tuntut lahan perkerjaan tapi kok gak mau kreatif?