Mohon tunggu...
A. Jauhar Fuad
A. Jauhar Fuad Mohon Tunggu...

Belajar dan belajar

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Metode Pembelajaran Membaca Al Qur’an

7 Juni 2014   15:52 Diperbarui: 20 Juni 2015   04:51 26428 0 0 Mohon Tunggu...

1.Metode Qiraati

Belajar adalah sebagai suatu proses di mana seorang berubah perilakuknya akibat pengalaman (Gagne, 1985). Pengalaman dapat diperoleh melalui proses belajar, dengan mengamati, melakukan, memikirkan dan merefleksikan. Pengalaman akan menjadi pengetahuan. Demikian pula dengan pengetahuan Al Qur’an diperoleh dengan cara yang sama. Membaca Al Qur’an merupakan bagian dari pengetahuan Al Qur’an, diperoleh dengan cara belajar, sehingga tidak ada orang yang otomatis bisa, dalam belajar diperlukan waktu, tenaga dan biaya (Hidayatullah, 1994).

Banyak ditemukan metode pembelajaran membaca Al Qur’an mulai dari al-Baghdadi, Qiraati, al-Barqi, Iqro’, Insani, Tartila dan lainnya, yang dapat mempermudah pebelajar membaca Al Qur’an dengan cepat. Cepat yang dimaksud yaitu cepat membaca huruf Al Qur’an dengan menggunakan metode Qiraati.

Metode Qiraati adalah suatu model dalam belajar membaca Al Qur’an yang secara langsung (tanpa dieja) dan menggunakan atau menerapkan pembiasaan membaca tartil sesuai dengan kaidah tajwid (Zarkasiy, 1989). Ada dua hal yang mendasari dari definisi metode Qiraati, yaitu membaca Al Qur’an secara langsung dan pembiasaan dalam membaca tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Membaca Al Qur’an secara langsung atau tanpa dieja, maksudnya adalah huruf yang ditulis dalam bahasa Arab dibaca secara langsung tanpa diuraikan cara melafalkannya (Supardi, 2004). Pembelajaran membaca Al Qur’an dengan menggunakan metode Qiraati pembelajaran menggunakan kalimat yang sederhana, sesuai dengan kebutuhan dan tingkat materi. Target utama dari metode Qiraati pebelajar dapat secara langsung mempraktekan bacaan-bacaan Al Qur’an secara bertajwid.

Metode Qiraati telah banyak mengantarkan para pebelajar untuk dapat secara cepat mampu membaca Al Qur’an secara bertajwid. Diakui bahwa tujuan utama metode Qiraati bukan semata-mata menjadikan para pebelajar bisa membaca Al Qur’an dengan cepat dan singkat melainkan untuk menjadikan para pebelajar dapat membaca Al Qur’an secara baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Ukuran standar kemampuan pebelajar yaitu para pebelajar mampu membaca Al Qur’an dengan lancar dan benar dan tidak memberi kepada pebelajar yang bisa membaca tetapi tidak lancar. Implikasi dari sistem itu bahwa lama masa belajar tidak dapat ditentukan dan ditarget tergantung dari semangat, kemauan, dan kepatuhan pebelajar kepada bimbingan pembelajar.

a.Prinsip-prinsip Dasar Pembelajaran Metode Qiraati

Seperti uraian sebelumnya metode Qiraati merupakan bagian dari metode sintesis (tharikah tharkibiyah) khususnya yang terkait erat dengan sistem fenomena (Supardi, 2004). Metode Qiraati dalam pembelajaran di mulai dengan pengenalan lambang atau bunyi huruf kepada pebelajar, selanjutnya dengan merangkai kata menjadi kalimat sehingga dapat dengan lancar membaca Al Qur’an. Prinsip-prinsip dasar metode Qiraati adalah:

1.Praktis dan Sederhada

Artinya lansung (tanpa dieja atau diuraikan) sebagai contoh: bila A-Ba (أَ بَ ) tidak dieja alif fatha A ba’ fatha B =A-Ba (أَ بَ ) dan tidak juga dibaca Aa-Baa. Secara kuantitatif jumlah kata yang digunakan bila dibaca secara langsung jauh lebih sedikit daripada jumlah suku kata yang digunakan dengan dieja atau diuraikan.

Kalimat yang dipakai harus sederhana, menunjuk pada realitas bentuk tulisan teks yang akan dibaca atau menghindari kalimat yang bersifat teoritik atau deskriptif. Gunakan kalimat: perhatikan ini! Bunyinya “ بَ ” (Ba), jangan mengatakan “yang bentuknya begini”, seperti ini bunyinya adalah “بَ ” untuk membedakan antar huruf“بَ تَ ثَ”cukup membedakan perhatikan titiknya ini, “ بَ” atau “ تَ ” atau ini “ ثَ”.

Mengajarkan bentuk huruf yang bersambung atau bergandeng, tidak diperkenankan mangatakan “ini huruf di depan, ini di tengah dan ini di belakang” katakan saja ini sama bunyinya. Apabila satu huruf bisa berubah bentuknya seperti “جَا, كَا” maka katakan “ جَ, كَ ” memiliki bentuk yang beragam dan dibaca dengan cara yang sama.

Anak usia (7-11 tahun) menurut Piaget sebagai masa operasional konkrit (Slavin, 1994). Artinya di dalam proses pembelajaran, materi pelajaraan yang di sampaikan diusahakan dengan bahasa yang sesederhana mungkin, tidak menggunakan uraian kalimat yang panjang karena pada masa itu kemampuan verbal pebelajar masih terbatas pada hal-hal yang nyata (konkrit).

Menurut teori kognitif, dengan kata-kata yang diuraikan, pebelajar akan mengalami kesulitan dalam menangkap informasi yang disampaikan. Banyaknya informasi, menyulitankan pebelajar dalam menangkap informasi mana yang penting dan kurang penting, sehingga lebih banyak informasi itu terbuang (Slavin, 1994). Dengan demikian, proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan singkat bagi pebelajar akan lebih efektif bila dibandikan dengan menggunakan kata-kata yang diuraikan. Teori belajar kognitif memusatkan perhatian pada struktur-struktur dan prinsip-prinsip kognitif yang bertindak sebagai jembatan antara stimuli pembelajar dan respon-respon pebelajar. Pembelajar dipandang sebagai pengkonstruksi makna dari pembelajaran, bukan makan yang terletak secara terpisah dalam pembelajaran (Setyosari, 2001).

2)Sedikit Demi Sedikit

Pembelajaran dengan menggunakan metode Qiraati dilakukan dengan santai dan tidak tergesa-gesa untuk melanjutkan pada bagian lain. Pebelajar dapat diperkenankan untuk menambah materi pada pembelajaran berikutnya bila sudah bisa membaca dengan lancar dan bertajwid. Demikian pula halnya dengan mengajarkan materi utama maupun materi tambahan seperti mengajarkan materi menghafal surat Al Fatihah, dilakukan dengan sedikit demi sedikit, dan tidak mengajarkannya secara utuh. Tambahan materi diberikan jika telah manghafal dengan secara baik materi yang diberikan. Demikian seterusnya, sehingga surat-surat pendek dihafal dan anak mampu membaca Al Qur’an dengan bertajwid.

Berikan materi Qiraati sesuai kemampuan pebelajar, apabila pebelajar hanya mampu satu halaman sehari bahkan kurang dari itu maka janganlah dipaksa, demikian pula bagi para pebelajar yang mampu beberapa halaman setiap harinya, maka sebaiknya diberikan motivasi dan tetap dibimbing sebagai wujud menghargai kemampuannya. Menurut Carroll (dalam Winkel, 1999), kemampuan pebelajar dipandang sebagai ukuran kecepatan dalam belajar, yaitu jumlah waktu yang diperlukan oleh pebelajar untuk sampai pada tingkat pengusaan atau tingkat keberhasilan tertentu. Dengan demikian, pebelajar yang pandai akan menguasai pelajaran dalam waktu yang lebih singkat, dibandingkan dengan pebelajar yang tidak begitu pandai, pebelajar yang lebih cerdas memerlukan waktu yang lebih sedikit, jika dibandingkan dengan pebelajar yang kurang pandai memerlukan waktu yang lebih lama untuk menguasai materi pelajaran yang sama.

Setiap pebelajar dipandang mampu untuk menguasai materi pelajaran secara memuaskan, asal disediakan waktu yang cukup baginya, perbedaan kemampuan antara pebelajar, diukur menurut waktu yang deperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Namun, pebelajar yang tidak sepenuhnya menggunakan waktu yang disediakan dan tidak belajar dengan sungguh-sungguh selama waktu yang disedikan juga tidak akan mencapai tingkat penguasaan yang diharapkan. Dengan demikian, tingkat penguasaan dalam belajar bergantung baik pada jumlah waktu yang disedikan, maupun juga pada jumlah waktu yang sebenarnya digunakan untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

3)Bimbing dan Arahkan

Seorang pembelajar cukup mengulangi berkali-kali contoh di atas pada setiap bab, tidak menuntut membaca pada bagian latihan di bawahnya, sehingga anak mampu membaca sendiri setiap bab yang telah diajarkan. Metode ini menjadikan anak-anak betul-betul paham dengan pelajaran yang tidak dihafal. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain, belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri. Belajar menyangkut apa yang harus dikerjakan pebelajar untuk dirinya sendiri, maka inisiatif belajar harus datang dari dirinya sendiri. Pembelajar sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewey dalam Devies, 1987).

Pengetahuan dibentuk oleh individu, yakni melalui proses interaksi antara pebelajar dengan lingkungannya, dengan adanya interaksi itu pengetahuan terus berkembang (Piaget dalam Dimyati dan Mujiono, 1994). Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang aktif, jiwa mengelola informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan trasformasi (Gage dan Berliner 1984). Anak memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu mencari sesuatu. Pembelajaran membaca Al Qur’an dengan metode Qiraati lebih bersifat mengarahkan dan membimbing, pebelajar untuk aktif, kreatif dalam belajar membaca Al Qur’an, sehingga tidak dibenarkan dalam membaca Al Qur’an pembelajar membacakan semua tulisan yang ada pada setiap halamannya, pembelajar hanya menegur dan memperbaiki bacaan pebelajar yang salah.

4)Memberi Rangsangan untuk Saling Berpacu

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa mengajarkan membaca Al Qur’an dengan metode Qiraati kepada anak tidak boleh dipaksakan, apalagi dengan cara keras, sehingga daya nalar dan kreativitas anak mati. Anak belajar membaca Al Qur’an karena termotivasi oleh kebutuhan, dorongan, dan tujuan.

Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang ia miliki dengan yang ia harapkan; dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan atau pencapaian tujuan; tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu (Siagian, 1989). Keinginan untuk dapat membaca Al Qur’an dengan benar. Cara tepat diterapkan dengan membiasakan berkompetisi dalam kelas, sebab kompetisi yang sehat dapat mencerdaskan anak, sehingga metode Qiraati dibentuk dengan berjilid, apabila anak naik tingkat maka secara otomatis temannya akan bersemangat dan termotivasi. Pembelajaran yang bertujuan menumbuhkan motivasi belajar pebelajar diantaranya evaluasi harus sering diselenggarkan, baik sifatnya harian, per pokok bahasan, per jilid, serta mengadung perbadingan dengan pebelajar yang lain (Winkel, 1999).

5)Waspada dengan Bacaan Salah

Lupa menjadi sebuah kebiasaan bagi setiap orang apalagi anak yang sedang belajar, maka dalam pembelajaran membaca Al Qur’an dengan metode Qiraati lupa bukan sesuatu hal yang perlu dirisaukan atau bahkan dianggap remeh. Kebiasaan lupa merupakan kebiasaan yang harus diingatkan tidak kemudian dibiarkan, sehingga menyebabkan kebiasaan selalu salah dalam membaca. Supaya kebiasaan salah tidak berkelanjutan dalam proses pembelajaran, maka perlu diantisipasi dengan mewaspadai jangan sampai membiarkan pebelajar membaca salah, menegur langsung tidak menunggu waktu sampai akhir ayat atau akhir bacaan.

Kegiatan belajar diperlukan motivasi dari pembelajar dan usaha-usaha tentang cara belajar efektif agar kesalahan dan lupa dapat dikurangi oleh pebelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tes secara berkala dan kontinyu, serta memberikan umpan balik kepada pebelajar mengenai keberhasilan atau kegagalan saat itu juga. Pebelajar yang ternyata belum menguasai bahan tertentu, harus melakukan usaha-usaha perbaikan program pembelajaran, perbaikan dapat terlaksana melalui pengajaran kembali kepada kelompok yang belum menguasai, melalui pembelajaran remedial secara individu (Winkel, 1999). Dengan langkah semacam ini secara otomatis pebelajar akan melakukan persiapan belajar sebelum proses pembelajaran, dan pebelajar akan lebih konsentrasi dalam belajar, karena kurang konsentrasi dapat menyebabkan lupa dan salah dalam belajar. Lupa dan salah mengharuskan pebelajar mengulang pada materi yang sama, dan tertinggal oleh pebelajar lain.

b.Kelebihan Buku Qiraati Jilid 1-6

Jilid 1-6 merupakan rangkaian materi yang dijadikan pelajaran pada metode Qiraati, memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode lain, yaitu:

1.Sistematis (materi yang disampaikan dimulai dari yang paling mudah).

·Jilid 1, pembelajaran di awali dengan pengenalan huruf-huruf berharakat fathah ( َ), dari huruf Alif ( ا )sampai Ya ( ي ), dan huruf-huruf mulai dirangkai, misalnya: pada halaman pertama A-Ba ( اَبَ ) dan halaman terakhir Sahada ( سَحَدَ ), membaca tidak boleh terputus-putus.

·Jilid 2, pebelajar dikenalkan dengan harakat dhamah ( ُ), kasrah ( ِ), tanwin ( ًٌٍ )dan bacaan panjang). misalnya: Saiigatan ( سَئِيْغََةً ) dan Faa’la ( فَاعَلَ ).

·Jilid 3, pebelajar ditekankan dalam kesetabilan membaca panjang, pebelajara mulai dikenalkan dengan harakat sukun ( ْ), misalnya:Mariidhaa (مَرِيْضَا ), Qadiiri ( قَدِيْرِ )

·Jilid 4, pebelajar dikenalkan bacaan dengung (ikhfa), tasydid, danbacaan panjang (6 harakat), misalnya: bacaan ikhfa (اَنْجَيْنَاكُمْ ), bacaan tasydid (مَاءًثَجَّاجًا ), bacaan panjang 6 harakat (اَتُحَآجُّوْنِّيْ ).

·Jilid 5, pebelajar dikenalkan bacaan dengung (idgham), cara berhenti (waqaf), misalnya: bacaan idgham (وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ )

·Jilid 6, pebelajar dikenalkan bacaan jelas (idzhar), misalnya: (عَادٍاَخَاهُمْ )

2.Pemindahan halaman pada setiap jilid harus sesuai dengan amanah (sekalipun satu kalimat salah, belum dapat pindah halaman berikutnya).

3.Pembelajaran di kelas dilakukan selama 60 menit, yaitu: 15 menit pertama (klasikal), 30 menit(individual), 15 menit kedua (klasikal). Pembelajaran klasikal dalam metode Qiraati dilakukan dengan cara pembelajar dan pebelajar secara bersama-sama membaca alat peraga (membaca tulisan di depan disertai ketukkan secara bersama-sama, dilanjutkan membaca do’a-do’a) materi disesuikan dengan jilid masing-masing. Pembelajaran individual dalam metode Qiraati dilakukan dengan cara pebelajar membaca materi di depan pembelajar (buku Qiraati jilid 1-6), banyaknya halaman disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan hasil membaca di rumah (deres), cara ini dikenal juga dengan sistem sorogan.

c.Jenjang Pembelajaran Metode Qiraati

Pembelajaran metode Qiraati memiliki empat jenjang, yakni: (1) tingkat persiapan atau pemula; (2) tingkat dasar; (3) tingkat menengah; dan (4) madrasah tahfidul Qur’an. Pada tingkat persiapan atau permulaan pebelajar ditargetkan menyelesaikan 6 jilid buku Qiraati dan sudah mampu membaca Al Qur’an meskipun belum begitu lancar. Pada tingkat dasar, pebelajar ditargetkan mampu membaca Al Qur’an dengan lancar, paham makhrajul huruf, khatam 30 juz Al Qur’an, menguasai gharibul Qur’an dan menguasai ilmu tajwid. Pada tingkat menengah orentasi utama materi yaitu percakapan bahasa Arab sebagai awal untuk memahami kitab-kitab agama Islam, dan pendalaman terhadap kajian Al Qur’an. Adapun yang terakhir pada tingkat madrasah tahfidul Qur’an ditetapkan pada tingkat menghafal Al Qur’an, tentunya dengan jumlah pebelajar yang relatif sedikit.

2.Metode Iqro’

Metode Iqro’ adalah metode pembelajaran membaca huruf-huruf hijaiyah dari permulaan dengan disertai aturan bacaan, tanpa makna dan tanpa lagu dengan tujuan agar pebelajar dapat membaca Al Qur’an sesuai dengan kaidahnya (Humam, 1990). Huruf-huruf hijaiyah yang dimaksud adalah huruf Arab dimulai dari Alif ( ا ) sampai huruf Ya (ي ) yang berjumlah 30 huruf.

Metode Iqro’ disusun oleh sebuah Teim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Muslah (AMM) yang diketuai oleh ustad As’ad Humam dari Kotagede Yogyakarta pada tahun 1989. Yang melatar belakang penyususnan Metode Iqro’ adalah karena metode pembelajaran membaca Al Qur’an selama ini banyak kekurangannya (Budiyanto, 2006).

Humam (1990) dalam kata pengantar buku Iqro’, secara eksplisit tidak dikatakan bahwa buku Iqro’ dimaksud adalah sebuah metode, namun secara implisit penyusun mengatakan bahwa buku Iqro’ adalah metode pembelajaran membaca Al Qur’an. Penyususun berusaha mencari metode yang ideal dalam membaca Al Qur’an dan buku Iqro’ merupakan sebuah metode membaca Al Qur’an (Supriyadi, 1997). Menurut Mackey (1965 dalam Supriyadi, 1997) buku Iqro’ dapat disebut sebagai metode pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Arab. Dikatakan sebuah metode, karena buku Iqro’ sudahmencakup yang dipersyaratkan Mackey yaitu: seleksi (selection), gradasi (gradation), presentasi (presentation), dan repetisi (repetition).

a.Prinsip-prinsip Metode Iqro’

Buku Iqro’ ini terbukti telah sanggup mengantarkan anak-anak usia TK, sampai orang tua (usia lanjut) mampu membaca Al Qur’an dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara lama (Baghdadiyah) (Anwar, 1993; Safi’i, 1993 dan Budiyanto, 1995). Fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa buku Iqro’ disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1)At-thariqah As-shoutiyah

Langsung dibaca atau langsung diajarkan menurut bunyi suaranya. Maka Alif bukan dijabarkan namanya ini huruf’Alif’melainkan diajarkan bunyi suaranya ’a’ bagi yang bertanda fathah, i’ bagi yang bertanda kasrah dan ’u’ bagi yang bertada dhamah (Budiyanto, 1995).Pebelajar dapat membaca bunyi huruf hijaiyah, karena menekankan sistem membaca langsung atau membaca huruf yang sudah diberi tanda baca. Pebelajar dapat membaca huruf Al Qur’an secara langsung, dengan tidak diuraikan atau dieja.

Ditinjau dari segi psikologi belajar, nampaknya At-thariqah As-shoutiyah lebih mudah dilakukan anak-anak, karena proses berfikir yang lebih sederhana, lebih singkat dan mengurangi verbalitas. Membaca secara langsung susunan kata yang diperlukan menjadi lebih sedikit dan sederhana, dan mempermudah pebelajar dalam mengucapkannya. Hal ini tidak membingungkan bagi pebelajar, khususnya pada tingkat pemula, terutama anak-anak. Menurut Piaget, pada masa operasional konkrit, diusahakan pembelajaran dilangsungkan sesederhana mungkin, agar mempermudah pebelajar di dalam menangkap materi pelajaran.

2)At-thariqah Tadaruj

Berangsur-angsur, TKA/TPA ini masuk 6 kali dalam 1 minggu, tiap kali masuk memakan waktu 60 menit, diperuntukkan: pembukaan, 05 menit (salam dan do’a); klasikal I, 10 menit (hafalan); privat, 30 menit (belajar buku Iqro’); klasikal II, 10 menit (bermain, cerita dan menyanyi); penutup, 05 menit (do’a dan salam). Pembagian waktu di atas dapat diketahui bahwa untuk pelajaran membaca (belajar membaca Iqro’ jilid 1-6) dilakukan secara privat, artinya tiap pebelajar dihadapi oleh seorang pembelajar. Masing-masing pebelajar mendapatkan jatah waktu antara 5-10 menit untuk belajar Iqro’ dengan seorang pembelajar, dengan cara bergantian. Dengan demikian waktu untuk belajar membaca tidak lebih dari 10 menit tiap kali pertemuan. Waktu 10 menit adalah waktu maksimal daya konsentarsi anak usia TK (Budiyanto, 1995).

Karena prinsip yang berangsur-angsur tersebut di atas, maka anak usia TK akan dapat mempelajari buku Iqro’ ini dengan pelan-pelan bertahap dan tanpa ada perasaan tertekan. Lebih-lebih bila melihat bahwa buku Iqro’ disusun dalam buku kecil yang tipis dengan sampul yang warna-warni, maka bukan perasaan tertekan dalam diri anak tetapi justru tumbuh perasaan sense of success.

3)At-thariqah Riyadlotuil Athfal

Riyadlotuil Athfal adalah suatu prinsip dalam pembelajaran yang diutamakan belajar dari pada mengajar (Budiyanto, 1995), atau dengan perkataan lain pembelajaran yang menekankan keaktifan pebelajar secara fisik, mental, intelektual dan emosional (Dimyati dan Mujiono, 1994). Pembelajaran semacam itu dimaksudkan untuk memperoleh hasil belajar, yang merupakan perpaduan tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, jika disandarkan pada taksonomi Bloom.

Prinsip ini memang sangat pentingkan, dalam pembelajaran buku Iqro’ seorang pembelajar hanya diperkenankan menerangkan dan memberikan contoh bacaan yang tercantum dalam pokok bahasan, sedangkan bacaan pada lembar kerja yang digunakan sebagai latihan pebelajar, pembelajar tidak boleh ikut membacakan atau menuntunnya. Pebelajarlah yang dituntut untuk aktif membacanya, dan pembelajar hanya bertugas menyimak dan memberi motivasi, koreksi dan komentar-komentar seperlunya.

Pembelajar tidak lagi diperkenankan memberikan contoh dalam setiap halamannya, sehingga pebelajar dibiarkan membaca sendiri di bawah bimbingan pembelajar. Kalau ada kesalahan pembelajar, cukup dengan mengingatkan misalnya; “eee…iss. ” dan lain sebagainya, tidak diperkenankan untuk membacakan. Apabila pebelajar membaca benar beri motivasi misalnya; “betul”, “terus”, “he-eh” dan lain sebagainya.

4)At-Tawassui Fi-lmaqaasid Lafil Alat

At-Tawassui Fi-lmaqaasid Lafil Alat adalah pembelajaran berorentasi pada tujuan, bukan kepada alat yang dipergunakan untuk mecapai tujuan itu. Dengan demikian yang dipentingkan adalah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.

Kaitanya dengan pembelajaran membaca Al Qur’an, tujuan yang hendak dicapai adalah ”pebelajar bisa membaca Al Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid yang ada.” Mengenai kemampuan mengenal nama-nama huruf, kemampuan mengeja, mengetahui ilmu tajwid adalah termasuk alat untuk tercapainya tujuan tersebut. Untuk itu, penguasaan pebelajar terhadap alat cukup sekedarnya saja (Budiyanto, 1995).

Tujuan pembelajaran itu dapat tercapai dengan melakukan latihan-latihan membaca. Dengan banyak latihan akan memperkuat retensi pebelajar (Degeng, 1988). Pembelajaran membaca Al Qur’an dapat tercapai dengan baik dengan cara melakukan latihan-latihan membaca. Latihan ini dimaksud untuk memberikan penguatan. Pembelajaran membaca dengan latihan-latihan dikenal dengan metode assosiasi atau pengulangan

yang dimaksudkan untuk memperkuat tanggapan pebelajar (Herbart dalam Rohmat, 1995). Lebih lanjut menurut Zuhairini (1983) dalam pembelajaran pendidikan agama Islam metode pengulangan dipakai untuk melatih dalam pembelajaran membaca Al Qur’an. Wirjodijoyo (1989) mengatakan bahwa latihan-latihan penguatan yang masing-masing menyumbang pada penguasaan belajar, secara rinci dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu: (1) latihan intensif: latihan keaktifan yang segera mengikuti pembelajaran dan digunakan untuk mengurangi kemungkinan kehilangan ingatan dengan segera; dan 2) latihan teraturan: keaktifan yang dilakukan secara berkala untuk menjamin apa yang dipelajari pebelajar tetap dikuasai.

5)At-Thariqah Bimuraa-a’til Listi’daadi Wal-thabiiy

Pembelajaran itu haruslah memperhatikan kesiapan, kematangan, potensi-potensi dan watak pebelajar. Pembelajaran yang tidak memperhatikan masalah ini akan menjadi pemaksaan yang bisa mengakibatkan berantakannya usaha pembelajaran secara keseluruhan. Pemaksaan ini bisa terjadi kalau peserta didik belum siap menerima suatu materi pembelajaran, karena belum menguasai materi-materi yang menjadi prasyarat bagi materi yang baru (Budiyanto, 1995).

Prinsip buku Iqro’ ini nampak pada sistem penyusunannya. Oleh penyusunnya, nampak sekali buku Iqro’ ini telah diperhitungkan dengan cermat, sehingga tidak terjadi loncatan-loncatan yang tidak sistematis. Buku jilid 1 merupakan prasyarat bagi jilid 2, dan jilid 2 merupakan prasyarat bagi jilid 3 dan seterusnya. Setiap pebelajar harus tunduk mengikuti tertib jilil yang telah ditentukan, tidak boleh meloncat-loncat (Budiyanto, 1995).

b.Kelebihan Buku Iqro’

Kelebihan buku Iqro’ jilid 1-6 adalah sebagai berikut:

1.Adapun klasifikasi dalam tiap jilidnya buku Iqro’.






    • Jilid 1, disajikan kepada pebelajar yang sama sekali belum mengenal huruf hijaiyah, membaca secara langsung huruf Alif ( ا) sampai huruf Ya (ي ). Pebelajar membedakan huruf-huruf yang memiliki persamaan makhrajul hurufnya, seperti Alif (ا ) dengan ‘A ( ع), Ha( ح ) dengan Ha ( ه ), Ja ( ج ) dengan Za ( ز ), Sa ( س ) dengan Sod( ص ), Da ( د ) dengan Dza ( ذ) dan lainnya.
    • Jilid 2, pebelajar mulai menyempurnakan bacaan. Pebelajar bisa membaca huruf-huruf sambung, misalnya; kalimat Kajada ( كَجَدَ ), pembelajar tidak perlu menjelaskan, ini Ka ( كَ) di muka, ini Ja ( جَ ) di tengah, dan seterusnya. Pebelajar diajarkan hukum bacaan mad/panjangfathah bertemu ِِِِAlif ( َ -ا).
    • Jilid 3,pebelajar sudah diperkenalkan harakat kasrah ( ِ), dhamah( ُ), dan sukun ( ْ), dengan jumlah huruf dalam setiap katanya lebih dari tiga, dan pebelajar mulai diperkenalkan dengan bacaan mad/panjang, kasrah bertemu dengan Ya sukun ( ِ - يْ ) dan dhamah bertemu dengan Wawu sukun (ُ -وْ ).
    • Jilid 4,pebelajar sudah diperkenalkan dengan harakat tanwin ( ًٌٍ ), misalnya: lafal Hasyiman ( هَشِيْمًا ), Baqaratin ( بَقَرَةٍ ) dan Samii’un (سَمِيْعٌ ). Pebelajar sudah diperkenalkan dan cara mengucapkah huruf-huruf qalqalah.
    • Jilid 5 pebelajar diperkenalkan bacaan Alif-lam qamariyah, tanda wakaf, mad far’i, alif lam samsiyah, lafal jalalah, dan idgham.
    • Jilid 6, pebelajar tidak mengenal istilah-istilah dalam ilmu Tajwid seperti; ikhfa, idhar, iqlab dan lainnya. Yang penting secara praktis pebelajar dapat membaca dengan baik dan benar. Pada jilid ini kalimatnya yang dibaca mulai panjang-panjang dan adanya sedikit cuplikan beberapa ayat Al Qur’an. Pebelajar diperkenalan tanda waqaf dan bacaan waqaf, dancara baca huruf-huruf fawatihussuwar (Budiyanto, 1995).


2.Adanya rambu-rambu penyajian materi pelajaran, seperti; “bacalah langsung A-Ba dan seterusnya”, “tidak perlu diurai/dieja”, “bacaan harus jelas beda, mana panjang mana pendek”, “keliru baca panjang-pendek adalah kesalahan besar”, “penting!”, “bedakan dengan jelas”, “coba ulangi lagi”, “biar pelan…. asal benar” “ulangi-ulangilah! Sampai tidak keliru lagi”, “maaf jangan diteruskan dulu!, bila masih keliru panjang pendeknya”, “walau lancar tapi tak benar jangan dilanjutkan”, “ulangi sampai betul semua” dan lain sebagainya. Hal ini mendorong perhatian pebelajar dalam belajar, dan juga menjadi perhatian pula bagi pembelajar, agar lebih teliti dan perhatian dalam menyimak bacaan pebelajar (Human, 2002).

3.Sistem pembelajaran dengan metode Iqro’ diawali pembukaan, 05 menit (salam dan do’a); klasikal I, 10 menit (hafalan); privat, 30 menit (belajar Iqro’); klasikal II, 10 menit (bermain cerita dan menyayi); penutup, 05 menit (do’a dan salam).

Pembelajaran metode Iqro’ dilangsungkan dengan cara privasi (pembelajaran individual) (Taringan, 1989). Pembelajar mendengarkan satu persatu bacaan pebelajar, dengan demikian apabila jumlah pebelajar sangat banyak, maka pebelajar yang lebih tinggi tingkatnya diperkenakan untuk membantu pembelajar dengan menyimak bacaan pebelajar lain.

Pembelajaran dengan mengunakan metode Iqro’ dianjurkan pelan-pelan dengan bacaan terputus-putus pada setiap hurufnya. Ada penekanan dalam membaca setiap hurufnya agar lebih fasih (Humam, 2000). Cara membaca dapat dilakukan dengan cara kelompok agar lebih semarak, dan dapat menumbuhkan semangat bagi pebelajar.

c.Jenjang Pembelajaran Metode Iqro’

Pembelajaran menurut metode Iqro’ memiliki delapan jenjang, yakni: (1) TKA/TPA; (2) TKAL/TPAL; (3) TQA; (4) kursus tartil Qur’an; (5)keterpaduan BKB-TKA/TPA; (6) Iqro’ klasikal di sekolah; (7) diklat ustadz; (8) kursus seni baca Al Qur’an. Untuk pembelajaran ilmu tajwid ada pada jenjang TKAL/TPAL.

Tingkat TKA/TPA, pebelajar ditargetkan menyelesaikan 6 jilid buku Iqro’. Pada tahap TKAL/TPAL, pebelajar sudah mampu membaca Al Qur’an dengan benar dan lancar (sesuai dengan kaidah tajwid). Pada tingkat TQA, pebelajar ditargetkan mampu membaca Al Qur’an dengan benar dan lancar dan memahami isi Al Qur’an dan mengamalkannya. Kursus tartil Al Qur’an, menyiapkan para ustadz, da’i, imam, khatib dan sebagainya. Keterpaduan BKB adalah mempersiapkan ibu-ibu untuk dapat mendidik anak-anaknya sendiri dalam membaca Al Qur’an. Iqro’ klasikal di sekolah, bermaksud menerapkan buku Iqro’ di sekolah formal. Diklat ustadz, dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas para pembelajar/ustadz. Kursus seni baca Al Qur’an, mencetak Qori/Qori’ah berkualitas, mantap serta memiliki dasar-dasar ilmu seni baca Al Qur’an (Budiyanto., dkk, 2003).

Daftar Pustaka

Budiyanto, M, dkk. 2003. Ringkasan Pengelolaan, Pembinaan dan Pengembangan Gerakan Membaca, Menulis, Memahami, Mengamalkan dan Memasyarakatkan Al Qur’an. Yogyakarta: Balitbang LPTQ Nasional dan Yayasan Team Tadarus AMM Yogyakarta.

Dimyati dan Mujiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud. DIKTI.

Gage, N.L. dan David, C.Berliner. 1984. Educational Psychology. Chicago: Rand Mc. Nally College Publishing Compony.

Gagne, R.M. 1985. The Conditions of Learning and Theory of Instruction, Fourth edition. New York: Holt Rinehaert and Winston.

Hidayatullah. 1994. Mutiara al-Qur’an. Edisi II tahun IV, Maret.

Humam, A. 2000. Cara Cepat Membaca Al Qur’an. Yogyakarta: Balai Litbang LPTQ Nasional dan Team Tadarus AMM

Setyosari. P. 2001. Rancangan Pembelajaran Teori dan Praktis. Malang: Elang Mas.

Siagian, S.P. 1989. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Bina Aksara.

Slavin, R. 1997. Educational Psychology: Theory and Practice. Allyn and Bocon.

Supardi. 2004. Perbandingan Membaca Al-Qur’an bagi Pebelajar Pemula di TKA/TPQ Masjid Quba dan Masjid al-Amin Burengan Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: PPS UM.

Tarigan, H.G. 1989. Metode Pengajaran Bahasa: Suatu Penelitian Kepustakaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan P2LPTK.

Winkel, W.S. 1999. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Zarkasiy, D.S. 1989. Pelajaran Ilmu Tajwid Praktis. Semarang: Yayasan Pendidikan al-Qur’an Raudatul Mujawwidin.






[1] Disampaikan dalam pelatihan guru TPA/TPQ di Sendangbumen Berebek Nganjuk, 7 Juni 2014.




VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x